Sunday, October 30, 2011

Generasi Meninggalkan Shalat & Mengikuti Syahwat


Perkongsian teks khutbah dari eramuslim.com
Ust Hartono Ahmad Jaiz
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, pada kesempatan yang insya Allah diberkahi Allah ini akan kami kemukakan tentang generasi meninggalkan shalat dan mengikuti syahwat.
Allah Ta’ala berfirman:
أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آَدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا (58) فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا (60) جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا (61) لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا [مريم/58-62]
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memper-turutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun." (terjemah QS. Maryam: 58-60).
Ibnu Katsir menjelaskan, generasi yang adhoo’ush sholaat itu, kalau mereka sudah menyia-nyiakan sholat, maka pasti mereka lebih menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu adalah tiang agama dan pilarnya, dan sebaik-baik perbuatan hamba. Dan akan tambah lagi (keburukan mereka) dengan mengikuti syahwat dunia dan kelezatannya, senang dengan kehidupan dan kenikmatan dunia. Maka mereka itu akan menemui kesesatan, artinya kerugian di hari qiyamat.
Adapun maksud lafazh Adho’us sholaat ini, menurut Ibnu Katsir, ada beberapa pendapat. Ada orang-orang yang berpendapat bahwa adho'us sholaat itu meninggalkan sholat secara keseluruhan (tarkuhaa bilkulliyyah). Itu adalah pendapat yang dikatakan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi, Ibnu Zaid bin Aslam, As-Suddi, dan pendapat itulah yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Pendapat inilah yang menjadi pendapat sebagian orang salaf dan para imam seperti yang masyhur dari Imam Ahmad, dan satu pendapat dari As-Syafi’i sampai ke pengkafiran orang yang meninggalkan shalat (tarikus sholah) setelah ditegakkan, iqamatul hujjah (penjelasan dalil), berdasarkan Hadits:
بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلاَةِ (رواه مسلم في صحيحه برقم: 82 من حديث جابر).
“(Perbedaan) antara hamba dan kemusyrikan itu adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim dalam kitab Shohihnya nomor 82 dari hadits Jabir).
Dan Hadits lainnya:
الْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. (رواه الترمذي رقم 2621 والنسائ 1/231 ،وقال الترمذي :هذا حديث حسن صحيح غريب).
"Batas yang ada di antara kami dan mereka adalah sholat, maka barangsiapa meninggalkannya, sungguh-sungguh ia telah kafir.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Sunannya nomor 2621dan An-Nasaai dalam Sunannya 1/231, dan At-Tirmidzi berkata hadits ini hasan shohih ghorib).Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Sami As-Salamah, juz 5 hal 243).
Penuturan dalam ayat Al-Quran ini membicarakan orang-orang saleh, terpilih, bahkan nabi-nabi dengan sikap patuhnya yang amat tinggi. Mereka bersujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Namun selanjutnya, disambung dengan ayat yang memberitakan sifat-sifat generasi pengganti yang jauh berbeda, bahkan berlawanan dari sifat-sifat kepatuhan yang tinggi itu, yakni sikap generasi penerus yang menyia-nyiakan shalat dan mengumbar hawa nafsu.
Betapa menghunjamnya peringatan Allah dalam Al-Quran dengan cara menuturkan sejarah "keluarga pilihan" yang kemudian datang setelah mereka itu generasi manusia bobrok yang sangat merosot moralnya. Bobroknya akhlaq manusia dari keturunan orang yang disebut manusia pilihan, berarti merupakan tingkah yang keterlaluan.
Bisa kita bayangkan dalam kehidupan ini. Kalau ada ulama besar, saleh dan benar-benar baik, lantas keturunannya tidak bisa menyamai kebesarannya dan tak mampu mewarisi keulamaannya, maka ucapan yang pas adalah:. "Sayang, kebesaran bapaknya tidak diwarisi anak-anaknya.” Itu baru masalah mutu keilmuan nya yang merosot. Lantas, kata dan ucapan apa lagi yang bisa untuk menyayangkan bejat dan bobroknya generasi pengganti orang-orang suci dan saleh itu? Hanya ucapan “seribu kali sayang” yang mungkin bisa kita ucapkan.
