Saturday, September 15, 2007

Hidupkan malam-malam Ramadhanmu

Daripada Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa berdiri bersolat dalam bulan Ramadhan kerana didorong keimanan dan keinginan memperolehi keredhaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahulu."
(Muttafaq 'alaih)

Friday, September 14, 2007

Cemburu Yang Diredhai






Cemburu selalunya dikaitkan dengan dunia percintaan manusiawi yang diselaputi dengan berahi yang tiada kenal berhenti. Di usia 40an juga gejolak kelelakian memberontak hendak menafikan gejala penurunan yang sedang dialami seorang lelaki yang terlalu disibukkan oleh kemaskulinannya. Ia akan lebih menyakitkan lagi jika ia cuba membandingkan dirinya dengan generasi yang lebih muda termasuk anaknya sendiri. Ia sukar menerima hakikat bahawa detik-detik penurunan fizikalnya ternyata sedang berdepan dengan kemungkinan penyingkiran diri dari arena orang-orang muda yang selama ini ia nikmati dan bangga-banggakan. Ia akan lebih menyakitkan lagi jika diusia itu ia masih terkinja-kinja hendak memancing gadis-gadis yang sedang meningkat matang yang dianggapnya serba lebih dari isterinya yang sudah lama berjasa kepadanya. Sakit ....sakit ! Memang sakit.




Kenapa hendak menempah sakit ? Bukankah itu saatnya untuk menyediakan diri ke era kematangan yang penuh dengan hikmah dan kebijaksanaan. Bukankah kelemahan fizikal dan pelbagai penyakit yang sedang bertunas itu umpama utusan Allah tentang dekatnya saat penghujung usia yang tiada diketahui bila tiba ? Bukankah kekurangan usia dan kebijakan akal yang dengan pukalan pengalaman hidup itu kesempatan memperbanyakkan taqarrub dengan Tuhan yang sentiasa terbuka pintu cinta-Nya kepada hamba yang bersedia ? Kenapa masih tersirna dengan cinta duniawi sementara Tuhan sedang mempermudahkan jalan kepadanya untuk meraih cinta sejati Ilahi ?




Melihat-lihat anak-anak muda mundar-mandir ke rumah Allah, sepertinya membangkitkan rasa cemburu yang lebih bererti. Bukankah janji Allah bahawa anak-anak muda yang hidup mereka membesar dalam iltizamnya beribadah itu tanda-tanda mereka akan terpilih di kalangan warga akhirat yang teristimewa ? Cemburu ? Memang patut cemburu kepada mereka . Mereka ternyata mampu menerjah nafsu muda mereka untuk mencari cinta kasih Tuhan yang lebih sejati. Mereka adalah gambaran ayat dari Surah al-Kahfi 'innahum fityatun amanu birabbihim wa zidnahum huda" ( Sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka. Maka kami tambahkan bagi mereka petunjuk )




Dalam persekitaran di menara gading yang menawarkan kebebasan hidup tanpa kekangan yang bermakna, mereka mempunyai pilihan untuk menghamburkan begitu sahaja dorongan nafsu muda dan masa lapang yang sentiasa terganga. Tapi pemuda-pemuda terpilih ini menggunakan kebebasannya untuk memupuk iman dan taqwa. Dalam suasana kampus yang tidak pun menuntutnya untuk berlazim-lazim ke rumah Allah, dia menjadikan rutin berziarah ke rumah Allah sebagai rekreasi dan hiburan yang terasyik.




Cemburunya diri di usia awal tua ini melihat kegigihan permata iman ini mencari ridha Tuhan di rumah-Nya yang semakin terpinggir.

The Ikhwan of Rasulullah (pbuh)




One day the Messenger of Allah (PBUH: peace be upon him) asked his companions: “Which of God’s creatures possess the most amazing iman (faith)?”


“The Angels,” answered his companions.


“How would the Angels not have faith in Allah when they are always close to Him,” replied the Messenger in disagreement.


“The prophets,” answered the other companions.


“How would the prophets not have faith when words of God are revealed unto them?” the Messenger disagreed.


“We - your companions?” the companions suggested.“How would you not have faith when I am always amidst you?” retorted the Messenger.


Finally the Messenger decreed: “The creatures with the most amazing iman are those who live after me. They have never met me but they declare faith in me. They love me more than they love their children and elders. They are my Ikhwan (Brothers). They read the Quran and are faithful to all its contents.”(Related by Abu Ya’la)


“O Abu Bakr,” the Messenger of Allah (PBUH) asked, “Do you not long for my Ikhwan since they also love you because you are my companion?”(Related by Ibnu Hajar Asqalani)


The Messenger of Allah (PBUH) continued: “Good tidings for those who meet and declare faith in me. And sevenfold good tidings for those who declare faith in me but have never met me.”(Related by Ahmad)


Thursday, September 13, 2007

Ar-Rayyan


Sabda Rasulullah s.a.w. :
"Di Syurga terdapat 8 pintu. Salah satu daripadanya dinamakan "ar-Rayyan". Hanya orang yang berpuasa sahaja yang layak memasukkinya."
( Muttafaq 'alaih )

Monday, September 03, 2007

Islam tidak menuntut bernegara Islam ?


