Wednesday, February 03, 2010

Kesan Maksiat

Ibn Qayyim menggambarkan perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu akan dapat menutup hati, pendengaran, dan penglihatan. Lalu terkuncilah hatinya, tersumbat kalbunya, karena ia penuh dengan kotoran yang berkarat. Allah yang membolak-balikkan hatinya itu sehingga dia tidak teguh pada pendirian, membuat jarak antara diri dan hatinya. Allah akan membuatnya lupa untuk berzikir dan membuat lupa dirinya sendiri.

Allah menelantarkan orang-orang berbuat maksiat dengancara tidak membersihkan hatinya. Maksiat membuat seseorang sesak dada, sukar bernafas seperti naik ke angkasa, hatinya dijauhkan dari kebenaran, menambahpara penyakit dengan penyakit lain, dan akan tetap sakit.


Seperti yang diterangkan oleh Imam Ahmad, dari Hudhaifah ra, ia berkata, ‘hati itu ada empat keadaani’.

Pertama, yaitu hati bersih yang memiliki lampu yang menerangi. Itulah hati orang mukmin.

Kedua, hati yang tertutup, yaitu hati orang kafir.

Ketiga, hati yang terbalik, yaitu orang munafik.

Keempat, hati yang ada dua unsur kebendaan, didalamnya,unsur keimanan dan kemunafikan. Unsur mana pun yang menguasainya maka unsur itu membentuk peribadinya.

Hakikatnya, kemaksiatan juga menjauhkan seseorang dari ketaatan kepada Allah, menjadikan hati tuli dan enggan mendengarkan kebenaran. Selalu menolak kebenaran, dan membuat seseorang buta dan enggan melihat kebenaran. Perumpamaan antara hatinya dan kebenaran yang tidak bermanfaat adalah seperti antara telinga dan suara, antara mata dan warna, serta antara lidah orang bisu dengan ucapannya. Sebenarnya, hakikat kebutaan, ketulian, dan kebisuan hati adalah hakikat cacat yang sebenarnya, cacat akan zat, dan cacat organ sekaligus.

Kerana sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada”. (Al-Hajj : 46).

Bukannya ayat itu menafikan buta jasmani, sebab Allah berfirman :

Tidak ada halangan bagi orang buta”. (An-Nur : 61)

Dia (Muhammad) bermuka masa dan berpaling karena telah datang seoran buta”. (‘Abasa :1-2)

Kemudian yang dimaksud ayat diatas itu, kebutaan yang sempurna dan yang sebenarnya adalah kebutaan hati. Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam :

"Bukanlah orang yang kuat itu orang yang kuat dalam bergusti, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya ketika marah”. Dan sabda baginda lainnya : “Bukanlah orang-orang miskin itu orang yang berkeliling yang datang padamu yang minta sesuap makanan, akan tetapi orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang dan tidak diketahui orang tetapi ia diberi sedekah”. (Riwayat Bukhari).

Kesimpulannya maksiat menyebabkan kebutaan, ketulian, dan kebisuan hati.

Selanjutnya, maksiat dapat menyebabkan runtuhnya hati seperti runtuhnya suatu bangunan ke dalam bumi, hingga menyebabkan jatuh hatinya pada derajat yang paling bawah. Tanda-tanda keruntuhan hati tidak terasa oleh pemiliknya. Tanda-tanda runtuhnya hati biasanya berlaku pada hal-hal yang hina, keji, rendah, dan kotor. Seorang ulama salaf mengatakan, “Sesungguhnya hati kita ini berkeliling. Ada yang berkeliling di sekitar 'arsy (singgasana Allah), tetapi juga ada pula hati yang di sekitar tempat-tempat yang kotor-kotor.

Maksiat juga dapat mengubah bentuk hati atau mengutuk, sebagaimana dikutuknya rupa zahir makhluk menjadi binatang. Akibatnya, hati berubah menjadi bentuk binatang dalam perilaku, watak, dan kelakuannya. Ada hati yang dikutuk menjadi bentuk babi, anjing, khimar, ular, kelajengking, atau watak-watak binatang tersebut. Sufyan ats-Tsauri menafsirkan ayat “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada dalam bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat (juga) seperti kamu”.(Al-An’am : 38).