Setelah kita bisa menyadari betapa tragisnya keadaan yang dituturkan Al-Quran itu, agaknya perlu juga kita bercermin di depan kaca. Melihat diri kita sendiri, dengan memperbandingkan apa yang dikisahkan Al-Quran.
Kisah ayat itu, tidak menyinggung-nyinggung orang-orang yang membangkang di saat hidupnya para Nabi pilihan Allah. Sedangkan jumlah orang yang membangkang tidak sedikit, bahkan melawan para Nabi dengan berbagai daya upaya. Ayat itu tidak menyebut orang-orang kafir, bukan berarti tidak ada orang-orang kafir. Namun dengan menyebut keluarga-keluarga pilihan itu justru merupakan pengkhususan yang lebih tajam. Di saat banyaknya orang kafir berkeliaran di bumi, saat itu ada orang-orang pilihan yang amat patuh kepada Allah. Tetapi, generasi taat ini diteruskan oleh generasi yang bobrok akhlaqnya. Ini yang jadi masalah besar.
Dalam kehidupan yang tertera dalam sejarah kita, Muslimin yang taat, di saat penjajah berkuasa, terjadi perampasan hak, kedhaliman merajalela dan sebagainya, ada tanam paksa dan sebagainya; mereka yang tetap teguh dan ta'at pada Allah itu adalah benar-benar orang pilihan. Kaum muslimin yang tetap menegakkan Islam di saat orientalis dan antek-antek penjajah menggunakan Islam sebagai sarana penjajahan, namun kaum muslimin itu tetap teguh mempertahankan Islam dan tanah airnya, tidak hanyut kepada iming-iming jabatan untuk ikut menjajah bangsanya, mereka benar-benar orang-orang pilihan.
Sekalipun tidak sama antara derajat kesalehan para Nabi yang dicontohkan dalam Al-Quran itu, dengan derajat ketaatan kaum Muslimin yang taat pada Allah di saat gencarnya penjajahan itu, namun alur peringatan ini telah mencakupnya. Dengan demikian, bisa kita fahami bahwa ayat itu mengingatkan, jangan sampai terjadi lagi apa yang telah terjadi di masa lampau. Yaitu generasi pengganti yang jelek, yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsunya.
Peringatan yang sebenarnya tajam ini perlu disebar luaskan, dihayati dan dipegang benar-benar, dengan penuh kesadaran, agar tidak terjadi apa yang telah terjadi masa lalu yaitu tragedi yang telah menimpa kaum Bani Israel, berupa generasi jelek, bobrok, meninggalkan shalat dan mengikuti syahwat.
Memberikan hak shalat
Untuk itu, kita harus mengkaji diri kita lagi. Sudahkan peringatan Allah itu kita sadari dan kita cari jalan keluarnya?
Mudah-mudahan sudah kita laksanakan. Tetapi, tentu saja bukan berarti telah selesai. Karena masalahnya harus selalu dipertahankan. Tanpa upaya mempertahankannya, kemungkinan akan lebih banyak desakan dan dorongan yang mengarah pada "adho'us sholat" (menyia-nyiakan atau meninggalkan shalat) wattaba'us syahawaat (dan mengikuti syahwat hawa nafsu).
Suatu misal, kasus nyata, bisa kita telusuri lewat pertanyaan-pertanyaan. Sudahkah kita berikan dan kita usahakan hak-hak para pekerja/ buruh, pekerja kecil, pembantu rumah tangga, penjaga rumah makan, penjaga toko dan sebagainya untuk diberi kebebasan mengerjakan shalat pada waktunya, terutama maghrib yang waktunya sempit? Berapa banyak pekerja kecil semacam itu yang terhimpit oleh peraturan majikan, tetapi kita umat Islam diam saja atau belum mampu menolong sesama muslim yang terhimpit itu?
Bahkan, dalam arena pendidikan formal, yang diselenggarakan dengan tujuan membina manusia yang bertaqwa pun, sudahkah memberi kebebasan secara baik kepada murid dan guru untuk menjalankan shalat? Sudahkah diberi sarana secara memadai di kampus-kampus dan tempat-tempat pendidikan untuk menjalankan shalat? Dan sudahkah para murid itu diberi bimbingan secara memadai untuk mampu mendirikan shalat sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam ?
Kita perlu merenungkan dan menyadari peringatan Allah dalam ayat tersebut, tentang adanya generasi yang meninggalkan shalat dan menuruti syahwat.
Ayat-ayat Al-Quran yang telah memberi peringatan dengan tegas ini mestinya kita sambut pula dengan semangat menanggulangi munculnya generasi sampah yang menyia-nyiakan shalat dan bahkan mengumbar syahwat. Dalam arti penjabaran dan pelaksanaan agama dengan amar ma'ruf nahi munkar secara konsekuen dan terus menerus, sehingga dalam hal beragama, kita akan mewariskan generasi yang benar-benar diharapkan, bukan generasi yang bobrok seperti yang telah diperingatkan dalam Al-Quran itu.