Tragedi Abdullahi Ahmed Naim
Dipetik dari tulisan Adian Husaini


Pada akhir Juli hingga Agustus 2007, umat Islam Indonesia kedatangan tamu, Prof. Abdullahi Ahmed Naim. Kedatangan Naim bertepatan dengan peluncuran bukunya, yang berjudul “Islam and Secular State: Negotiating the Future of Sharia”. Edisi bahasa Indonesianya berjudul “Islam dan Negara Sekular: Menegosiasikan Masa Depan Syariah”. Panitia lokalnya adalah Center for the Study of Religion and Culture (CRSC), lembaga penelitian di bawah UIN Jakarta. Jadwalnya di Indonesia cukup padat, mulai diskusi di Jakarta, Aceh, Bandung, Makasar, dan Yogyakarta. Tampak, kedatatangan Naim kali ini dimanfaatkan secara serius untuk mempromosikan ide negara sekular.
Dekan Pasca Sarjana UIN Jakarta, Prof. Azyumardi Azra, menyempatkan menulis kolom Resonansi khusus di Harian Republika, (Kamis, 26/7/2007), yang berjudul: “Islam, Negara, dan Masa Depan Syariah”. Azra menulis: “Dalam konteks Indonesia yang pada dasarnya ‘netral’ terhadap agama, pemikiran an-Naim sangat relevan dan kontekstual. Karena itu, tidak ragu lagi, pemikiran an-Naim merupakan kontribusi penting bagi negara-bangsa Indonesia.”
Menurut Azra, tujuan utama buku Naim adalah mempromosikan masa depan syariah sebagai sistem normatif Islam di kalangan umat Muslimin, tetapi bukan melalui prinsip secara paksa oleh kekuatan negara. Hal ini karena dari sifat dan tujuannya, syariah hanya bisa dijalankan secara sukarela oleh para penganutnya.
Sebaliknya prinsip syariah kehilangan otoritas dan nilai agamanya apabila dipaksakan negara. Karena itu, pemisahan Islam dan negara secara kelembagaan sangat perlu, agar syariah bisa berperan positif dan mencerahkan bagi umat Islam. Pendapat ini disebut an-Naim sebagai ‘netralisasi negara terhadap agama.’
Membaca tulisan Profesor Azra itu kita patut prihatin. Ide pemisahan negara dan agama bukanlah ide baru di kalangan masyarakat Muslim. Ide ini sangat absurd, karena benar-benar menjiplak pola pikir dan pengalaman masyarakat Barat. Oleh sejumlah cendekiawan ‘yang termakan oleh pandangan hidup Barat’ ide ini kemudian ditelan mentah-mentah dan dipaksakan kepada masyarakat Muslim, sebagaimana secara ekstrim dijalankan oleh Kemal Attaturk di Turki. Di Indonesia, ide semacam ini sudah lama ditolak oleh para ulama dan cendekiawan Muslim.
Mungkinkah negara netral terhadap agama? Dalam pandangan Islam, tentu saja hal itu tidak mungkin. Sebab, seorang kepala negara, menurut Islam, bertanggung jawab dunia dan akhirat terhadap Allah dalam mengemban amanah kepemimpinannya. Karena itu, kepala negara tidak boleh membiarkan rakyatnya terjerumus dalam kemusyrikan atau dosa-dosa lain. Ia harus berusaha sekuat tenaga agar kemunkaran tidak merajalela di tengah masyarakatnya. Cara pandang ini tentu saja berbeda dengan cara pandang sekular yang tidak memasukkan aspek ‘akhirat’ dalam urusan kehidupan dunia.
Lagi pula, syariah Islam bukanlah terbatas pada aspek personal semata. Syariah mencakup aspek hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan makhluk-makhluk lain. Konsep syariah ini berbeda dengan hukum Barat yang tidak mengurusi urusan individu dengan dirinya sendiri. Dalam pandangan syariah Islam, misalnya, bunuh diri diharamkan, meskipun itu hanya berkaitan dengan dirinya sendiri.
Sementara dalam masyarakat yang berpandangan hidup sekular, maka bunuh diri dianggap sebagai hak. Sebab, mereka tidak mengenal konsep bahwa tubuh manusia adalah amanah atau titipan dari Allah yang harus dijaga dengan baik. Jangankan bunuh diri, dalam Islam, merusak tubuh pun hukumnya haram.
Pemahaman Naim tentang syariat itu sendiri juga keliru. Dalam wawancara dengan Koran The Jakarta Post, edisi 26 Juli 2007, Naim menyatakan, bahwa syariah adalah produk interpretasi akal dan pengalaman manusia. Karena itu, katanya, syariah tidak memiliki unsur ketuhanan, sehingga bersifat relatif, tidak abadi, dan tidak mengikat. (But it must be the product of human interpretation, human reason and human experience. So when we say that sharia is divine it is misleading. Since sharia is the product of human interpretation, any understansing of it is not divine, not eternal and not binding).
Para ulama Islam memahami syariah tidak seperti Naim. Bagi kaum Muslim, hukum-hukum Islam jelas-jelas dipahami sebagai ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Bukan hukum karangan ulama. Para ulama hanyalah menggali dan merumuskan hukum-hukum Allah yang tercantum dan bersumberkan pada Al-Quran dan Sunnah Rasul. Oleh karena itu, seorang Muslim yang bermazhab Syafii, misalnya, ketika melaksanakan shalat, ia yakin benar, bahwa syarat dan rukun shalat yang dia kerjakan bukanlah karangan dan rekaan Imam Syafii atau ulama lain. Tetapi, syarat dan rukun itu memang secara tegas disebutkan dalam wahyu (Al-Quran dan Sunnah). Karena itu, hukum tentang wajibnya shalat, wajibnya zakat, haramnya zina, haramnya khamr, haramnya daging babi, dan sebagainya, jelas-jelas merupakan hukum Allah yang bersifat abadi dan mengikat kaum Muslim.
Akal ulama siapapun – asalkan bukan merupakan ulama yang jahat (ulama su’) – pasti akan mengatakan bahwa shalat lima waktu adalah wajib, syirik adalah jahat, dan durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Itu semua merupakan hukum dan ketentuan Allah. Bukan rekaan para ulama. Karena itu, syariah memang memiliki unsur ketuhanan (divine) dan bersifat abadi serta mengikat. Jelaslah, pendapat Naim memang sangat keliru dan aneh.
Di masa Rasulullah saw, kaum Yahudi menolak kebenaran Al-Quran, karena Al-Quran itu diturunkan kepada Muhammad yang juga manusia. Mereka meminta agar Al-Quran turun langsung dari langit. Permintaan mereka itu dijawab oleh Allah: “Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.” Maka mereka disambar petir karena kezalimannya.” (QS 4:153).Di zaman sekarang ini, kita mewarisi agama Islam, Al-Quran dan Sunnah Rasul, jelas melalui akal manusia, yaitu akal para sahabat Nabi, dan para ulama sesudahnya. Sebab, Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir. Para ulama-lah yang kemudian melanjutkan risalah kenabian.
Kita menerima hadits Rasulullah juga berdasarkan periwayatan yang disampaikan oleh para perawi hadits yang mereka juga manusia. Allah mengkaruniai kita dengan akal pikiran yang mampu menyeleksi, mana informasi yang benar dan mana yang salah. Mana ulama yang berkualitas, dan mana yang dipaksakan sebagai ulama. Karena itu, dengan akal kita, kita mampu menerima mana berita yang salah dan mana yang pasti kebenarannya.
Meskipun sama-sama memiliki akal, kita tentu bisa membedakan, mana akal yang sehat dan mana akal yang tidak sehat. Kita tentu paham, bahwa akal Einstein tentu berbeda dengan akalnya Mr. Bean; akal Prof. Dr. Hamka berbeda kualitasnya dengan akal Sumanto pemakan manusia. Begitu juga akal Imam Bukhari, tentu berbeda dengan akal Tesi; akal Umar bin Khathab sangat berbeda dengan akalnya Hitler. Karena itu, kita tidak sembarangan mengikuti akal seseorang. Akal siapa dulu yang kita ikuti. Jelas, akal setiap manusia memang tidak sama. Dalam soal pemahaman terhadap pasal 33 UUD 1945, misalnya, tentu kita lebih percaya kepada akal Mohammad Hatta ketimbang akalnya Thukul Arwana. Begitu juga, dalam soal syariah, normalnya, tentu kita lebih percaya kepada Imam Syafii ketimbang Naim. Tentu sangat berlebihan jika menempatkan Abdullahi Ahmed Naim sebagai Imam Mazhab sejajar dengan Imam Syafii dan lain-lain.
Dalam wawancara dengan The Jakarta Post tersebut, Naim juga menyatakan, bahwa adalah berbahaya jika beberapa provinsi di Indonesia menerapkan syariah. Katanya, ”It is dangerous because these provinces are part of Indonesia and the country is part of the global economy. If you allow some provinces to enforce sharia, it’s going to undermine and damage national interests, and the unity and stability of this country.”
Simaklah, betapa sangat terbelakangnya pemikiran Naim. Berbagai daerah di Indonesia sudah menjalankan hukum yang mengadopsi syariah, dan tidak membawa perpecahan bagi bangsa Indonesia. Banyak aspek syariah yang sudah diterapkan di Indonesia, seperti bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, reksadana syariah, dan sebagainya. Bahkan, banyak kalangan non-Muslim sendiri yang kini ikut-ikutan membentuk lembaga ekonomi syariah. Karena itu, kita sungguh sulit mengerti, mengapa ada suara ketakutan terhadap syariah yang begitu berlebihan, seperti disuarakan oleh Naim ini. Suara Naim ini persis sama dengan suara Partai Kristen PDS yang begitu ketakutan terhadap syariah. Tapi, kita bisa memaklumi, karena Naim memang jubir yang baik dari negara dan LSM Barat yang membiayai proyeknya di Indonesia.
Bahkan, Naim berani menyatakan, ”Any province that claims to enforce sharia is hypocritical because sharia has many aspects.”
Syariah mana yang memiliki banyak aspek, seperti yang disebutkan Naim? Di dalam konsep Islam, ada hukum-hukum yang memang qath’iy – yang disepakati oleh kaum Muslim – dan ada yang memiliki sejumlah interpretasi, dalam soal furu’iyyah. Karena itu, jika suatu daerah menerapkan larangan beredarnya ganja dan miras, sebab kedua hal itu diharamkan dalam syariah Islam, maka daerah itu tidak bisa dikatakan telah melakukan kemunafikan, seperti tuduhan Naim.
Menyimak pemikiran Naim yang keliru dan naif seperti itu, seharusnya para ilmuwan Indonesia bersikap kritis dan tidak terlalu memuji-muji serta mendewakan pemikiran Naim. Kita sungguh sulit memahami, bagaimana mungkin seorang profesor sekaliber Azyumardi Azra berani memuji-muji pemikiran Naim, dan menyatakannya, sebagai pemikiran yang relevan untuk Indonesia.
Anehnya, dalam sampul belakang buku Naim edisi Indonesia, juga tercantum komentar Prof. Dr. A. Syafii Maarif sebagai berikut: "An-Na'im punya otoritas berbicara tentang syariah dalam kaitannya dengan keperluan mendesak umat Islam untuk merekonstruksi seluruh hasil ijtihad para fuqaha dan ulama selama tiga abad pertama hijriah. Melalui rekonstruksi ini diharapkan Islam akan mendorong dan sekaligus mengawal arus perubahan sosial yang tak terelakkan, dan syariah dalam maknanya yang autentik akan dijadikan acuan utama dalam merumuskan kebijakan publik secara cerdas dan berkualitas tinggi".
Kita jadi sulit membedakan, apakah ungkapan Syafii Maarif itu sebuah pujian atau sindiran bagi Naim. Berdasarkan kriteria apakah Syafii Maarif sampai berani menyatakan bahwa Naim punya otoritas untuk merekonstruksi seluruh hasil ijtihad para fuqaha dan ulama selama tiga abad pertama hijriah? Kita patut bertanya, sejauh manakah kehebatan Naim dalam penguasaan Al-Quran dan hadits? Berapa kitab tentang syariah dan ushul fiqih yang sudah ditulis Naim, sehingga diharapkan oleh Syafii Maarif akan merombak hasil ijtihad ulama selama tiga abad?
Kita tentu harus bersikap adil terhadap orang seperti Naim. Kita tidak boleh meremehkan Naim. Tetapi memujinya terlalu tinggi juga berlebihan. Dalam setiap bidang ilmu, ada raksasa-raksasa yang memiliki otoritas. Selama beratus tahun, para ulama yang sangat canggih ilmu, amal, dan karyanya pun senantiasa bersikap tawadhu’, tahu diri, menjaga adab keilmuan.
Imam Bukhari yang begitu hebat dalam ilmu hadits, tetap mengakui otoritas Imam Syafii dalam ilmu ushul fiqih. Para ulama Islam dulu adalah orang-orang yang tahu adab. Mereka menghormati ilmuwan lain yang lebih hebat.
Karena itu, ada klasifikasi dan martabat keilmuan yang dijaga oleh para ilmuwan. Dalam bidang fisika ada tempat tersendiri untuk Newton, Eisntein, dan Stephen Hawking. Dalam kebon binatang saja, hewan-hewan juga diklasifikasikan. Kucing diletakkan ditempat kucing.
Kelinci ditempatkan sebagai kelinci. Kambing ditempatkan sebagai kambing. Burung emprit berbeda dengan burung elang. Emprit tidak akan bisa menjadi elang, meskipun dipinjami sayap elang. Kambing tetaplah kambing, meskipun diberi jaket singa. Dia tetap mengembik, meskipun sudah berjaket dan berlagak menjadi singa.
Dalam sebuah puisinya yang berjudul ”Puyuh dengan Helang” (Baca: Burung Puyuh dan Burung Elang), Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud menulis:
”Wahai temanku sekalianJanganlah menjadi ilmuwan tiruanSyukurilah nikmat Tuhan redalah pada-NyaJika takdirmu seekor puyuh, lakukan tugasmu patuh setia.”Dalam puisinya yang lain yang berjudul ”Anak Helang”, Prof. Wan Mohd. Nor mengingatkan para ilmuwan Muslim yang lupa pada jati dirinya setelah disanjung-sanjung orang di luar negeri:”Anek helang kehilangan diri, disanjung gagak di luar negeri:Pulang ke sarang asli berbulu hitam,suara nyaring ngeri Menghalau keluarga sendiri,menganggap jahil guru awali Ajaran Nabi dan pewaris tradisidisifat tidak sesuai lagi bagi meniti arus pluralisme dan cabaran globalisasi.”[Depok, 7 Agustus 2007]

Mendiagnosis Kesiahatan Hati

JIWA yang sihat dan tenteram memiliki beberapa tanda, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab ‘Ighatsatul Lahfan min Mashayid asy-Syaithan’. Di antara tanda-tanda tersebut adalah mampu memilih segala sesuatu yang bermanfaat dan memberikan ketenteraman kepada jiwanya. Dia tidak memilih perkara-perkara yang berbahaya atau yang menjadikan jiwanya sakit atau menderita. Tanda jiwa yang sakit adalah sebaliknya.

Santapan jiwa yang paling bermanfaat adalah keimanan dan ubat yang paling mujarab adalah al-Quran. Selain itu, jiwa yang sihat memiliki sifat sebagaimana berikut :

Matlamatnya Akhirat
Jiwa yang sihat bergerak dari dunia menuju ke akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana. Sehingga dia merasa seperti telah menjadi penghuni akhirat dan putera-puteri akhirat. Dia datang dan berada di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, yang mengambil sekadar keperluannya, untuk segera kembali ke negeri asalnya. Nabi s.a.w bersabda,

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melalui suatu jalan.” (HR. al-Bukhari)

Bila jiwa seseorang itu sihat, dia akan mengembara menuju akhirat dan menghampirinya, sehingga seakan-akan dia telah menjadi penghuninya. Sedangkan bila jiwa tersebut sakit, maka dia akan terlena dengan dunia dan menganggapnya sebagai negerinya yang kekal, sehingga jadilah dia hamba kepadanya.