“Diantara mereka ada yang memiliki akhlak (perilaku) seperti binatang buas, juga yang memiliki perilaku anjing, perilaku babi, perilaku khimar, atau ada juga yang suka menghiasi pakaiannya seperti burung merak, atau ada juga yang bodoh seperti khimar. Ada yang lebih suka mengutamakan orang lain atas dirinya seperti ayam sabung. Ada juga yang sangat jinak dan penurut seperti burung dara, ada juga yang sangat pendendam seperti unta, ada juga yang baik seperti kambing, dan ada juga yang mirip serigala, dan lainnya”. Jika persamaan watak dan perilaku ini menguat secara batin, maka akan nampak wujudnya dalam bentuk lahir yang mampu dilihat orang yang firasatnya kuat. Allah akan mengubah bentuk fisiknya dengan bentuk binatang yang perilakuknya diserupai. Sebagaimana apa yang dilakukan oleh Allah kepada orang Yahudi dan orang yang menyerupai mereka, di mana mereka dikutuk menjad babi dan anjing.

Betapa banyak hati yang sakit, tanpa dirasakan oleh pemiliknya, betapa banyak hati yang dikutuk, da nhati yang runtuh. Betapa banyak orang yang terfitnah oleh pujian manusia, orang yang tertipu, karena perilakunya ditutupi oleh Allah. Ini semua adalah hukuman dan penghinaan Allah kepada ahli maksiat.

Allah juga menjadikan makar bagi ahli maksiat, ia akan ditipu oleh para penipu, ditertawakan, dan disesatkan dari jalan kebenaran oleh orang yang hatinya sesat. Maksiat juga membalikkan hati, dan hati akan melihat kebenaran sebagai kebathilan, kebathilan sebagai kebenaran, makruf sebagai mungkar, dan mungkar sebagai yang makruf. Ia berbuat kerusakan, tetapi merasa berbuat kebaikan. Ia menghalangi manusia dari jalan Allah, tetapi ia merasa mengajak ke jalan kebenaran. Ia mendapat kesesatan akan tetapi merasa mendapat petunjuk dari Allah. Dia mengkuti hawa nafsu, namun merasa sebagai orang yang thaat kepda Allah. Ini semua adalah hukuman bagi ahli maksiat yang mengenai hati manusia.

Maksiat juga menghijab hati dari Allah di dunia dan hijab terbesar adalah ketika hari kiamat. Allah berfirman :

“.. Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat Tuhan mereka”. (Al-Muthaffifin : 15).

Tuesday, November 10, 2009

Lazimi berzikir

Kurang zikir ... kurang hubungan dengan Allah. Bagaimana kita boleh berharap untuk dapat merasakan ketenangan tanpa Allah di sisi ?

Wednesday, August 05, 2009

Nisfu Syaaban lagi

( Diubahsuai ke BM dari B. Indonesia)
Soalan :
Ustaz,
Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan Nisfu Sya'ban ? Adakah Sirah yang melatar-belakangi istilah ini dan apakah amalan yang dilakukan Rasulullah SAW dalam menyambutnya ?
Terima kasih, Jazakumullah......
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Ashriyati Ishak


Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Ashriyati yang dimuliakan Allah,

Nisfu Sya’ban ertinya pertengahan bulan Sya’ban. Di dalam sejarah kaum muslimin ada pendapat bahwa pada saat itu terjadi perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke arah Masjidil Haram, seperti yang diungkapkan Al Qurthubi didalam menafsirkan firman Allah swt :

سَيَقُولُ السُّفَهَاء مِنَ النَّاسِ مَا وَلاَّهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُواْ عَلَيْهَا قُل لِّلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَن يَشَاء إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Maksudnya :
“Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allahlah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus". (QS. Al Baqarah : 142)

Al-Qurthubi mengatakan bahwa telah terjadi perbezaan waktu tentang pemindahan kiblat setelah kedatangannya Rasulullah saw ke Madinah. Ada yang mengatakan bahwa pemindahan itu terjadi setelah 16 atau 17 bulan, sebagaimana disebutkan di dalam Sahih Bukhori. Sedangkan ad-Daruquthni meriwayatkan dari al Barra yang mengatakan,”Kami melaksanakan shalat bersama Rasulullah saw setelah kedatangannya ke Madinah selama 16 bulan menghadap Baitul Maqdis, lalu Allah swt mengetahui keinginan nabi-Nya, maka turunlah firman-Nya,”Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit.”. Di dalam riwayat ini disebutkan 16 bulan, tanpa ada keraguan tentangnya.