Fakir miskin, keluarga, dan mahasiswa
Dalam hubungan kemasyarakatan yang erat sekali hubungannya dengan ekonomi, terutama masalah kemiskinan, sudahkah kita memberi sumbangan sarung atau mukena/ rukuh kepada fakir miskin, agar mereka bisa tetap shalat di saat mukenanya yang satu-satunya basah ketika dicuci pada musim hujan?
Dalam urusan keluarga, sudahkah kita selalu menanya dan mengontrol anak-anak kita setiap waktu shalat, agar mereka tidak lalai?
Dalam urusan efektifitas da’wah, sudahkah kita menghidupkan jama'ah di masjid-masjid kampus pendidikan Islam: IAIN (Institut Agama Islam Negeri), UIN (Universitas Islam Negeri) ataupun STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) yang jelas-jelas mempelajari Islam itu, agar para alumninya ataupun mahasiswa yang masih belajar di sana tetap menegakkan shalat, dan tidak mengarah ke pemikiran sekuler yang nilainya sama juga dengan mengikuti syahwat?
Lebih penting lagi, sudahkah kita mengingatkan para pengurus masjid atau mushalla atau langgar untuk shalat ke masjid yang diurusinya? Bahkan sudahkah para pegawai yang kantor-kantornya di lingkungan masjid, kita ingatkan agar shalat berjama’ah di Masjid yang menjadi tempat mereka bekerja, sehingga tidak tampak lagi sosok-sosok yang tetap bertahan di meja masing-masing --bahkan sambil merokok lagi, misalnya-- saat adzan dikumandangkan?
Masih banyak lagi yang menjadi tanggung jawab kita untuk menanggulangi agar tidak terjadi generasi yang meninggalkan shalat yang disebut dalam ayat tadi.
Shalat, tali Islam yang terakhir
Peringatan yang ada di ayat tersebut masih ditambah dengan adanya penegasan dari Rasulullah, Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam
لَيَنْقُضَنَّ عُرَا اْلإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِيْ تَلِيْهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ. (رواه أحمد).
Tali-tali Islam pasti akan putus satu-persatu. Maka setiap kali putus satu tali (lalu) manusia (dengan sendirinya) bergantung dengan tali yang berikutnya. Dan tali Islam yang pertamakali putus adalah hukum(nya), sedang yang terakhir (putus) adalah shalat. (Hadits Riwayat Ahmad dari Abi Umamah menurut Adz – Dzahabir perawi Ahmad perawi).
Hadits Rasulullah itu lebih gamblang lagi, bahwa putusnya tali Islam yang terakhir adalah shalat. Selagi shalat itu masih ditegakkan oleh umat Islam, berarti masih ada tali dalam Islam itu. Sebaliknya kalau shalat sudah tidak ditegakkan, maka putuslah Islam keseluruhannya, karena shalat adalah tali yang terakhir dalam Islam.
Maka tak mengherankan kalau Allah menyebut tingkah "adho'us sholah" (menyia-nyiakan/ meninggalkan shalat) dalam ayat tersebut diucapkan pada urutan lebih dulu dibanding "ittaba'us syahawaat" (menuruti syahwat), sekalipun tingkah menuruti syahwat itu sudah merupakan puncak kebejatan moral manusia.
Dengan demikian, bisa kita fahami, betapa memuncaknya nilai jelek orang-orang yang meninggalkan shalat, karena puncak kebejatan moral berupa menuruti syahwat pun masih pada urutan belakang dibanding tingkah meninggalkan shalat.
Di mata manusia, bisa disadari betapa jahatnya orang yang mengumbar hawa nafsunya. Lantas, kalau Allah memberikan kriteria meninggalkan shalat itu lebih tinggi kejahatannya, berarti kerusakan yang amat parah. Apalagi kalau kedua-duanya, dilakukan, yaitu meninggalkan shalat, dan menuruti syahwat, sudah bisa dipastikan betapa beratnya kerusakan.
Tiada perkataan yang lebih benar daripada perkataan Allah dan Rasul-Nya. Dalam hal ini Allah dan Rasul-Nya sangat mengecam orang yang meninggalkan shalat dan menuruti syahwat. Maka marilah kita jaga diri kita dan generasi keturunan kita dari kebinasaan yang jelas-jelas diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya itu. Mudah-mudahan kita tidak termasuk mereka yang telah dan akan binasa akibat melakukan pelanggaran amat besar, yaitu meninggalkan shalat dan menuruti syahwat. Amien.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Friday, October 28, 2011