Keinginan Menuju Allah s.w.t.
Di antara tanda tenteramnya jiwa ialah selalu mendorong seseorang untuk kembali kepada Allah s.w.t. dan tunduk kepada-Nya. Dia bergantung hanya kepada Allah, mencintai-Nya sebagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Tidak ada kehidupan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan kecuali hanya dengan ridha Allah, merasa dekat dan rasa jinak terhadap-Nya. Merasa tenang dan tenteram dengan Allah, berlindung kepada-Nya, bahagia bersama-Nya, bertawakkal hanya kepada-Nya, yakin, berharap dan takut hanya kepada Allah.

Maka jiwa tersebut akan selalu mengajak dan mendorong pemiliknya untuk mecari ketenangan dan ketenteraman bersama Ilah sembahannya. Tatkala itulah ruh benar-benar merasa kehidupan dan kenikmatan dan menjadikan hidupnya lain daripada yang lain, bukan kehidupan yang penuh dengan kelalaian dan berpaling dari tujuan penciptaan manusia. Untuk tujuan menghamba kepada Allah s.w.t inilah syurga dan neraka diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan.

Abul Husain al-Warraq berkata, “Hidupnya jiwa adalah dengan mengingat Zat Yang Maha Hidup dan Tidak Pernah Mati, dan kehidupan yang nikmat adalah kehidupan bersama Allah, bukan selain-Nya.”

Oleh kerana itu terputusnya hubungan seseorang dengan Allah s.w.t. adalah lebih dahsyat kepada orang-orang arif yang mengenal Allah daripada kematian, kerana terputus dari Allah adalah terputus dari al-Haq, sedang kematian adalah terputus dari sesama manusia.

Tidak Bosan Berzikir
Di antara tanda sihatnya jiwa adalah tidak pernah bosan untuk berzikir mengingat Allah s.w.t. Tidak pernah merasa jemu untuk mengabdi kepada-Nya, tidak terlena dan asyik dengan selain dari Nya, kecuali kepada orang yang menunjukkan jalan kepada Nya, orang yang mengingatkan dia kepada Allah s.w.t. atau saling mengingatkan dalam kerangka berzikir kepada-Nya.

Menyesal jika Tertinggal dari Berzikir
Jiwa yang sihat akan rasa menyesal, merasa sedih dan sakit melebihi sedihnya seorang bakhil yang kehilangan hartanya jika tertinggal atau terlupa berzikir.

Rindu Untuk Beribadah
Jiwa yang sihat selalu rindu untuk menghamba dan mengabdi kepada Allah s.w.t. , sebagaimana rindunya seorang yang lapar terhadap makanan dan minuman.

Khusyu’ Dalam Solat
Jiwa yang sihat akan meninggalkan segala keinginan dan sesuatu yang bersifat keduniaan ketika sedang menunaikan solat. Sangat berhati-hati dalam masalah solat dan bersegera melakukannya, serta memperolehi ketenangan dan kenikmatan di dalam solat tersebut. Baginya solat merupakan kebahagiaan dan penyejuk hati dan jiwa.

Keinginannya Hanya kepada Allah
Jiwa yang sihat, keinginannya hanya satu, iaitu kepada segala sesuatu yang diredhai Allah s.w.t..

Menjaga Waktu
Di antara tanda sihatnya jiwa adalah merasa sayang jika waktunya hilang dengan sia-sia, melebihi sayang seorang yang kikir terhadap hartanya.

Muhasabah dan Memperbaiki Diri
Jiwa yang sihat senantiasa memberi perhatian untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkatkan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba’ah dan ihsan (seakan-akan melihat Allah s.w.t. dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Di samping itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah s.w.t. serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.

Demikian di antara beberapa tanda yang menunjukkan sihatnya jiwa seseorang.

Dapat disimpulkan bahwa jiwa yang sihat dan tenteram adalah qalbu yang himmah (keinginannya) kepada sesuatu yang menuju Allah s.w.t. , mencintai-Nya dengan sepenuhnya, menjadikan-Nya sebagai matlamat. Jiwa raganya untuk Allah, amalan, tidur, bangun dan bicaranya hanyalah untuk-Nya. Dan ucapan tentang segala yang diredhai Allah lebih dia sukai daripada segala pembicaraan yang lain, fikirannya selalu tertuju kepada apa sahaja yang diredhai dan dicintai-Nya.

Berkhalwah (menyendiri) untuk mengingat Allah s.w.t lebih dia sukai daripada bergaul dengan orang, kecuali dalam pergaulan yang dicintai dan diredhai-Nya. Kebahagiaan dan ketenangannya adalah bersama Allah, dan ketika dia mendapati dirinya berpaling kepada selain Allah, maka dia segera mengingat firman-Nya,

”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diredhai-Nya.¨ (QS. 89:27-28)

Dia selalu mengulang-ulang ayat tersebut, dengan harapan dia akan mendengarnya nanti pada hari Kiamat dari Rabbnya. Maka akhirnya jiwa tersebut di hadapan Ilah dan Sesembahannya yang Haq akan terwarna dengan sibghah (celupan) sifat kehambaan. Sehingga jadilah dia abdi sejati sebagai di segi sifat dan karakternya, ibadah adalah nikmat bukannya beban yang memberatkan. Dia melakukan ibadah dengan rasa gembira, cinta dan rasa dekat kepada Rabbnya.

Ketika diajukan kepadanya perintah atau larangan dari Rabbnya, maka hatinya berkata, “Aku sambut panggilan-Mu, aku penuhi dengan suka cita, sesungguhnya aku mendengar, taat dan akan melaksanakannya. Engkau berhak dan layak mendapat semua itu, dan segala puji kembali hanya kepada-Mu.¨

Apabila ada takdir menimpanya maka dia mengatakan, ” Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, miskin dan memerlukan-Mu, aku hamba-Mu yang fakir, lemah tidak berdaya. Engkau adalah Rabbku yang Maha Mulia dan Maha Penyayang. Aku tidak mampu untuk bersabar jika Engkau tidak menolongku untuk bersabar, tidak ada kekuatan bagiku jika Engkau tidak membantuku dan memberiku kekuatan. Tidak ada tempat bersandar bagiku kecuali hanya kepada-Mu, tidak ada yang dapat memberikan pertolongan kepadaku kecuali hanya Engkau. Tidak ada tempat berpaling bagiku dari pintu-Mu, dan tidak ada tempat untuk lari dari-Mu.¨

Dia mempersembahkan segalanya hanya untuk Allah s.w.t, dan dia hanya bersandar kepada-Nya. Apabila ditimpa sesuatu yang tidak disukai maka dia berkata, “Rahmat telah dihadiahkan untukku, ubat yang sangat bermanfaat dari Zat Pemberi Kesembuhan yang mengasihiku.” Jika dia kehilangan sesuatu yang dia sukai, maka dia berkata, “Telah disingkirkan keburukan dari sisiku.“

Semoga Allah s.w.t memperbaiki jiwa kita semua, dan menjaganya dari penyakit-penyakit yang merosak dan membinasakan, Amin.

Saturday, September 01, 2007

Isteri Bapa Sekulerisme Turki Pun Bertudung Rupanya


Apabila Adullah Gul hendak dicalonkan menjadi Presiden Turki, keadaan isterinya yang bertudung amat diberi perhatian dan dianggap mengancam pegangan sekulerisme Turki. Satu ketika dahulu, seorang ahli Parlimen yang bertudung juga diambil tindakan kerana 'kesalahan' yang tak dan tak bukan adalah bertudung.


Memetik dari artikel di http://www.eramuslim.com/ di bawah, ternyata isteri Bapa Sekulerisme Turki pun bertudung. Kenapa di kalangan generasi sekularis hari ini, ia dipermasalahakan ?


===========================================================




Turki memang melarang keras seorang Muslimah memakai jilbab. Tapi ternyata ada fakta sejarah yang cukup mencengangkan. Bapak pendiri sekulerisme Turki Mushtafa Kamal Ataturk, memiliki isteri yang juga berjilbab. Aneh ya.
Ini sebenarnya bukanlah fakta baru, mengingat dalam sejumlah foto ditampilkan Ataturk sedang berpose dengan sang isteri yang berjilbab.
Isteri Ataturk yang bernama Lathifa Osaki, adalah perempuan berjilbab atau dikenal dengan istilah sharashaf, pakaian jilbab hitam khas Turki. Mirip dengan pakaian jubah yang banyak dipakai Muslimah di Timur Tengah. Tapi mungkin, ambisi sekulerisme yang membuat banyak orang-orang sekuler Turki yang ‘buta’ terhadap fakta itu.
Dan dengan terpilihnya Gul sebagai Presiden Turki, yang juga isterinya berjilbab, maka jilbab pun untuk pertama kalinya dibolehkan dikenakan di istana kepresidenan Turki pada tanggal 29 Agustus 2007. Khairu Nisa, isteri Gul, yang berjilbab sebenarnya mengulang sejarah Turki di masa kepemimpinan Ataturk yang juga isterinya berjilbab.
Jilbab bakal jadi fenomena baru di Turki. Sesuai perkiraan yang dilansir harian Hurriet, Turki, lima tahun ke depan akan terjadi perubahan besar di ruang pemerintah dan parlemen Turki. Salah satunya yang paling mencolok adalah jumlah perempuan pemakai jilbab yang semakin banyak.
Setelah itu, gelombang jilbab juga bakal menggejala di berbagai instansi pemerintah Turki. Ini tentu erat kaitannya dengan kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berakar Islam, sekaligus kemenangan Abdullah Gul dari AKP yang juga memiliki isteri berjilbab. Ini adalah isteri pejabat tinggi Turki kedua yang berjilbab, setelah sebelumnya disandang oleh isteri PM Turki Erbakan.
Nah, terkait jumlah para pemakai jilbab di parlemen Turki yang akan menjadi fenomenal dalam tahun-tahun mendatang adalah berdasarkan hitungan kemenangan AKP, di mana 235 para wakil rakyat dari total 550 orang di Parlemen Turki, adalah perempuan yang memakai jilbab.
Seperti diketahui, Muslimah Turki mengalami tekanan terkait pemakaian jilbab sejak tahun 1924, saat keruntuhan Khilafah Turki Utsmani sekaligus berdirinya negara sekuler Turki pimpinan Mushtafa Kamal Ataturk. Sejak itu, jilbab dibersihkan dari sekolah tinggi dan instansi pemerintah. Sebagian Muslimah bahkan ada memilih untuk keluar dari kegiatan belajar karena menolak melepas jilbab, sementara sebagian lain terpaksa melepas jilbabnya di lingkungan kampus dan kantor pemerintah.
Masih belum lepas dari ingatan, kasus jilbab ini terus memanas setiap pergantian tahun ajaran baru di Turki. Pemberitaan media massa selalu saja menurunkan laporan aparat keamanan bersenjata Turki yang meningkatkan penjagaan untuk melarang Muslimah berjilbab masuk kampus. Tidak sedikit pula Muslimah yang akhirnya dijebloskan ke penjara karena melakukan pembelaan diri untuk tetap bisa mengikuti pelajaran di kampus dengan tetap memakai jilbab.
Dan meski AKP telah meraih kemenangan besar pada pemilu 2002, ternyata jilbab masih tetap menjadi barang haram di perguruan tinggi dan instansi pemerintah Turki. Hal ini masih terus berlaku hingga saat sekarang. Padahal, dalam penelitian saat ini, ada 65% perempuan Turki yang kini mengenakan jilbab. Kemenangan telak AKP pada pemilu lalu, mudah-mudahan berdampak pada perubahan undang-undang yang akan membolehkan pemakai jilbab. Dan itu memang sudah mulai hangat dibicarakan oleh para aktifis AKP, untuk segera merevisi undang-undang anti jilbab.
Jika itu terjadi dan berhasil, berarti perjuangan panjang Muslimah berjilbab berakhir di sini, setelah sebelumnya selama 83 tahun mereka berada di bawah tekanan sekulerisme ekstrim yang melarang jilbab. (na-str/iol)