Imam Malik meriwayatkan dari Yahya bin Said dari Said bin al Musayyib bahwa pemindahan itu terjadi dua bulan sebelum peperangan Badar. Ibrahim bin Ishaq mengatakan bahwa itu terjadi di bulan Rajab tahun ke-2 H. Abu Hatim al Bistiy mengatakan bahwa kaum muslimin melaksanakan shalat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari. Kedatangan Rasul saw ke Madinah adalah pada hari Isnin, malam ke 12 dari bulan Rabi’ulawal. Lalu Allah swt memerintahkannya untuk menghadap ke arah Ka’bah pada hari Selasa di pertengahan bulan sya’ban. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an jilid I hal 554)

Lalu adakah Nabi saw melakukan ibadah-ibadah tertentu didalam malam nisfu sya’ban ?

Terdapat riwayat bahwa Rasulullah saw banyak melakukan puasa didalam bulan Sya’ban, seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. berkata,”Tidaklah aku melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan kecuali bulan Ramadhan. Dan aku menyaksikan bulan yang paling banyak beliau saw berpuasa (selain Ramadhan) adalah Sya’ban. Beliau saw berpuasa (sepanjang) bulan Sya’ban kecuali hanya sedikit (hari saja yang beliau tidak berpuasa).”

Adapun shalat malam maka sessungguhnya Rasulullah saw banyak melakukannya pada setiap bulan. Shalat malamnya pada pertengahan bulan sama dengan shalat malamnya pada malam-malam lainnya. Hal ini diperkuat oleh hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah didalam Sunannya dengan sanad yang lemah,”Apabila malam nisfu Sya’ban maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya.Sesungguhnya Allah swt turun hingga ke langit dunia semasa tenggelam matahari dan mengatakan,”Ketahuilah, wahai orang yang memohon ampunan ! Maka Aku telah mengampuninya. Ketahuilah, wahai orang yang meminta rezeki ! Aku berikan rezeki. Ketahuilah, wahai orang yang sedang terkena musibah ! Maka Aku selamatkan. Ketahuilah ini ketahuilah itu hingga terbit fajar.”

Syeikh ‘Athiyah Saqar mengatakan,”Walaupun hadith-hadith itu lemah namun boleh diguna dalam menyatakan keutamaan amal.” Itu semua dilakukan secara sendiri-sendiri dan tidak dilakukan secara berjama’ah (bersama-sama).

Al Qasthalani menyebutkan didalam kitabnya “al Mawahib Liddiniyah” juz II hal 259 bahwa para tabi’in dari ahli Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan Makhul bersungguh-sungguh dengan ibadah pada malam nisfu sya’ban. Manusia kemudian mengikuti mereka dalam mengagungkan malam itu. Disebutkan pula bahwa yang sampai kepada mereka adalah berita-berita Israiliyat. Tatkala hal ini tersebar maka terjadilah perselisihan di tengah masyarakat dan di antara mereka ada yang menerimanya.

Ada juga ulama yang menyanggah iaitu para ulama dari Hijaz, seperti Atho’, Ibnu Abi Malikah serta para fuqoha Ahli Madinah sebagaimana dinukil dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, ini adalah pendapat para ulama Maliki dan yang lainnya, mereka mengatakan bahwa hal itu adalah bid’ah.

Kemudian al Qasthalani mengatakan bahwa para ulama Syam telah berselisih tentang menghidupkan malam itu menjadi dua pendapat. Pertama : Dianjurkan untuk menghidupkan malam itu dengan berjama’ah di masjid. Khalid bin Ma’dan, Luqman bin ‘Amir dan yang lainnya mengenakan pakaian terbaiknya, menggunakan wangi-wangian dan menghidupkan malamnya di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rohawaih. Dia mengatakan bahwa menghidupkan malam itu di masjid dengan cara berjama’ah tidaklah bid’ah, dinukil dari Harab al Karmaniy didalam kitab Masa’ilnya. Kedua : Dimakruhkan berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat, berdoa akan tetapi tidak dimakruhkan apabila seseorang melaksanakan shalat sendirian, ini adalah pendapat al Auza’i seorang imam dan orang faqih dari Ahli Syam.