Khutbah Negeri Perak 28 Oktober 2011


*AMARAN!!! Pihak JAIPk tidak bertanggungjawab ke atas sebarang penambahan ayat selain dari kandungan khutbah yang dikeluarkan.
MENUNTUT  HAJI  MABRUR  ITU  JIHAD.
(01 Zulhijjah 1432 / 28 Oktober 2011)

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَكْمَلَ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ وَفَرَّضَ عَلَ الْمُسْتَطِيْعِ مِنْهُمْ حَجَّ بَيْتِهِ الْحَرَامِ وَرَتَّبَ عَلَيْهِ جَزِيْلَ الْفَضْلِ وَاْلاِنْعَامِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ خَرَجَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ نَقِياًّ مِنَ الذُّنُوْبِ وَاْلآثاَمِ وَذَلِكَ هُوَ الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ اِلاَّ الْفَوْزُ بِالْجَنَّةِ دَارِالسَّلاَمِ  اَحْمَدُهُ وَاَشْكُرُهُ وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلاَمُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَفْضَلُ مَنْ صَلَّي وَزَكَّى وَحَجَّ وَصَامَ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَاَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ  وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَتِ اللَّياَلِيَ وَالأَياَّمِ وَسَلِّمَ تَسْلِيْماً. اَماَّ بَعْدُ  فَيا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا الله اُوْصِيْكُمْ وَاِيـَّايَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Wahai hamba-hamba Allah sekelian,
Di  hari  Jumaat  yang  penuh dengan  kemuliaan  serta keberkatan  ini,  marilah  sama-sama  kita  memujuk  hati  kita untuk bertakwa  kepada  Allah  swt,  iaitu  dengan berusaha  bersungguh-sungguh  mematuhi  kesemua  ajaran  agama Allah,  melaksanakan  semua yang disuruh dan  meninggalkan kesemua  yang  dilarang semoga  kita  tergolong  dari  hambanya  yang dijanjikan beroleh rahmat  serta pengampunanNya  dan dibalas dengan  SyurgaNya,  di Akhirat  sana,  Amin.
Muslimin  yang  dirahmati  Allah.
Musim Haji menjelma lagi. Ianya  mengembalikan  kenangan  kita kepada sejarah hampir  5,000  tahun  yang  lampau  iaitu  kisah Nabi Allah Ibrahim a.s,  bapa  para Nabi.  Beliau  telah  menghabiskan  seluruh  umurnya  untuk  mengabdikan  diri dan berkorban kepada Allah. Beliau telah berpindah  dari  satu  negeri  ke satu  negeri  dari  Mesopotamia  sampai  ke Palestin lalu terus  ke Mesir  dan akhirnya menetap  di  tanah  suci  Makkatul Mukarromah.  Baginda  telah  menempa  sejarah  yang  sangat  luhur  yang  terus  bersemadi  di hati  umat  manusia  selama  bumi  ini  disinari  oleh  bulan dan mentari.
Nabi Allah Ibrahim as. telah diperintahkan Allah untuk meninggalkan  Isterinya  Siti  Hajar  bersama  Puteranya  Ismail  yang  masih  kecil  di bumi yang tandus, kontang dan  sunyi. Dengan  rahmat  Allah,  terpancarlah,  Air zamzam  untuk  dijadikan  minuman  mereka. Kemudian  Nabi  Ibrahim  kembali lagi  kepada  keluarganya setelah Ismail  remaja, dan beliau telah diperintahkan  oleh Allah untuk  menyembelih  puteranya  Ismail. Dengan penuh ketaatan Nabi Ibrahim telah melaksanakan segala perintah itu, lalu  Allah menggantikan Nabi Allah Ismail dengan  seekor  kibas  yang  besar. Untuk meneruskan pelaksanaan korbannya. Berdasarkan peristiwa  inilah,  lahirnya syariat penyembelihan binatang KORBAN ,  yang mana hukumnya adalah Sunnat  Muakkad  kepada  umat  Nabi  Muhammad  saw. Sebagai salah satu bentuk pengabdian yang boleh menghampirkan diri setiap hamba kepada Allah SWT.  Sebagaimana  Firman Allah dalamk surat Al- Haj 37
Daging dan darah binatang korban   itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan taqwa dari kamu. 
Kemudiannya Allah telah mengangkat  Ismail  menjadi  Nabi , dan Allah memerintahkan Nabi  Ibrahim  membina  Kaabah, lalu dibinanya  bersama  puteranya  Nabi  Ismail a.s. 
Sidang  Jumaat  yang  berbahagia.
Begitulahlah   amal-amal  Ibadah  dan  kebajikan-kebajikan  umat terdahulu yang terus  segar  di kalbu setiap  Umat Islam terutamanya sewaktu   menunaikan  Ibadah  Fardhu Haji. Segala  yang  diperintahkan  oleh  Allah  dipatuhi  dan  dilaksanakan  dengan  rasa  tawaduk,  ikhlas  dan rendah  diri  kepada  Allah. Segala  amalan-amalan   haji  itu samada yang rukun,  fardhu dan  sunat hendaklah dilaksanakan dengan  bersungguh-sungguh.  Kesemuanya dilaksanakan  dengan penuh pengharapan  semoga  mendapat  rahmat, keampunan dan keredhaan daripada  Allah swt dan yang penting   ibadah  hajinya  diterima  Allah  dengan  mendapat  Haji  Mabrur  yang mana  Allah  menjanjikannya dengan  balasan Syurga.