Friday, August 31, 2007

Proses panjang menuju kejayaan meneroka Kalam Ilahi

Assalamu alaikum warahmatullah,

Bermula dengan penguasaan Arab di Gontor, berkesinambungan dengan menghafaz ayat-ayat pilihan untuk ditafsirkan secara mudah di kelas-kelas awal di KMI, diperluas dengan mengenali kitab-kitab tafsir seperti al-Qurtubu, Ibnu Kathir, tafsir saintifik al-Jawahir, bahkan sempat membelek2 az-Zamakhsyari, dilanjutkan dengan kajian agak teliti ke atas Tafsir yang lebih moden al-Maraghi telah menanamkan minat yang sangat mendalam untuk menyelami rahsia kemukjizatan al-Quran yang menakjubkana itu.

Terngiang-ngiang ungkapan baginda "Rubba qari wal-Quranu yal'anuhu" ( Alangkah ramainya pembaca al-Quran sedangkan al-Quran itu melaknatnya ). Ia membuatkan sedikit surut daripada melebih-lebihkan berta'amul dan bertafa'ul dengan al-Quran dari aspek tilawah dan tarannumnya.

Penglibatanku sebagai Penyelia KAFA pada awal 1990an telah memberi peluang kepadaku untuk mencermati satu lagi sisi al-Quran iaitu Ilm Rasm atau secara spesifiknya Rasm Uthmani. Rujukan demi rujukan yang kulakukan ke atas kitab-kitab muktabar tentang rasm membuatku semakin kagum dengan al-Quran. Bahkan kursus demi kursus yang melibatkan aku sebagai fasilitatornya berhasil memaksaku untuk membuat lambakan rekod pembacaan al-Quran yang melibatkan contoh-contoh ayat yang perlu diperhatikan untuk mempraktikkan rasm Uthmani.

Sejarah penghasilan mushaf-mushaf standard Uthmani membuatku semakin kagum dan yakin betapa Allah telah menunaikan janji-Nya untuk memelihara al-Quran dari keusilan tangan manusia. Rasm Uthmani umpama sistem proteksi al-Quran yang unik unuk mengesan penjarahan manusia ke atas teks suci itu. Subhanallah.

Satu sisi yang hampir sepuluh tahun tak berapa kuberi perhatian adalah aspek qiraat dan tarannum al-Quran. Penglibatank secara mendadak dalam 2 bulan terakhir ternyata berbuah nikmat yang tak pernah kutemui sebelum ini.

Mungkin inilah rahsia terserlah dari kecundangan awalku ku di tangan sahabat karibk semasa mengikuti perujian tilawah di peringkat organisasi. Kecenderungan sahabatku untuk mewakili organisasi lain memberi ruang kepadaku untuk mewakili organisasi kami dalam kategori tilawah bertarannum. Jarak masa sebulan untuk bersaing dengan para qari berpengalaman di Melaka ( Zon Pantai Barat PETRONAS) bukanlah cukup panjang untuk seseorang yang tidak pernah begitu serious menekuni tarannum. Mereka terdiri daripada para qari yang pernah kudengar bahkan kukagumi bacaan mereka.

Satu-satunya sumber untuk mempelajari tarannum al-Quran sebagai persiapan adalah bacaan-bacaan Ust Radzi Kamarul Hailan ( Johan Antarabangsa 2000 & 2004 ). Sayangnya aku tak kenal banyak lagu yang beliau gunakan. Aku belum lagi dapat mempraktikkannya dalam ayat-ayat lain.

Persinggahanku di Masjsid Muhibddin Ipoh seperti memberiku peluang menemui bahan bimbingan yang lebih relevan apabila kutemui di luar Masjid itu 2 DVD yang terbaru UstRadzi yang dapat kujadikan panduan untuk mengenal lagu-lagu Bayati, Soba, Hijaz, Nahwand, Rast, Sikah dan Jiharkah.

Usaha gigih menggunakan sebanyak mungkin masa membiasakan aku dengan qit'ah-qit'ah setiap lagu yang dicontohkan oleh UstRadzi telah membolehkan aku menguasai sekurang-kurangnya lagu asas dari DVD tersebut. Bahkan masa tidur pun gunakan untuk mendengar rakaman yang telah kubuat. Ini baru dikatakan makan tilawah, minum tilawah, berjalan tilawah, tidur pun tilawah.

Dengan takdir Allah, aku berjaya menjuarai Zon Pantai Barat, mengalahkan mereka yang dahul kukagumi. Tapi kejayaan yang sangat tipis itu mengajarku untuk lebih gigih lagi mendalami rahsia-rahsia tarannum al-Quran.

Peluang menyertai Seminar Tarannum Antarabangsa di Kelantan pada awal Ogos semakin membatku terkagum-kagum dengan keindahan seni yang dihasilkan dari berta'amul dengan al-Quran. Sheikh Fathi Hasan al-Malji, murid kepada seorang qari legenda Mesir , Sheikh Mustafa Ismail berjaya menyerlahkan lagi keindahan al-Quran dari sudutseni suara. Al-Quran bukan hanya dibaca dengan lahjah Arab secara lughawi tetapi juga diperindah dengan lahjah tarannum Arab yang berkembang bersama dengan penyebaran seninya ke merata dunia. Penjelasan Sheikh Fathi tentang ilmu al-Maqamat berjaya mendedahkanku kepada asas tarannum yang sepatutnya diguna untuk mempersembahkan al-Quran dalam bentuknya yang terbaik kepada pendengarnya.

Persediaan akhir untuk bersaing dengan juara2 Zon PETRONAS memaksaku untuk bekerja lebih gigih memandangkan tarannum bukanlah sisi al-Quran yang selama ini kupandang serious. Bahkan apabila ak mengenali qari-dari dari Pantai Timur dan Johan Menunggu yang kedua-duanya pernah mengalahkan Johan PETRONAS seperti Ust Mohd Nor dan Safree (Labuan), targetku yang tertinggi hanyalah mendapat tempat yang ketiga.

Membaca sebagai peserta lelaki terakhir pada malam 27 Ogos 2007 di Tkt41 Twin Tower, memberiku sedikit tekanan kerana aku amat berharap penantian mempersembahkan hasil pencarianku selama ini berakhir lebih awal. Bacaan yang dipersembahkan terasa meyakinkan sehingga ke lampu kuning. Ak pun tidak tahu bagaimana di saat akhir aku boleh terlanggar baris dalam Surah Yusuf yang suduh berulang kali kubaca menyebabkan aku panik. Kesilapan baris yang pertama diikti pula dengan kesilapan yang kedua tepat sebelum menutup bacaan. Timing yang sudah lari itu juga menyebabkan lagu tak sempat tutup dengan Bayati. Pengalaman sebagai Hakim Tilawah memberitahuku bahawa sudah kehilangan 6 markah dari kesilapan itu sahaja ( 2 fasahah, 2 tajwid dan 2 tarannum ). Sudah terbayang olehku kalau aku berjaya menduduki tempat ke-3 pun sudah cukup bagus . Dan ... benar ia menjadi kenyataan. Aku gagal menduduki tempat yang ketiga pun. Hikmahnya ? Ak perlu menelusuri lebih jauh untuk menyelami rahsia keindahan kalam ilahi ini.

Friday, August 24, 2007

Sekelumit Makna Merdeka

Written by al-Ustaz Mohd Khairuddin Aman Razali at-Takiri
Friday, 24 August 2007


Penjajahan sebuah Negara berlaku apabila Negara tersebut dikuasai oleh orang asing. Islam tidak membenarkan negeri umat Islam dijajah dan dikuasai oleh orang yang kufur kerana ia memberi ruang untuk orang yang kufur kepada Allah memerintah dengan cara yang tidak diizinkan oleh Allah dan seterusnya mengenepikan hokum-hakam dan peraturan Islam. Kesannya membawa kepada berlakunya kezaliman dan lenyapnya keadilan di kalangan manusia.
Menurut kamus dewan, kemerdekaan bererti bebas daripada penjajahan. Bagi Islam kemerdekaan negara bererti kemampuan Negara itu untuk memiliki kuasa yang membolehkan untuk mentadbir sendiri. Dengan kekuasaan itu mereka mampu mentadbir negeri menurut hokum-hakam Allah. Justeru, apabila kuasa dimiliki oleh umat Islam tetapi pemerintahan masih lagi bertunjangkan peraturan yang tidak Islam maka umat itu belum dikira merdeka sepenuhnya.Sebuah Negara yang merdeka mempunyai tanggungjawab untuk mengisi kemerdekaan.
Tanggungjawab umat merdeka disebut oleh Allah dalam ayat 41 surah al-Haj
الذين إن مكناهم في الأرض أقاموا الصلاة و آتوا الزكاة و أمروا بالمعروف و نهوا عن المنكر و لله عاقبة الأمور
Maksudnya: “Mereka yang sekiranya kami berikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi, mereka menegakkan solat, menunaikan zakat dan menyuruh melakukan kebaikan dan mencegah kemungkarn. Dan hanya milik Allah kesudahan segala urusan.”