Tidak diketahui pendapat Imam Ahmad tentang malam nisfu sya’ban ini, terdapat dua riwayat darinya tentang anjuran melakukan shalat pada malam itu. Dua riwayat itu adalah tentang melakukan shalat di dua malam hari raya. Satu riwayat tidak menganjurkan untuk melakukannya dengan berjama’ah. Hal itu dikarenakan tidaklah berasal dari Nabi saw maupun para sahabatnya. Dan satu riwayat yang menganjurkannya berdasarkan perbuatan Abdurrahman bin Zaid al Aswad dan dia dari kalangan tabi’in.
Demikian pula di dalam melakukan shalat dimalam nisfu sya’ban tidaklah sedikit pun berasal dari Nabi saw maupun para sahabatnya. Perbuatan ini berasal dari sekelompok tabi’in khususnya para fuqaha Ahli Syam. (Fatawa al Azhar juz X hal 31)

Sementara itu al Hafizh ibnu Rajab mengatakan bahwa pendapat ini adalah aneh dan lemah karena segala sesuatu yang tidak berasal dari dalil-dalil syar’i yang menyatakan bahwa hal itu disyariatkan maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menceritakannya didalam agama Allah baik dilakukan sendirian maupun berjama’ah, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan berdasarkan keumuman sabda Rasulullah saw,”Barangsiapa yang mengamalkan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.” Juga dalil-dalil lain yang menunjukkan pelarangan bid’ah dan meminta agar waspada terhadapnya.

Didalam kitab “al Mausu’ah al Fiqhiyah” juz II hal 254 disebutkan bahwa jumhur ulama memakruhkan berkumpul untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban, ini adalah pendapat para ulama Hanafi dan Maliki. Dan mereka menegaskan bahwa berkumpul untuk itu adalah sautu perbuatan bid’ah menurut para imam yang melarangnya, yaitu ‘Atho bin Abi Robah dan Ibnu Malikah.

Sementara itu al Auza’i berpendapat berkumpul di masjid-masjid untuk melaksanakan shalat (menghidupkan malam nisfu sya’ban, pen) adalah makruh karena menghidupkan malam itu tidaklah berasal dari Rasul saw dan tidak juga dilakukan oleh seorang pun dari sahabatnya.
Sementara itu Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin ‘Amir serta Ishaq bin Rohawaih menganjurkan untuk menghidupkan malam itu dengan berjama’ah.”

Dengan demikian diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan berbagai bentuk ibadah seperti shalat, berdzikir maupun berdoa kepada Allah swt yang dilakukan secara sendiri-sendiri. Adapun apabila hal itu dilakukan dengan berjama’ah maka telah terjadi perselisihan dikalangan para ulama seperti penjelasan diatas.

Hendaklah ketika seseorang menghidupkan malam nisfu Sya’ban dengan ibadah-ibadah di atas tetap semata-mata kerana Allah dan tidak melakukannya dengan cara-cara yang tidak diperintahkan oleh Rasul-Nya saw. Janganlah seseorang melakukan shalat di malam itu dengan niat panjang umur, bertambah rezeki dan yang lainnya kerena hal ini tidak ada dasarnya akan tetapi niatkanlah semata-mata karena Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Begitu pula dengan zikir-zikir dan doa-doa yang dipanjatkan hendaklah tidak bertentangan dengan dalil-dalil shahih didalam aqidah dan hukum.

Dan hendaklah setiap muslim bersikap bijak menghadapi permasalahan ini tanpa harus menentang atau bahkan menyalahkan pendapat yang lainnya kerana bagaimanapun permasalahan ini masih diperselisihkan oleh para ulama meskipun hanya dilakukan oleh para tabi’in.

Wallahu A’lam

Ust Sigit Pranowo

Saturday, May 23, 2009

Tiga Tanda Kiamat Yang Harus Diantisipasi Dewasa Ini

3 Tanda Kiamat Yang Harus Diantisipasi Dewasa Ini
Ust. Ihsan Tandjung

Ada tiga tanda fenomenal dari tanda-tanda Kiamat yang perlu diantisipasi dewasa ini oleh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Dua di antara ketiga tanda itu masuk dalam kategori tanda-tanda besar Kiamat. Satu lagi kadang dimasukkan ke dalam tanda besar, namun ada pula yang menyebutnya sebagai tanda penghubung antara tanda- tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat.