Hadirin  yang  dirahmati Allah.
Dalam  hal  ini  Imam Al-Ghazali  menyatakan  bahawa  dengan  mengerjakan  ibadah  haji,  seorang  mukmin akan merasai  kerinduan  yang  sangat  mendalam  kepada  Allah, mereka menjadi tetamu Allah datang ke baitullah.  Mereka  dengan  rela  hati telah meninggalkan segala yang mereka sayang termasuk kampung  halaman, keluarga,  sanak-saudara,  harta-benda dan sahabat-handai  dengan  menempuh perjalanan yang jauh, semata-mata  untuk  mengabdikan diri  kepada  Allah SWT. Menurut  sejarah,  ibadah  haji  adalah  satu-satunya  ibadah  yang  telah  sekian  lama  diamalkan  oleh  umat  manusia , sebagai  amalan  yang  menghubungkan  jiwa seorang  hamba  dengan  Tuhannya.  Kemudian  ianya  disyariatkan  kepada  junjungan kita  Rasulullah  saw  dan  umatnya  lalu  seruan  dan  panggilan  ini  disambut  dan  dijawab   oleh  umat  Islam   dengan  laungan  Talbiah,
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ،لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، اِنَّ الْحَمْدَ، وَالنِّعْمَةَ،
لَكَ وَالْمُلْكُ, لاَ شَرِيْكَ لَكَ
“Wahai  Tuhan  kami,  Wahai  Tuhan  kami,  kami  datang  semata-mata dengan  ikrar  penuh  taat-setia menjunjung  perintahMu.  Wahai  Tuhan yang  tiada  sekutu  bagiMu,  kami  datang menyahut  seruanMu,  sesungguhnya  segala  puji serta  segala  limpahan  rahmat adalah  milikMu,  yang  datang  dariMu  dan  hanya untuk Mu,  Ya  Allah,  Engkaulah  Tuhanku  tiada  sekutu  bagiMu.

Saudaraku yang dikasihi Allah,
Setiap  bakal  haji  mengharapkan  agar dikurniakan  oleh  Allah  Haji yang Mabrur  iaitu  haji  yang  menghapuskan segala  dosa-dosanya, menambahkan iman  dan takwanya, menjadikannya istiqamah dengan  amal-amal  soleh,  menghalangnya  dari  mengulangi  kerja-kerja  mungkar  dan  maksiat.   Lidah dan hatinya akan menjadikannya banyak  berzikir, tidak lagi bercakap perkara-perkara lagho yang tidak berfaedah. Orang yang mendapat Haji yang Mabrur akan menjadikan masjid dan  surau sebagai tempat yang dicintainya, majlis  ilmu menjadi hiburan baginya, Al-Quran akan menjadi teman setianya.  Begitulah  tingginya  nilai Haji yang Mabrur  yang  dijanjikan  oleh  Allah swt  kepada  setiap  orang  mukmin  yang  menjadi  harapan  setiap  mereka  yang  dikurniakan  taufik  hidayah  dari  Allah swt. Sabda  Rasulullah  saw:
اَلْعُمْرَةُ اِلىَ الْعُمْرَةِ كَفَارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ اِلاَّ الْجَنَّةَ- البخاري والمسلم
Ibadah umrah ke satu  umrah,  menghapuskan  dosa-dosa  yang berlaku  di antara  keduanya  dan Haji  Mabrur itu tidak ada balasan baginya kecuali  syurga.
Ummul mukminin,  Saidatina   Aisyah r.a,  pernah  bertanya  kepada  Rasulullah saw,  apakah  ibadah  yang  paling  utama?  baginda  menjawab:  “sebaik-baik  jihad  itu,  ibadah  haji  yang  mabrur”.   Dalam  sebuah  hadis  riwayat  Abu Yu’la,  dari  Abu  Hurairah  r.a,  Baginda Rasulullah  Saw  bersabda yang bermaksud :
 “Sesiapa  yang  meninggalkan  rumahnya  untuk  menunaikan  Haji, lalu  meninggal  dalam  perjalanan nya,  Allah  menulis  pahalanya  sehingga  ke Hari Qiamat dan sesiapa  yang  berangkat  untuk  mengerjakan  umrah,  lalu  ia  meninggal  dalam  perjalanannya  maka  pahala  umrahnya  tetap  sampai  pada  hari  Qiamat  dan  sesiapa  yang  keluar  untuk  perang  fisabilillah,  lalu  ia  meninggal  dalam  perjalanannya maka pahala  jihadnya  ditulis  pada  Hari  Qiamat”.
Mafhum hadis-hadis  di atas, memberi  penilaian  yang  sama  mengenai  pahala  ibadah  haji dan umrah, dengan pahala  berjihad  Fisabilillah.