Friday, April 27, 2007

Iman sumber kekuatan mukmin

Iman adalah sumber kekuatan. Ia memelihara seseorang dari sikap memandang remeh kepada dosa.Orang yang lalai dan suka dengan maksiat sebenarnya ia tak punya kekuatan. Krisis iman merupakan akar dari segala krisis. Jiwa yang kosong tanpa iman tidak akan dapat menuntun pemiliknya ke jalan yang benar. Begitu juga lemahnya interaksi, keterlibatan, dan tanggung jawab seorang muslim terhadap berbagai kewajiban Islam dan dakwah hanyalah cermin dari krisis iman yang bersemayam dalam hati.

Itulah inti taujih Rasulullah, tatkala seorang sahabat bertanya kepadanya “Kenapa engkau melakukan puasa terus menerus?” Rasul menjawab, "Siapakah di antara kalian yang seperti aku. Aku bermalam dan Tuhanku memberiku makan dan minum."(HR. Bukhari)



Sabda Rasulullah Allah ‘memberiku makan dan minum’, adalah majaaz (kiasan) yang menggambarkan akibat makan dan minum, yakni timbulnya kekuatan. Seolah-olah Rasulullah saw bersabda, Allah memberiku kekuatan orang yang makan dan minum, dan memberiku sesuatu yang menggantikan makan dan minum, memberiku kekuatan untuk mengerjakan berbagai macam ketaatan tanpa berkurangnya kekuatan, tanpa rasa lemah, jemu, dan sebagainya. (Fathul Barii 4/207/208)

Seorang mukmin yang imannya hidup, akan merasakan bahwa kerinduannya pengisian bathin jauh lebih besar dibandingkan konsumsi makanan. Oleh kerana itu, seharusnya seorang mukmin memerlukan bekalan kekuatan ruhiyah jauh lebih besar dari bekalan
jasadiyah.

Semua orang dituntut untuk memelihara dan meningkatkan iman dengan melakukan pendekatan diri kepada Allah swt. Peranan kita sendirilah yang paling besar agar dapat memelihara kestabilan dan kualiti iman. Caranya adalah dengan disiplin melakukan tilawatul-Quran, tafakkur, rutin membaca doa pagi serta petang, serta ibadah sunnah. Kesinambungan amal harian, meski pun sedikit, akan membuat stamina iman kita tetap kuat menghadapi berbagai gangguan.

Hikmah memperdalami makna dan kualiti iman bagi perjuangan dakwah juga dapat dipetik melalui manhaj tarbiyah Allah kepada generasi pertama. Kesukaran yang dialami di awal fajar dakwah, taujih Robbani tidak bergeser dari fokus penanaman aqidah yang orientasinya tidak lain, pemantapan iman.

Setelah melewati fasa tarbiyah itulah, lahirlah para rijal da’wah yang kekukuhan jiwa mereka melebihi kemampuan serta ketahanan fisiknya. Keberanian yang muncul dari semangat iman menyediakan diri mereka untuk syahadah. Faktor inilah yang menjadikan mereka layak memperoleh pertolongan Allah, melalui kemenangan yang hampir tak pernah putus.

Seorang mukmin tidak akan dapat menemui kekuatan lain, melebihi iman yang yang mencekam di hati. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 24-25) Wallahu’alam

Monday, April 09, 2007

Dakwah Tidak Dapat Dipikul Orang Manja

Dakwah Tidak Dapat Dipikul Orang Manja
Oleh: DH Al Yusni
(Dialihbahasa ke Bahasa Melayu oleh pemilik blog.)



Wahai Saudaraku yang dikasihi Allah.

Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh cabaran dan rintangan berat.

Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang terpaksa berpisah sanak-saudara. Ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.

Cubalah kita renungkan kisah Zatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meridhai mereka. Kaki-kaki mereka terkoyak dan kuku tercabut. Namun mereka tetap mengharungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan nama mereka terukir dalam lipatan sejarah umat dakwah ini selamanya.

Pengorbanan yang telah mereka sumbangkan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita semua kerana kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi. Dan, kita pun dapat merasai hasilnya dengan gemilang. Pengaruh Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah bertambah besar. Semua itu kurniaan yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para perintis dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.

Duhai saudaraku yang dirahmati Allah swt.

Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42.

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengharungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Saudaraku seperjuangan yang dikasihi Allah swt.

Sebaliknya orang-orang yang kukuh jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.

Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At-Taubah: 45-46)

Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan indikasi kuat daya tahannya yang tangguh dalam dakwah ini. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.

Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.

Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna orang yang sepulang dari tempatnya bekerja sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, ia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang membukakan pintu gerbangnya.

Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail pamit untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan taksi dan kereta mewah, tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Karena itu, pakailah ongkos ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirahat sejenak.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan umum saja.”

Duhai saudaraku yang dimuliakan Allah swt.

Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang tidak akan pernah dipungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)- mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Al Ahzab: 23)

Wahai ikhwah kekasih Allah swt.

Pernah seorang pejuang Palestin yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya, karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih bererti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.

Wahai saudaraku seiman dan seperjuangan

Aktivis dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan ecek-ecek lainnya yang telah kita lakukan. Coba lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima resiko karena kesabaran yang ada pada dirinya.

Kesabaran adalah kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah swt.

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 146)

Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.

Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakah merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan. Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan. Wallahu’alam.

Sumber : Dakwatuna

Wednesday, November 22, 2006

Bersyahadah Sahajalah untuk Mengelak Fitnah

Takrif "iman" yang diterima pakai secara meluas adalah "mengakui benar (tasdiq) di dalam hati, mengaku (taqrir) dengan lisan dan mengamalkannya dengan anggota (tubuh)".

Iman itu memang terpentingnya adalah yang ada di hati. Tapi urusan hati ini hanya diketahui antara Allah dan hamba itu sendiri. Manusia lazimnya tidak dapat menghukumkan secara nyata apa yang ada di hati.

Lantaran itu, di zaman Rasulullah saw pun orang2 munafiq tidak dihukum secara duniawi. Hanya sahaja Allah menyingkap satu-persatu perwatakan mereka melalui firman-Nya , di antaranya adalah ayat 8-20 surah al-Baqarah, dan lisan Rasul-Nya yang mengungkapkan ciri-ciri nifaq. Para sahabat mengenali sikap2 nifaq yang zahir di kalangan Abdullah ibn Ubay dan sekutunya tapi mereka tetap diperlakukan secara zahirnya seperti orang Islam.

Namun demikian ada perkara yang penting dizahirkan secara nyata. Jika ia disembunyikan dari manusia, maka ia akan menimbulkan fitnah. Menzahirkannya juga tidak dihukumkan riya, bahkan ia memberi kesan positif ke arah menyuburkan yang ma'ruf dan mencegah kemunkaran.

Kenapa solat berjamaah begitu diambil berat contohnya? Bukankah urusan solat itu hal peribadi antara seseorang abid dengan Ma'bud-Nya (Tuhan ) ? Tidak cukupkah dengan solat secara bersembunyi dan membiarkan manusia tertanya-tanya sama ada kita ini beriman kepada Allah atau pun tidak ? Memang bukan itu tujuan utama solat berjamaah. Tapi tidak juga tertolak bahawa selain daripada tujuan kesatuan ummah dan mengeratkan ukhuwwah, terdapat di dalamnya unsur pembuktian iman dengan amal yang dapat dinilai secara eksplisit oleh manusia di sekeliling kita. Dengan disaksikan oleh mata kepala orang sekeliling kita seseorang itu solat berjamaah bersama dengan kata , ternyata dia dapat dikenali dengan pasti sebagai seorang muslim. Namun urusan hati dia, munafiq atau riyak, adalah antara dia dengan Allah. Urusannya sesama manusia telah pun terpenuhi.

Fikirkanlah kenapa ditekankan pentingnya kita mengadakan walimah apabila sudah ijab kabul walaupun hukumnya sunat ? Kenapa kita mesti menutup aurat walaupun ada yang beralasan bahawa yang penting itu adalah menjaga iman di hati ? Fikirkanlah kenapa kita sebaiknya menzahirkan akad jual-beli sebagai tanda ridha untuk memastikan status harta itu telah berpindah-milik ?

Sedangkan perkara yang kita anggap sunnah atau mustahabb sahaja pun dianggap penting untuk menzahirkannya dan mengelakkan fitnah dan prasangka liar berlaku. Inikan pula persoalan iman dan ke-Islaman kita.

Hanya orang kafir ( maaf kalau perkataan ini pun ikut menyinggung sebahagian kita seperti tersinggungnya Lim Kit Siang/Karpal Singh/Samy Vellu di Parlimen mendengarnya ) yang menganggap bahawa agama itu urusan peribadi antara dia dengan Tuhan. Di dalam Islam kita tidak berpegang kepada fahaman bahawa agama adalah urusan yang terhad dalam lingkungan kepercayaan semata-mata. Tuntutan untuk kita beriman dan masuk Islam kepada secara kaffah ( menyeluruh) juga bermakna menzahirkan apa yang sepatutnya diamalkan secara zahir, dari urusan peribadi ke urusan negara dan ummah.

Bersyahadah adalah pintu masuk kepada iman. Ia juga pembuktian zahir yang dapat dinilai oleh setiap manusia di sekeliling kita bahawa kita adalah seorang yang beriman dan layak diajak bergaul diperlakukan serta dihukum sebagai seorang muslim. Apabila kita meninggal maka menjadi kewajiban (fardu kifayah) bagi sekelompok orang Islam di sekeliling kita untuk menyempurnakan jenazah kita sebagai seorang muslim. Kalau pun -auzubillah- seseorang itu murtad tanpa diketahui, org Islam di sekelilingnya telah terlepas dari kewajiban mereka kepada Allah .. yang tinggal hanya urusan si murtad itu dengan Tuhannya.

Sebab-sebab terbatal dan terlucutnya syahadah seseorang juga dibicarakan secara panjang lebar oleh ulama muktabar seperti Dr Yusuf al-Qardawi, Sa'id Hawwa, Ibnu Baz dll. Kalau kita cuba memahami sedalamnya begitu banyaknya pintu2 keluar dari syahadah nescaya kita akan sangat berhati-hati dengan tutur-kata dan perbuatan kita umpama seseorang yang digambarkan oleh Sayyidina Umar berjalan di jalan yang penuh duri sebagai tanda takwanya !