Tanda penghubung antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat ialah diutusnya Imam Mahdi. Imam Mahdi merupakan tanda Kiamat yang menghubungkan antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat karena datang pada saat dunia sudah menyaksikan munculnya seluruh tanda-tanda kecil Kiamat yang mendahului tanda-tanda besar Kiamat. Allah tidak akan mengizinkan tanda-tanda besar Kiamat datng sebelum berbagai tanda kecil Kiamat telah tuntas kemunculannya.



Banyak orang barangkali belum menyadari bahwa kondisi dunia dewasa ini ialah dalam kondisi dimana hampir segenap tanda-tanda kecil Kiamat yang diprediksikan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam telah bermunculan semua. Coba perhatikan beberapa contoh tanda-tanda kecil Kiamat berikut ini:



Ø Dan perceraian banyak terjadi ويكثر الطلاق

Ø Dan banyak terjadi kematian mendadak (tiba-tiba) و الموت الفجاء

Ø Dan banyak mushaf diberi hiasan (ornamen) و حلية المصاحف

Ø Dan masjid-masjid dibangun megah-megah و زخرفت المساجد

Ø Dan berbagai perjanjian dan transaksi dilanggar sepihak و نقضت العهود

Ø Dan berbagai peralatan musik dimainkan و استعملت المأزف

Ø Dan berbagai jenis khamr diminum manusia و شربت الخمور

Ø Dan perzinaan dilakukan terang-terangan و فخش الزنا

Ø Dan para pengkhianat dipercaya (diberi jabatan kepemimpinan) و اؤتمن الخائن

Ø Dan orang yang amanah dianggap pengkhianat (penjahat/teroris) و خون الأمين

Ø Tersebarnya Pena (banyak buku diterbitkan) ظهور القلم

Ø Pasar-pasar (Mall, Plaza, Supermarket) Berdekatan تتقارب الأسواق

Ø Penumpahan darah dianggap ringan استخفاف بالدم

Ø Makan riba أكل الربا



Jadi kalau kita perhatikan, contoh-contoh di atas jelas sudah kita jumpai di zaman kita dewasa ini. Bahkan bila kita buka kitab para Ulama yang menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai kita baca kita akan segera bergumam di dalam hati: “Wah, yang ini sudah..!” Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits. Laa haula wa laa quwwata illa billah....



Jika tanda-tanda kecil Kiamat sudah hampir muncul seluruhnya berarti kondisi dunia dewasa ini berada di ambang menyambut kedatangan tanda-tanda besar Kiamat. Dan bila asumsi ini benar, berarti dalam waktu dekat kita semua sudah harus bersiap-siap untuk menyambut datangnya tanda penghubung antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat, yaitu diutusnya Imam Mahdi ke tengah ummat Islam. Hal ini menjadi selaras dengan isyarat yang diungkapakan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengenai dua pra-kondisi menjelang diutusnya Imam Mahdi.



أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ
وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا
“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kese-wenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad)



Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan adanya dua prakondisi menjelang diutusnya Imam Mahdi ke tengah ummat Islam. Kedua prakondisi tersebut ialah pertama, banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan kedua, terjadinya gempa-gempa. Subhaanallah. Jika kita amati kondisi dunia saat ini sudah sangat sarat dengan perselisihan antar-manusia, baik yang bersifat antar-pribadi maupun antar-kelompok. Demikian pula dengan fenomena gempa sudah sangat tinggi frekuensi berlangsungnya belakangan ini.



Berarti kedatangan Imam Mahdi merupakan tanda Akhir Zaman yang jelas-jelas harus kita antisipasi dalam waktu dekat ini. Dan jika sudah terjadi berarti kitapun harus segera mempersiapkan diri untuk mematuhi perintah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam yang berkaitan dengan kemunculan Imam Mahdi. Kita diperintahkan untuk segera berbai’at dan bergabung ke dalam barisannya sebab episode-episode berikutnya merupakan rangkaian perang yang dipimpin Imam Mahdi untuk menaklukkan negeri-negeri yang dipimpin oleh para Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).



فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ
“Ketika kalian melihatnya (Imam Mahdi) maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah)



Imam Mahdi akan mengibarkan panji-panji Al-Jihad Fi Sabilillah untuk memerdekakan negeri-negeri yang selama ini dikuasai oleh para Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya). Beliau akan mengawali suatu proyek besar membebaskan dunia dari penghambaan manusia kepada sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Allah semata, Penguasa Tunggal dan Sejati langit dan bumi. Beliau akan memastikan bahwa dunia diisi dengan sistem dan peradaban yang mencerminkan kalimatthoyyibah Laa ilaha illAllah Muhammadur Rasulullah dari ujung paling timur hingga ujung paling barat.


Ghazawaat (perang-perang) tersebut akan dimulai dari jazirah Arab kemudian Persia (Iran) kemudian Ruum (Eropa dan Amerika) kemudian terakhir melawan pasukan Yahudi yang dipimpin langsung oleh puncak fitnah, yaitu Dajjal. Dan uniknya pasukan Imam Mahdi Insya Allah akan diizinkan Allah untuk senantiasa meraih kemenangan dalam berbagai perang tersebut.



تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ
ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ
“Kalian akan perangi jazirah Arab dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan menghadapi Persia dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan perangi Ruum dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan perangi Dajjal dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya.” (HR Muslim)



Lalu kapan Nabiyullah Isa ’alihis-salaam akan turun dari langit diantar oleh dua malaikat di kanan dan kirinya? Menurut hadits-hadits yang ada Nabi Isa putra Maryam ’alihis-salaam akan datang sesudah pasukan Imam Mahdi selesai memerangi pasukan Ruum menjelang menghadapi perang berikutnya melawan pasukan Dajjal. Pada saat itulah Nabi Isa ’alihis-salaam akan Allah taqdirkan turun ke muka bumi untuk digabungkan ke dalam pasukan Imam Mahdi dan membunuh Dajjal dengan izin Allah.



Begitu Imam Mahdi dan pasukannya mendengar kabar bahwa Dajjal telah hadir dan mulai merajalela menebar fitnah dan kekacauan di muka bumi, maka Imam Mahdi mengkonsolidasi pasukannya ke kota Damaskus. Lalu pada saat pasukan Imam Mahdi menjelang sholat Subuh di sebuah masjid yang berlokasi di sebelah timur kota Damaskus tiba-tiba turunlah Nabi Isa ’alihis-salaam diantar dua malaikat di menara putih masjid tersebut. Maka Imam Mahdi langsung mempersilahkan Nabi Isa ’alihis-salaam untuk mengimami sholat Subuh, namun ditolak olehnya dan malah Nabi Isa ’alihis-salaam menyuruh Imam Mahdi untuk menjadi imam sholat Subuh tersebut sedangkan Nabi Isa ’alihis-salaam makmum di belakangnya. Subhanallah.



" ينزل عيسى بن مريم ، فيقول أميرهم المهدي : تعال صل بنا ،
فيقول : لا إن بعضهم أمير بعض ، تكرمة الله لهذه الأمة " .
"Turunlah Isa putra Maryam ’alihis-salaam. Berkata pemimpin mereka Al-Mahdi: "Mari pimpin sholat kami." Berkata Isa ’alihis-salaam: "Tidak. Sesungguhnya sebagian mereka pemimpin bagi yang lainnya sebagai penghormatan Allah bagi Ummat ini." (Al Al-Bani dalam ”As-Salsalatu Ash-Shohihah”)



Saudaraku, marilah kita bersiap-siap mengantisipasi kedatangan tanda-tanda Akhir Zaman yang sangat fenomenal ini. Tanda-tanda yang akan merubah wajah dunia dari kondisi penuh kezaliman dewasa ini menuju keadilan di bawah naungan Syariat Allah dan kepemimpinan Imam Mahdi beserta Nabiyullah Isa ’alihis-salaam.



Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam barisan pasukan Imam Mahdi yang akan memperoleh satu dari dua kebaikan: ’Isy Kariman (hidup mulia di bawah naungan Syariat Allah) au mut syahidan (atau Mati Syahid). Amin ya Rabb.

Wednesday, April 08, 2009

Kematian Hati ( Tazkirah Ust Rahmat Abdullah)

Banyak orang tertawa tanpa mahu menyadari sang maut sedang mengintainya.