Muslimin  yang  dirahmati  Allah,
Mengakhiri  khutbah  hari  ini,  saya ingin  menyeru dan mengingatkan dua perkara:
Pertama :
Bagi mereka  yang  belum berkesempatan  menunaikan  haji, agar berniat, berazam serta berusahalah dari sekarang untuk menyimpan dan mengumpulkan sebanyak mungkin wang bagi  keperluan atau perbelanjaan  untuk  menunaikan  ibadah  haji  ke Baitullah, sekaligus menyempurnakan tuntutan rukun Islam.. 
Kedua :
Bagi  mereka  yang telah berkemampuan serta  memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan, diingatkan agar tidak mencipta alasan atau bertangguh untuk menunaikan ibadah tersebut. Ada kedengaran suara-suara sumbang yang mengatakan:  “belum sampai seru” apabila ditanya kepada mereka yang berkemampuan. Dalam  hal  ini,  Saidina  Ali Karamallahu  wajhah  meriwayatkan,  Baginda  Rasulullah  saw  bersabda:
عَنْ عَلِيْ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَلَكَ زَادًا  وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ اِلَىْ بَيْتِ اللهِ الْحَرَامِ وَلَمْ يَحُجَّ فَلاَعَلَيْهِ اَنْ يَمُوْتَ  يَهُوْدِياًّ  اَوْ نَصْرَاِنيًّا  وَذَلِكَ اِنَّ اللهَ  يَقُوْلُ  فِيْ كِتاَبِهِ  وَلِلَّهُ  عَلَى  النَّاسِ  حِجُّ  الْبَيْتِ  مَنِ اسْتَطَاعَ  اِلَيْهِ  سَبِيْلاً
“Barangsiapa  yang  telah  mempunyai  bekalan untuk  perjalanan  menyampaikannya  ke Baitullahilharam  untuk  menunaikan  haji  tetapi  ia  menangguh-nangguh  dan  melambat-lambatkan  dari  menunaikan  ibadah  hajinya,  tiba-tiba  ia  mati  sebelum  menunaikan  hajinya  maka  matinya  sama  dengan  mati nya  kafir  Yahudi  dan  kafir  Nasrani.  Untuk  menegaskan   lagi pentingnya  Ibadah  haji  ini,  Rasulullah  saw,  membacakan  firman  Allah swt,  yang  bermaksud:  menunaikan  ibadah  Haji  itu  adalah  wajib  dan  difardhukan  oleh  Allah swt  kepada  setiap  orang  mukmin  yang  mampu  dan cukup  syarat-syaratnya.(Hadis  Riwayat  At-Tirmizi)

Firman  Allah :
           
 “Masa  untuk mengerjakan  Ibadah  Haji  itu  ialah  beberapa  bulan  yang  tertentu  (iaitu  bermula  1  Syawal,  berakhir  apabila terbit  Fajar  hari ke 10,  Zulhijjah).  Oleh  yang  demikian,  sesiapa  yang  telah  mewajibkan dirinya,  dengan  niat  mengerjakan  ibadah  haji  itu,  maka  tidak  boleh  mencampuri  isteri  dan  tidak  boleh  membuat  maksiat  dan  tidak  boleh  bertengkar  dalam  masa mengerjakan  ibadah  haji.              Dan  apa  jua  kebaikan  yang  kamu  kerjakan  adalah  diketahui  oleh  Allah,  dan  hendaklah  kamu  membawa  bekal  dengan  secukupnya  kerana  sesungguhnya,  sebaik-baik  bekal  itu  ialah memelihara  diri  dari  keaiban  dengan  meminta  sedekah,  dan  bertakwalah  kepadaKu, wahai  orang-orang  yang berakal yang  dapat  memiki dan  memahaminya.”            (Al-Baqarah ayat 197).