Sebagai seorang yang beriman, lidah kita tidak akan sanggup mengungkapkan kata-kata seperti "saya tidak perlu memberi tahu sama saya masih Islam atau tidak", "Itu urusan antara saya dengan Tuhan" , "This is not a judgement day", "Saya tidak perlu mengucap!" dan membiarkan saudara se-Islam yang menyayangi kita tertanya-tanya dan resah dengan kerenah kita ?

Lagipun apalah susahnya bersyahadah "AKU BERSAKSI BAHAWA TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH, DAN AKU BERSAKSI MUHAMMAD ITU PESURUH ALLAH". Seorang muslim sanggup melakukannya walau beberapa kali pun jika diminta bahkan berbangga melafazkanya. Bukankah setiap hari kita dengan mudah dan kadang-kadang tak tersedar yang kita mentajdidkan syahadah kita.

Memang ada yang bersyahadah tanpa maksud mengimaninya seperti Prof Khoo Kay Kim yang terbiasa mengucapkan "La ilaha Illa Allah " atau seperti Meenachi yang disebut oleh posting sebelum ini. Jika ia mengucapkannya tanpa niat beriman dan mengaku pula tidak bermaksud mengimani sudah tentu tidak diterima sebagai tanda Islam. Bahkan jika diucapkannya dengan maksud beriman di hati namun di lisannya ia mengatakan ia tidak beriman, mungkin kerana ancaman/tekanan/jaga air muka, maka Allah akan menilai dari hatinya ... terserah kepada Allah. Tapi sebagai manusia biasa, kita hanya dapat menilai melalui pengakuannya.

Maka dalam kes mengelak fitnah yang boleh menimbulkan keraguan yang bersifat begitu merata ke segenap tubuh ummat, apalagi oleh seorang tokoh yang disayangi saudaranya kerana kewiraannya, maka lebih patut lagi baginya untuk menghilangkan fitnah ini dengan melakukan sesuatu yang tidak menuntut pengorbanan yang berat selain dari melafazkan syahadah. Apakah kerugiannya kepada dia kalau sahaja dia mahu mengucapkan kalimah syahadah itu pada kesempatan yang begitu baik tanpa perlu pihak ketiga di sebelahnya untuk membuat kesimpulan bahawa dia 'masih seorang muslim', 'tidak ada kena-mengena antara kepercayaan dan perbuatan [?]", 'dia tak pernah keluar Islam'. Bukankah sikap seperti itu menimbulkan lebih banyak kekaburan daripada memberi jawaban yang boleh menyingkapkan kebenaran dan kejelasan ?

Apapun sebagai manusia yang lemah, diberi kemampuan akal yang amat terbatas, kita hanya dapat memberi penilaian berdasarkan apa yang kita saksi dan dengar. Urusan hati tetap kepada Allah jua. Urusan sesama manusia akan diputuskan mengikut hukum zahir !

Semoga sahaja Allah menanamkan nikmat izzah dengan iman di diri kita semua .

Abu Faiz
221106

Sunday, October 15, 2006

Nasyid Kristian di Indonesia

(Ubahsuai ke Bahasa Melayu/Malaysia oleh Pemilik Blog)
Kaedah Dakyah Murtad Terkini : Nasyidh Nasrani
Fakta 15 Oct, 06 - 5:06 am

Biasanya, lirik nasyid mengandungi mesej dakwah dan peringatan bagi umat Islam. Meski bukan warisan Nabi, nasyid diminati kebanyakan umat Islam Indonesi dan ia dianggap sebahagian dari budaya Islam. Namun para peminat nasyid harus waspada kerana sentuhan seni ala nasyid (kini) boleh jadi alat untuk membawa dakyah murtad oleh para muballigh Kristian.

Di Lamongan, Jawa Timur seorang muballigh Kristian telah mengeluarkan album nasyid Nasrani yang mengandung enam lagu berbahasa Arab dan dua lagi berbahasa Indonesia dan Ibrani. Keenam lagu berbahasa Arab itu berjudul "Isa Almasih Qudrotulloh"(Isa adalah Kuasa Allah), "Allahu Akbar"(Allah Maha Besar), "Laukanallohu Aba'akum"(Jika Allah adalah Bapamu", "Isa Kalimatullah"(Isa adalah Kata-kata Allah), "Ahlan Wasahlan Bismirobbina"(Selamat Datang Wahai Tuhan Kami), "Nahmaduka Ya Allah"(Kami Memujimu Ya Allah ). Pada kulit album sepanjang 40 menit itu terdapat hiasan kaligrafi khas Arab yang melingkari kata "Ta'alau ilayya"(Datanglah kepada-Ku). Orang awam mudah keliru dan menyangka tulisan Arab itu sebagai kaligrafi al-Qur'an. Padahal, kaligrafi ini berbunyi : "Ta'alauu Ilayya ya jamili'al mu'tabiina watstsaqiilii al-ahmaali qa ana urihukum. Kalimat ini adalah terjemahan bahasa Arab Injil Matius 11:28-30, "Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu."

Dalam pengantarnya, vokalis yang mengaku kononnya dia adalah mantan "ustaz" ( ye ke ni ? ) dari Lamongan itu menulis, "Syukron Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yesus karena begitu besar kasih karunia-Nya sehingga album ini dapat disiapkan dengan baik tanpa halangan suatu apapun. Kami sangat berharap, dengan album bahasa Arab ini, boleh menjadi berkat untuk semua orang dan dapat dimengerti serta diterima oleh semua masyarakat. Selain daripada itu, semoga lagu bahasa Arab ini dapat mengubah paradigma masyarakat akan ajaran Kristian secara benar."

Jelas sudah, lagu Kristian berirama padang pasir ini bertujuan menjajakan ajaran Kristen dan doktrin Ketuhanan Yesus pada semua orang. Langkah ini salah besar, karena bertentangan dengan ajaran Yesus.

Pertama, Yesus tak pernah memerintahkan para muridnya untuk memanjatkan puji syukur padanya. Injil Lukas mengisahkan, seorang pengemis buta di Jericho yang disembuhkan Yesus dengan izin Allah hingga dapat melihat, bergembira dengan bersyukur pada Allah, bukan pada Yesus (Injil Lukas 18:35-43). Seluruh rakyat yang menyaksikannya pun turut memuji-muji Allah, bukan Yesus. Ketika memasuki kota Jerusalem dengan menunggang keledai, Yesus diiringi murid-muridnya dengan gembira seraya memuji Allah, bukan Yesus (Lukas 19:35-37).

Para Nabi dalam Perjanjian Lama juga tak ada yang memanjatkan puji-pujian pada Yesus. Mereka hanya memuji dan bersyukur pada Allah. Nabi Daud mengajarkan untuk memuji Allah (I Samuel 25:32, Mazmur 41:14, mazmur 113:1, Mazmur 150:1). Selain itu, memanjatkan puji syukur pada Yesus nertentangan dengan Alkitab.

"Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan" (Daniel 2:20)

Kedua, Yesus menyeru kepada murid untuk menyebarkan ajarannya hanya pada "domba-domba yang hilang" dari umat Israel. Mewartakan ajaran Yesus pada bangsa lain adalah sebuah penyimpangan di mata Yesus (Injil Matius 10:5-6)

Pada side A di mulai dengan lagu "Isa Almasih Qudrotulloh". Liriknya antara lain berbunyi, "Isa Almasih Qudrotulloh. Lianna fiihi a'laanallohu. Ana huwa thooriiqu walhaqqu walhabaatuhu. Laa baaji'uu ahadun ilal aba illa bib". Dalam album ini, kalimat tersebut diertikan : "Isa Almasih kekuatan Allah, di dalam dia nyata kebenaran-Nya. Akulah jalan, kebenaran dan hidup, tak seorangpun yang datang kepada Bapa kecuali melalui aku."

Para muballigh menganggap, umat islam akan tertipu dengan hal - hal yang berbau Arab. Mereka berharap, umat Islam boleh diheret kepada doktrin Kristen melalui "budaya Islam" sendiri. Padahal, umat Islam tak sebodoh itu.

Umat Islam justru akan tertawa, mencibir alunan muballigh ini. Apatah lagi, syair yang didendangkan menyalahi kaidah bahasa Arab.

Kata "al-qudrotu" dan "al-hayatu" yang seharusnya ditulis dengan huruf ta' marbuthph (tertutup) justru ditulis dengan huruf ta' maftuhah (terbuka). Kata "almasiihu" ditulis tanpa memakai huruf "ya". Kata "ath-thoriiqu" yang seharusnya "ma'rifah" (definite) tulis "nakirah" (indefinite). Kata "al-hayaatu" yang sudah jelas ma'rifat, dijadikan mudhof (disandarkan) pada dhomir (kata ganti) "hu" (dia). Ini membuktikan, muballigh yang mengaku dirinya bekas 'Ustaz" itu cukup meragukan.

Syair "Lianna fiigi a'laanallohu" yang diterjemahkan menjadi "di dalam dia nyata kebenaran-Nya", sama sekali tak jelas maksudnya. Kata "a'laan" berasal dari "a'lana-yu'linu" yang berarti "mengumumkan". Kata "i'laan" berarti "pengumuman".

Di dalam Bahasa Melayu diserap menjadi "iklan". Maka "lianna fiihi a'laanallohu" tak bisa diterjemahkan dengan tepat karena akan menyalahi kaidah bahasa Arab. Dalam injil berbahasa Arab, syair ini terdapat dalam tulisan Paulus yang memusuhi Yesus. "Lianna fiihi mu'lanun birrullohi" (sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah). (Kitab Roma 1:17).

Syair yang paling ketara silapnya adalah "Ana huwa thoriiqu wal-haqqu wal-habaatuhu. Laa baaji'uu ahadun ilal aba illaa bib". Jika kalimat ini ditanyakan pada orang Arab, mereka tidak ada yang paham. Kalimat ini diambil dari Injil Yohanes 14:6 yang sangat populer di gereja. Dalam ayat ini, teks Arab yang benar adalah "ana huwa ath-thoriiqu wal-haqqu wal-hayaatu. Laisa ahadun ya'tii ilal aabi illaa bii".

Jika para muballigh Kristian tak mahu disebut "Ente Bahlul", sebaiknya nasyid ini ditarik dari peredaran.

(bersambung/sabili)

Tuesday, October 10, 2006

A Poem by Amatullah Armstrong

Travelling
towards the Truth,

the self seeking the Light.



Not
the light of the stars

nor that of the moon.