Banyak orang cepat datang ke saf solat bagaikan orang yang amat merindukan kekasih. Tapi sayangnya ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut kerana puasa atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan kepetahan lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gementar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku kerana ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka", ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengaku amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan dirinya, atau tidak mahu kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.

Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya?

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. <--> Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu.

Ke mana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat"?

Saat engkau merasa mual melihat laki-laki pondan berpakaian perempuan, kerana kau sangat mendukung ustazmu yang mengatakan " Jika ALLAH melaknat laki-laki berpakaian perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, adakah tertawa riang menonton aksi mereka tidak dilaknat ?"
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak Islamik" bererti ia paling Islamik, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH dis ana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat.
Tidak lagi malu-malu tampil.

Justeru engkau akan dihadang cabaran sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga di depan ribuan massa.

Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak tersasar 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Wednesday, April 01, 2009

Thursday, March 19, 2009

God-fearing Aalim

God-fearing ‘Aalim and his importance to the Ummah
by Imâm al-Haramain 'Abdul-Bârî ibn ‘Awad ath-Thubaytî




All praise is due to Allaah, Lord of all the worlds. May peace and blessings be upon our Prophet Muhammad saws, his household, his companions and all those who follow their guidance till the Day of Reckoning.Islaam respects the ‘Ulamaa and reveres them because they are the heirs of the Prophets who follow their way. Infact, it is in respect to their dignity and merit that Allaah mentions them along with His Name and that of His Angels when He says:

“Allah bears witness that Laa ilaaha illa Huwa (none has the right to be worshipped but He), and the angels, and those having knowledge (also give witness); (He is always) maintaining His creation in Justice.” (Aal ‘Imraan 3:18).

It is enough a distinction for the ‘Aalim that Allaah sends blessings to him; and His angels and the inhabitants of the heavens and the earth also do ask Allaah to bless him. The Messenger of Allaah saws said:

“Verily, Allaah do send His blessings to him who teaches people good. Also, the inhabitants of the heavens and the earth, even ants in their holes and fishes do ask Allaah to bless him.” (At-Tirmidhee).
‘Ulamaa are the friends of Allaah; they are the ones who really fear Allaah.

“It is only those who have knowledge among His slaves that fear Allaah.” (Faatir 35:28)

They bear the knowledge with the fear of Allaah, He then compensate them with great reward. Allaah says:

“Their reward with their Lord is (Eden) Paradise (Gardens of Eternity), underneath which rivers flow, they will abide therein forever, Allaah Well-Pleased with them, and they with Him. This for him who fears his Lord.” (Al-Bayyinah 98:8).

Ibnul-Qayyim said:

“Scholars of Islaam and those around whose sayings revolves Fatwa (religious counselling) among people; those who are endowed with the ability to derive rulings from the (the Qur’anic and Hadeeth) texts and whose preoccupation is the regulation of the lawful and unlawful things are to the earth what the stars are to the heaven. It is through them that the confused get guidance and people’s need of them is greater than their need of food and drink. Allaah makes obeying them greater than obeying parents when He says: “O you who believe! Obey Allaah and obey the Messenger (Muhammad), and those of you (Muslims) who are in authority.” (An-Nisaa 4:59). The ‘Ulamaa are the people’s refuge during calamities. Many a blind people have seen through them; many a dead have been given live by them; many a Sunnah have been spread through them and many an innovation have been efaced through them.”
God-conscious ‘Ulamaa are leaders in piety; if they had wanted beauties and high positions of this world, it would have come to them submissively, but they live with their knowledge and meritorious deeds in a happiness that is far better than that of the people of worldly positions; that is because, their whole life revolves around no more than what Allaah and His Prophet saws say. They do not learn knowledge for adornment purpose but to benefit from it. Their impact is so strong that, if they walk on a barren land it becomes fertile and if they step their feet on a territory full of darkness it becomes illuminated. A ‘ Aalim in the real sense of the word, is not the holder of higher certificates and academic titles. He is rather the one who has a combination of knowledge, strong and deep Eemaan, obedience to his Lord and a lot of Ibaadaat (acts of worship). These are the people of knowledge whom Allaah describes as incomparable to others when He says:

“Are those who know equal to those who know not.” (Az-Zumar 39:9).