Kita berdoa  semoga saudara kita yang menunaikan haji  pada tahun ini diberikan kekuatan, kelantaran  dan kesehatan sehingga dapat menunaikan ibadah  haji dengan sempurna,  Dan begitu juga  saudara-saudara  kita  yang berniat melakukan ibadah kurban, semoga Allah memudahkan rezeki mereka dan menggantinya dengan yang lebih,  dan semoga Allah menjadikan kita semua  menjadi hambanya yang sentiasa menghampirkan diri kepada Allah  sesuai dengan semangat  ibadah haji dan kurban 
بَارَكَ اللهُ لِىْ وَلَكُمْ  بِالْقُرْآءنِ الْعَظِيْمِ , وَنفَعَنِىْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ  اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا  وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ  ِليْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَيَا فَوْزَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَياَ نَجَاةَ التَّاءِبِيْنَ

Thursday, October 06, 2011

Khutbah Masjid-masjid Negeri Perak 7 Oktober 2011




*AMARAN!!! Pihak JAIPk tidak bertanggungjawab ke atas sebarang penambahan ayat selain dari kandungan khutbah yang dikeluarkan.

( 9 Zulkaedah 1432H /  7 Oktober 2011M)
HIDUP INI MEDAN UJIAN


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَائِلِ،
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ ﴿٢﴾
Dia lah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) - untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya; dan ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi orang-orang yang bertaubat) - Surah al-Mulk:2


أَشْهَدُ   أَنْ لآإِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ   أَنَّ سَيِّدَنَا  مُحَمَّدًا  عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ  وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ !  اتَّقُواْ  اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ  وَلاَتَمُوْتُنَّ  إِلاَّ  وَأَنْتُمْ  مُّسْلِمُوْنَ



Wahai hamba-hamba Allah sekelian!

        Siapa pun kita, sebesar mana pun kedudukan kita, sekaya manapun kita, insaflah bahawa akhirnya kita akan kembali menemui Allah SWT apabila tiba saat dan ketikanya. Semuanya kita akan tinggalkan kecuali bekalan sejauh mana kita berjaya laksanakan tanggungjawab kita sebagai hamba Allah merangkap khalifahNya di atas muka bumi ini. Maka bertaqwalah kita kepada Allah SWT kerana taqwalah sebaik-baik bekalan kita apabila menemui Allah SWT kelak.


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

        Naluri semulajadi sebagai ibu dan bapa sudah tentu menginginkan anak-anak mereka berjaya di dalam peperiksaan yang dilalui oleh anak-anak kesayangan mereka. Seolah-olah peperiksaan UPSR, PMR, SPM, STPM, STAM dan lain-lain peperiksaan itu umpama ‘medan perang’ yang menentukan hidup mati anak-anak mereka di masa hadapan. Segala prasarana dan kemudahan cuba sedaya upaya disediakan agar mendapat deretan ‘A’ tercatat dalam slip keputusan peperiksaan anak-anak mereka.

        Islam tidak pernah sekali-kali menghalang dan mencantas naluri semulajadi ini, bahkan Islam mendorong agar penganutnya mengungguli setiap kecemerlangan yang tidak bertentangan dengan syarak seperti kecemerlangan di dalam peperiksaan kerana ia akan membawa wajah yang cantik dan indah kepada Islam, lebih-lebih lagi di dunia persaingan yang lebih terbuka dengan penganut-penganut agama yang lain.

        Namun perlu diinsafi oleh kita bahawa, Islam memerintahkan kita sebagai bapa mengajarkan  kepada anak-anak kita bahawa kecemerlangan sebenar adalah kecemerlangan di dunia dan di akhirat. Peperiksaan umum yang telah dan akan kita duduki adalah peperiksaan-peperiksaan kecil yang telah kita sedia maklumi sukatannya, telah kita maklumi tarikh dan jangkamasa untuk menjawabnya bahkan kita mampu menghafal jawapan-jawapannya.