Greater even than

the splendour of the sun.


Slowly
the self breaks its fetters.

The moment of return has arrived.


The
“Bird of Paradise”

rises from the carpet,

soars through the firmament

and onwards!


To
the Source of All Light.


And
truly,

the sky is not the limit

for this yearning bird-flower self!

Menyingkap Hijab

Saudaraku,

Terbukanya hijab antara kita dengan Allah adalah sumber ketenangan dan kebahagiaan hidup. Apabila hijab telah tersingkap, semua yang kita alami hanyalah nikmat belaka. Manakan tidak sedangkan kita tengah merasakan kehadiran Allah Azza wa Jalla. Lebih jauh lagi, kita akan "melihat" Allah dalam setiap kejadian. Inilah keindahan tak bertepi.

Patutlah Rasulullah SAW merasa hairan terhadap orang-orang Mukmin orang yang telah terbuka hijabnya. Sebab semua yang dialaminya selalu berbuah kebaikan. Diberi kenikmatan ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Demikian pula ketika ia diberi ujian, ia bersabar, dan sabar adalah kebaikan baginya. Dengan sabar ia pun bisa lebih dekat lagi dengan Allah.Orang yang telah makrifat dan terbuka hijabnya, hatinya dipenuhi keyakinan bahwa Allah akan selalu menolong.

Lihatlah bagaimana ketika Da'tsur menodongkan pedang ke leher Rasulullah SAW," Wahai Muhammad, siapakah yang akan menolongmu sekarang?"
"Dengan gaya yang begitu yakin beliau menjawab .... Allah!"
Serta-merta Du'thur merasa badannya gementar. Pedangnya langsung terjatuh. Rasulullah, dengan izin Allah, mampu melakukan hal tersebut, karena beliau tidak ada lagi hijab dengan Allah. Keyakinannya mendatangkan pertolongan Allah. Kata-katanya tak ternilai dan sangat berbobot.

Ciri khas orang yang telah makrifat adalah lebih fokus pada dalang dari pada wayang. Hatinya akan lebih tertambat pada Allah dari pada kepada makhluk. Boleh jadi penglihatannya sama dengan orang lain. Namun ada nilai tambah dari penglihatannya tersebut. Melihat wang misalnya. Orang yang hatinya terhijab dari Allah, melihat wang hanya dari bendanya saja, bahkan bagaimana dengan uang tersebut syahwatnya terpuaskan. Tidak demikian dengan orang yang ma'rifat, hadirnya wang adalah hadir syukur. Hadirnya wang membuat keinginannya menggebu untuk sentiasa dekat dengan Allah. Tak hairan, dengan ma'rifat, puncak-puncak kemuliaan akhlak akan menjadi bagian dari diri.

Orang-orang makrifat itu jumlahnya sangat sedikit. Mereka boleh datang dari kalangan mana saja, tidak semestinya dari kalangan ulama. Boleh jadi seorang tukang sapu, pegawai rendahan, pedagang, pekerja, dsb. Cirinya sangat ketara kerana matlamat hidup mereka sentiasa bertumpu kepada Allah. Kesannya, hidup mereka sangat terpelihara. Dipuji dicaci, ada wang atau tidak sama saja bagi mereka. Ia tidak mempersoalkan kaya atau miskin, cantik atau tidak, sebab ia yakin bahwa semua ada dalam kekuasaan Allah. Semua mengandung kebaikan yang akan mendekatkannya kepada Allah. Alangkah indahnya bila kita termasuk salah seorang dari mereka!

Bila terbukanya hijab menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan hidup, maka sebaliknya, tertutupnya hijab dan butanya hati dari mengenal Allah menjadi sumber kesengsaraan dan nestafa dalam hidup.

Saudaraku,

Rasa cemas, muak, marah, tertekan serta tidak tenang akan lahir bila kita lebih fokus pada makhluk dibanding kepada Allah Al Khalik. Ibnu Atha'ilah mengungkapkan, "Sesungguhnya yang menyebabkan kerisauan hati dari segala sesuatu itu, disebabkan karena mereka masih terhijab (tidak melihat Allah dalam apa yang mereka lihat), tetapi andaikan mereka telah melihat Allah dalam tiap sesuatu, pastilah hatinya tidak lagi merasa risau."

Bagaimana caranya supaya boleh makrifat? Bagaimana kita boleh menyingkap hijab diri? Tiap-tiap orang memiliki hijab yang berbeza. Ada yang terhijab karena harta. Tandanya ia sangat takut kehilangan harta, hati dan pikirannya hanya disibukkan harta. Latihan menyingkapnya adalah dengan banyak memberi, usahakan memberi apa yang disenangi.

Ada pula yang terhijab oleh kedudukan. Cirinya bangga terhadap kedudukan yang disandang dan sangat takut kehilangan. Maka cara membukanya adalah menanamkan keyakinan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Imam Al Ghazali mencontohkan. Saat sedang berada di puncak kerjaya, tidak segan-segan ia mengambil sampah, membawakan barang-barang di pasar, dan sebagainya. Sesuatu yang dianggap orang pekerjaan hina.

Ada pula yang hijabnya kecintaan yang berlebihan terhadap pasangan hidup, anak, keluarga, ilmu, atau pun lawan jenis yang belum halal. Bahkan ada pula yang hijabnya berlapis-lapis. Bila demikian, maka usaha untuk membuka hijabnya harus luar biasa beratnya. Intinya, hijab dunia latihannya dengan zuhud, ibadah dan doa. Berlatihlah untuk banyak mengingat Allah, di mana pun dan kapan pun. Pahami keutamaannya. Melihat apa pun kaitkanlah selalu dengan Allah, jangan hanya kepada makhluk. Wallaahu a'lam.


( Diadaptasi dari KH Abdullah Gymnastiar di Republika )

Jangan Pendang Rendah orang Berdosa

Jangan Memandang Rendah Orang Berdosa

"Kemaksiatan yang menimbulkan rasa rendah hati dan harapan (akan rahmat dan kasih sayang Allah) lebih baik daripada taat yang membangkitkan rasa mulia diri dan keangkuhan." (Ibnu Atha'ilah).

Di suatu masa dahulu, ada seorang 'abid (ahli ibadah) dari kalangan Bani Israil. Masa sehariannya sentiasa diisi dengan taqarrub kepada Allah. Karena kesalehannya, Allah SWT selalu melindunginya. Ke mana pun ia pergi, awan-awan akan bergerak melindunginya dari sengatan sinar matahari, sehingga badannya tidak kepanasan.

Suatu hari, Allah SWT mempertemukan ahli ibadah ini dengan seorang wanita pelacur. Saat melihat sang 'abid, timbul dalam hati pelacur ini keinginan untuk bertobat. Ia mendekati 'abid ini dengan harapan agar ia sudi memintakan ampun kepada Allah. Namun apa yang terjadi? Saat pelacur itu mendekat, timbullah rasa jijik dalam hati sang 'abid. Dengan kata-kata menyakitkan, ia mengusir pelacur tersebut untuk menjauh darinya. Ia merasa dirinya suci dan takut kesuciannya ternoda oleh seorang pelacur rendahan.

Rasulullah SAW menceritakan akhir kisah ini bahwa Allah mengampuni seluruh dosa pelacur itu dan mencabut keistimewaan sang 'abid serta membatalkan semua amal yang pernah dilakukannya. Allah telah meletakkannya pada kedudukan yang hina. Sampai-sampai seorang lelaki berani memijak tengkuk ahli ibadah ini semasa ia bersujud di tempat tafakurnya.

Ibnu Atha'ilah dalam kitab Hikam mengulas kisah ini, "Sesungguhnya, kemaksiatan yang menimbulkan rasa rendah hati dan harapan (akan rahmat dan kasih sayang Allah) lebih baik daripada taat yang membangkitkan rasa mulia diri dan keangkuhan."

Saudaraku, tidak ada manusia sempurna di dunia ini, selain Rasulullah SAW. Semulia dan setinggi apa pun derajat seseorang, pasti ia pernah melakukan dosa dan kesalahan. Karena itu, tidak sepatutnya kita menghina dan merendahkan orang karena kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Ketahuilah, saat kita menghina dan merendahkan mereka, sebenarnya saat itu pula kita telah merendahkan dan menginakan diri kita sendiri. Kecuali terhadap orang-orang yang memang telah direndahkan Allah.

Hakikatnya, selain dengan amal ibadah, Allah pun boleh sahaja mengangkat darjat seseorang karena dosa-dosanya. Bagaimana mungkin? Saat seseorang berdosa dan menyesali dosa-dosa yang dilakukannya, kemudian terus-menerus meminta ampun kepada Allah, ia pun gigih menjauhi dosa, serta berusaha menebus dosa-dosa tersebut dengan kebaikan, maka yakinlah, saat itu pula Allah SWT akan mengangkat darjatnya.

Firman Allah :
"Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS At Tahriim [66]: 8).

Saudaraku, jangan pernah menghina dan merendahkan orang lain karena kekurangannya. Apalagi kalau sampai meenghebahkannya samapai diketahui orang ramai. Kita dianggap baik oleh orang, hakikatnya karena Allah masih menutupi aib-aib kita. Jangan sampai anugerah Allah ini kita khianati. Menurut Rasulullah SAW, saat kita gemar membuka aib orang lain, maka Allah pun akan membukakan aib dan kekurangan kita kepada orang lain. Na'uzubillah! Maka jadikan diri kita umpama kuburan bagi aib orang lain. Saat mendengar aib saudara kita, segera kubur dan jangan sampai ia terdedah kecuali dalam keadaan yang dibenarkan agama.

Bagaimana caranya agar kita boleh bersikap adil melihat diri dan orang lain, supaya kita tidak terjebak ke dalam sikap merendahkan orang dan menganggap mulia diri? Berani mengakui kebaikan dan kelebihan orang lain. Bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain. Lihat kekurangan diri sendiri. Serta lupakan jasa dan kebaikan diri. Wallaahu a'lam.

( Diadaptassi dari Kolum KH Abdullah Gymnastiar di REPUBLIKA)

Saturday, September 30, 2006

Dr Zakir Naik invites Pope Benedict XVI for open interfaith dialogue

Dr Zakir Naik invites Pope Benedict XVI for open interfaith dialogue

The Pakistani Newspaper

Eminent scholar of comparative religion Dr. Zakir Naik has invited Pope Benedict XVI for an open inter-faith dialogue.

The Pope’s recent statement, which included a quote from a 14th century Byzantine emperor, sparked outrage in the Muslim world. In his latest efforts to calm down the Muslim anger the Pope invited diplomats from 20 Islamic countries at his summer residence in south of Rome.