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

        Sebenarnya di hadapan kita, banyak lagi peperiksaan- peperiksaan yang akan kita tempuhi dari masa ke semasa. Bentuk soalannya yang berbagai-bagai yang perlu kita jawab adakalanya dengan pertuturan dan adakalanya dengan tindakan. Kita diuji dengan senarai perintah-perintah Allah SWT untuk kita laksanakan, kita diuji dengan senarai larangan-larangan Allah SWT untuk kita jauhi. Tidak ada had umur tertentu untuk menduduki peperiksaan-peperiksaan ini melainkan kita akan menerima sijil berhenti sekolah dengan diberikan kepada waris kita satu sijil kematian. Malah semasa di alam barzakh, kita akan terus diajukan soalan demi soalan untuk memastikan ketenangan atau kesengsaraan kita untuk tinggal di dalamnya. Sabda Rasulullah SAW :

ماَ تَزَالُ قَدَمَا عَبدٍ يَومَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسأَلَ عَن أَربَعٍ عَن عُمرِهِ فِيمَ أَفنَاهُ وَعَن شَبَابِهِ فِيمَا أَبلاَهُ وَعَن مَالِهِ مِن أَينَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنفَقَهُ وَعَن عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ
Tidak akan berganjak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ia ditanyai tentang empat soalan; tentang umurnya pada perkara apakah ia musnahkan, tentang zaman mudanya untuk tujuan apa dihabiskan, tentang hartanya daripada mana ia perolehi dan di mana ia habiskan, tentang ilmunya apakah yang dipraktikkan.(Hadith sahih dalam al-Targhib wa al-tarhib )

         Prestasi dan kemampuan sebenar kita, akan kita terima keputusannya pada hari graduasi sebenar tatkala kita menerima catatan amalan kita samada melalui tangan kanan atau sebelah belakang. Firman Allah SWT :

فَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿٧﴾ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًۭا يَسِيرًۭا ﴿٨﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًۭا ﴿٩﴾ وَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ ﴿١٠﴾ فَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًۭا ﴿١١﴾ وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا ﴿١٢﴾
kemudian sesiapa yang diberi surat amalnya dengan tangan kanannya, maka ia akan dihisab dengan cara yang mudah dan ringan, dan ia akan pergi kepada keluarganya (yang beriman) dengan sukacita. Dan sesiapa yang diberi menerima surat amalnya (dengan tangan kiri), dari sebelah belakangnya, maka ia akan meraung menyebut-nyebut kebinasaannya, dan ia akan menderita bakaran neraka yang marak menjulang.(Surah al-Insyiqaq 7-12)


Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

        Bertitik tolak dari kefahaman di atas, seorang ayah sepatutnya tetap tidak bergembira jika anaknya beroleh 5A di dalam UPSR jika anaknya gagal melaksanakan 5 kali solat sehari semalam. Kita sepatutnya tidak terlalu gembira bila anak kita mampu menjawab semua soalan peperiksaan namun gagal menjawab satu soalan mudah iaitu  ‘ mengapa kamu tidak menutup aurat? ’. Apalah sangat kecemerlangan dengan mahirnya anak-anak kita dalam membaca, menulis dan mengira (3M) jika dia gagal dan tidak tahu membaca al-Quran. Kerajaan sepatutnya tidak berbangga dengan peningkatan prestasi pencapaian peratusan matapelajaran setiap tahun sedangkan peningkatan ini mengiringi peningkatan kes buang bayi, ponteng sekolah, penagihan dadah dan sebagainya.

        Oleh kerana falsafah kebendaan telah menguasai masyarakat kita, sehingga kejayaan diukur dengan pencapaian material maka falsafah peperiksaan ini semakin tersasar sehingga ada kes anak-anak dihalang memasuki peperiksaan disebabkan kononnya demi menjaga prestasi sekolah. Beritahulah anak-anak kita bahawa niatkanlah kejayaan dalam peperiksaan untuk berkhidmat kepada agama nescaya akan lajulah mereka meluru ke arah kejayaan-kejayaan yang lain.

        Setiap kali datangnya musim peperiksaan sepatutnya mengingatkan kita tentang peperiksaan sebenar yang sedang dan bakal kita hadapi, nescaya kita akan cuba menyediakan jawapan yang sebaik-baiknya melalui tindakan dan amalan kita. Samada kita seorang ayah mahupun seorang anak, kita semua adalah sama di sisi Allah dari sudut kita sedang dan akan diuji olehNya seterusnya kita akan dihujani dengan soalan-soalan yang akan menzahirkan sejauh mana kita menunaikan tanggungjawab sebagai hamba Allah dan sebagai khalifahNya.

بَارَكَ اللهُ لِىْ وَلَكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنفَعَنِىْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ, أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ ِليْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَيَا فَوْزَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَياَ نَجَاةَ التَّاءِبِيْنَ.