This extraordinary gathering was seen as the latest effort by Benedict XVI to quell the furor stirred two weeks ago by controversial remarks he made about Islam. He is attempting to channel the emotion into what he calls an authentic and respectful dialogue.

Dr. Naik sees the Pope’s statement on Islam as pre-planned. "He (the Pope) knew very well what he was speaking at University of Regensburg in Germany on September 12," he said.

"The Pope’s apology to the Muslims was at all not an apology rather it was putting salt on the wounds," said Dr. Naik, adding that the Pope should have explicitly apologized and retracted his statement.

Benedict XVI seems to be toeing the same line of neo-con as that of President George Bush, he said.

Dr. Naik said if the Pope wants to initiate an authentic dialogue then he is more than willing to participate in such an inter-faith debate.

"I am more than willing to participate in the inter-faith dialogue with Pope Benedict XVI. I am ready on any topic he (the Pope) wishes as long as it focuses on Qur’an and the Bible," Dr. Naik said.

He said he can go to Rome or Vatican to meet the Pope.

"I can go to Rome and to Vatican on my own expense if an Italian visa is arranged for me," he told ONLINE after delivering his lecture on "20 most common questions about misconceptions of Islam," organized by Sri Lankan Embassy in Riyadh, attended by a number of ambassadors, diplomatic staff and members of the Sri Lankan community.

Dr. Naik during the past three years has delivered over 600 lectures in the US and Canada.

"I am absolutely ready for an open and public debate with the pope under live international TV coverage," he said.

Let the 1.3 billion Muslims and 2 billion Christians around the world listen to the debate based on equal slot of time allotted to both sides, he said. "It is not only a debate but also a question and answer session allowing the people to ask queries," he said.

He said he is not in favor of closed-door meeting with the Pope, as was suggested by his predecessor Pope John Paul II, when South African-based Islamic scholar Ahmed Deedat invited him for open dialogue, he said.

"Pope John Paul told Shaikh Deedat to come to his cabin for a debate," he said and added why does the inter-faith dialogue be held behind closed doors?

Dr. Naik said the best way to counter the onslaught on Islam is that the Muslims should have their own media.

"Unfortunately, most of the international media is controlled by the Western (lobby). Unless you (Muslims) have your own media they (Westernerns) can very conveniently convert black into white, day into night, a hero into a villain and a villain into a hero," he said.

Dr. Naik, who has launched his own religious satellite channel called Peace TV, said Muslims do have their own media but what he meant by international media is similar to the Time and Newsweek and TV channels such as the BBC and CNN, when Muslims can project their views and convey the message in right perspective. "I have a future plan to launch a news channel," he said.

He said there are at least 100 Muslims that he knew, who can take such an initiative and launch at least 10 satellite channels. People should not wait for Muslims organizations such as IIRA or OIC to take steps in this direction, he said.

"Any individual businessman can take the initiative if Muslim bodies such as OIC or IIRA are not coming forward in this direction," he said.

Dr. Naik has also endorsed former Malaysian prime minister Mahathir Muhamamd’s views that the Muslims should stop to operate US dollar-denominated bank accounts. "I have been preaching (that) Muslims should stop dealing in dollar," he said.

He also called on the Muslim world to launch an Islamic currency to counter dealing in dollar. Muslim countries should not peg their currencies to the dollar. "By that time the individuals and businessmen should stop dealing in dollar," he said.

He said he has been mobilizing the people wherever he goes asking them not to keep dollar accounts or even the currency. The moment you exchange dollars you simply convert that amount with any currency such as riyal, dirham, dinar or be it yen or euro "but not to keep in dollar-denomination account," he said.

Enam Pertanyaan Imam al-Ghazali

Suatu hari, Imam al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam beliau bertanya bebeapa hal.

Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?. "

Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam al-Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (QS. Ali Imran 185)

Lalu Imam al-Ghazali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".

Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar, ujarnya, adalah "MASA LALU."

Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam al-Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?".

Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (QS. Al- a'araf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".

Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (QS. Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".

Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam al-Ghazali. Namun menurut beliau yang paling ringan di dunia ini adalah 'meninggalkan SHALAT'. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan shalat, gara-gara meeting kita juga tinggalkan shalat.

Lantas pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".

Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam al-Ghazali. Tapi yang paling tajam adalah "lidah MANUSIA". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. [hidayatullah.com]

We cannot afford to maintain these ancient prejudices against Islam

Karen Armstrong

In the 12th century, Peter the Venerable, Abbot of Cluny, initiated a dialogue with the Islamic world. “I approach you not with arms, but with words,” he wrote to the Muslims whom he imagined reading his book, “not with force, but with reason, not with hatred, but with love.” Yet his treatise was entitled Summary of the Whole Heresy of the Diabolical Sect of the Saracens and segued repeatedly into spluttering intransigence. Words failed Peter when he contemplated the “bestial cruelty” of Islam, which, he claimed, had established itself by the sword. Was Muhammad a true prophet? “I shall be worse than a donkey if I agree,” he expostulated, “worse than cattle if I assent!”

Peter was writing at the time of the Crusades. Even when Christians were trying to be fair, their entrenched loathing of Islam made it impossible for them to approach it objectively. For Peter, Islam was so self-evidently evil that it did not seem to occur to him that the Muslims he approached with such “love” might be offended by his remarks. This medieval cast of mind is still alive and well.

Last week, Pope Benedict XVI quoted, without qualification and with apparent approval, the words of the 14th-century Byzantine emperor Manuel II: “Show me just what Muhammad brought that was new, and there you will find things only evil and inhuman, such as his command to spread by the sword the faith he preached.” The Vatican seemed bemused by the Muslim outrage occasioned by the Pope’s words, claiming that the Holy Father had simply intended “to cultivate an attitude of respect and dialogue toward the other religions and cultures, and obviously also towards Islam”.

But the Pope’s good intentions seem far from obvious. Hatred of Islam is so ubiquitous and so deeply rooted in western culture that it brings together people who are usually at daggers drawn. Neither the Danish cartoonists, who published the offensive caricatures of the Prophet Muhammad last February, nor the Christian fundamentalists who have called him a paedophile and a terrorist, would ordinarily make common cause with the Pope; yet on the subject of Islam they are in full agreement.


Our Islamophobia dates back to the time of the Crusades, and is entwined with our chronic anti-semitism. Some of the first Crusaders began their journey to the Holy Land by massacring the Jewish communities along the Rhine valley; the Crusaders ended their campaign in 1099 by slaughtering some 30,000 Muslims and Jews in Jerusalem. It is always difficult to forgive people we know we have wronged. Thenceforth Jews and Muslims became the shadow-self of Christendom, the mirror image of everything that we hoped we were not - or feared that we were.

The fearful fantasies created by Europeans at this time endured for centuries and reveal a buried anxiety about Christian identity and behaviour. When the popes called for a Crusade to the Holy Land, Christians often persecuted the local Jewish communities: why march 3,000 miles to Palestine to liberate the tomb of Christ, and leave unscathed the people who had - or so the Crusaders mistakenly assumed - actually killed Jesus. Jews were believed to kill little children and mix their blood with the leavened bread of Passover: this “blood libel” regularly inspired pogroms in Europe, and the image of the Jew as the child slayer laid bare an almost Oedipal terror of the parent faith.

Jesus had told his followers to love their enemies, not to exterminate them. It was when the Christians of Europe were fighting brutal holy wars against Muslims in the Middle East that Islam first became known in the west as the religion of the sword. At this time, when the popes were trying to impose celibacy on the reluctant clergy, Muhammad was portrayed by the scholar monks of Europe as a lecher, and Islam condemned - with ill-concealed envy - as a faith that encouraged Muslims to indulge their basest sexual instincts. At a time when European social order was deeply hierarchical, despite the egalitarian message of the gospel, Islam was condemned for giving too much respect to women and other menials.

In a state of unhealthy denial, Christians were projecting subterranean disquiet about their activities on to the victims of the Crusades, creating fantastic enemies in their own image and likeness. This habit has persisted. The Muslims who have objected so vociferously to the Pope’s denigration of Islam have accused him of “hypocrisy”, pointing out that the Catholic church is ill-placed to condemn violent jihad when it has itself been guilty of unholy violence in crusades, persecutions and inquisitions and, under Pope Pius XII, tacitly condoned the Nazi Holocaust.

Pope Benedict delivered his controversial speech in Germany the day after the fifth anniversary of September 11. It is difficult to believe that his reference to an inherently violent strain in Islam was entirely accidental. He has, most unfortunately, withdrawn from the interfaith initiatives inaugurated by his predecessor, John Paul II, at a time when they are more desperately needed than ever. Coming on the heels of the Danish cartoon crisis, his remarks were extremely dangerous. They will convince more Muslims that the west is incurably Islamophobic and engaged in a new crusade.

We simply cannot afford this type of bigotry. The trouble is that too many people in the western world unconsciously share this prejudice, convinced that Islam and the Qur’an are addicted to violence. The 9/11 terrorists, who in fact violated essential Islamic principles, have confirmed this deep-rooted western perception and are seen as typical Muslims instead of the deviants they really were.

With disturbing regularity, this medieval conviction surfaces every time there is trouble in the Middle East. Yet until the 20th century, Islam was a far more tolerant and peaceful faith than Christianity. The Qur’an strictly forbids any coercion in religion and regards all rightly guided religion as coming from God; and despite the western belief to the contrary, Muslims did not impose their faith by the sword.

The early conquests in Persia and Byzantium after the Prophet’s death were inspired by political rather than religious aspirations. Until the middle of the eighth century, Jews and Christians in the Muslim empire were actively discouraged from conversion to Islam, as, according to Qur’anic teaching, they had received authentic revelations of their own. The extremism and intolerance that have surfaced in the Muslim world in our own day are a response to intractable political problems - oil, Palestine, the occupation of Muslim lands, the prevelance of authoritarian regimes in the Middle East, and the west’s perceived “double standards” - and not to an ingrained religious imperative.

But the old myth of Islam as a chronically violent faith persists, and surfaces at the most inappropriate moments. As one of the received ideas of the west, it seems well-nigh impossible to eradicate. Indeed, we may even be strengthening it by falling back into our old habits of projection. As we see the violence - in Iraq, Palestine, Lebanon - for which we bear a measure of responsibility, there is a temptation, perhaps, to blame it all on “Islam”. But if we are feeding our prejudice in this way, we do so at our peril.

Karen Armstrong is the author of Islam: A Short History