Ibn Al-Mubaarak was asked:

“How can a true knowledgeable man be recognised?’ He replied: ‘He is the one who is ascetic in this world and occupies himself with the affairs of the hereafter.”
Nevertheless, ‘Ulamaa should not be regarded as perfect beings who are immunised against any defects, errors or mistakes; for, this is quite impossible. However, one should not be looking for the mistakes of a knowledgeable man because he may have an excuse that is unknown to us or that, this mistake may have a reason which can not be perceived by us. If the Prophets -peace be on them- have the right to be honoured and revered, their inheritors should also have a share of that. The Messenger of Allaah saws said:

“The ‘Ulamaa are indeed the heirs of the Prophets.” (Aboo Daawood and others).
It is therefore incumbent on us to love them, to obey them in good, to defend them and ask for Allaah’s Mercy for those who are deceased among them. Ibn Abbaas ra said

: “Whoever annoys a knowledgeable man has annoyed the Messenger of Allaah; and whoever annoys the Messenger of Allaah has annoyed Allaah.”
Brothers in Islaam! Death of ‘Ulamaa is an irreparable loss to this Ummah. We beseech Allaah to forgive the deceased among them and to benefit us with the knowledge of the living ones.
Yes! Eyes do shed tears and hearts do get saddened, but if all of us shed our tears, that cannot change the situation nor prevent any harm. Actually, reaction of people of weak minds -after the death of ‘Ulamaa- do not go beyond shedding tears and mere wailings and lamentations; but people of lofty aims and enlightened minds do go beyond that for, they know that sincere love for those scholars means to live according to their way; to die on their path; to be good example in knowledge and good deeds; to be leaders in piety and humbleness; to be models in patience and perseverance and to be pace-setters in generousity and sacrifice. Such are the characteristics of the ‘Ulamaa and such should be the characteristics of those who love them. The ‘Ulamaa are not personalities whose virtues should merely be sung or written on pages without benefiting from their light. Ibraaheem ibn Habeeb said:

“My father told me: My son! Go to the ‘Ulamaa, take knowledge from them and learn from their manners, characters and guidance; that is dearer to me than your learning of many Hadeeths (without manners).”
Brethren in Faith! There is nothing strange in the death of ‘Ulamaa for, such is the end of all living creatures; but the big calamity and the greatest tribulation is when their knowledge dies with them and their illuminating legacies gets buried with them. Therefore, it is a matter of obligation for those who are indebted to these ‘Ulamaa -i.e. their children and students- to promptly bring out their scholastic treasures so that this Ummah and the coming generations may benefit there from.
Death of some ‘Ulamaa no doubt posses a big challenge to their contemporaries as well as other students of knowledge. They are obliged to fill the gap and keep the light of guidance burning.
Dear brothers, responsibilities of ‘Ulamaa vary according to the differences in levels of their knowledge. The responsibility of the person who has got a share of the Prophets’-peace be on them- Legacy is the fear of Allaah, constant remembrance of the hereafter, following the path of those Prophets, seeking knowledge for Allaah’s sake, high degree of moral character and striving to remove bonds of ignorance from the midst of this Ummah. It is improper to be an inheritor of the Prophets’ Legacy without being perfectly on their path.O you people of knowledge! Be trustees over this religion by saveguarding it from alterations and acquaint the Ummah with the realities of Islaam and lead it back to its pure sources: the Qur’aan and Sunnah. Protect the Ummah from epidemic tendencies and misleading ideologies. Do not hide the knowledge that Allaah has endowed you with. Allaah says:

“Those who conceal the clear proofs, evidences and the guidance, which We have sent down, after We have made it clear for the people in the Book, they are the ones cursed by Allaah and cursed by the cursers.” (Al-Baqarah 2:159).

O you people of knowledge! Dangerous is that discord and deadly contention which is rampant among you. Give harmony and mutual love a chance amongst yourselves and keep yourselves away from insignificant issues.
O people of knowledge! Let not your goal be mere attainment of academic titles and degrees lest you abandon your teaching roles in scholastic gatherings where the rising generation of ‘Ulamaa are being groomed. When you take a keen look at this Ummah, whose membership of over one billion Muslims scatter all over the world and you see that, a vast majority of them are engrossed in ignorance of their religion, you will realize for sure that the Ummah is in dire need of tens (of thousands) of God-fearing scholars; those who regard this world disdainfully and preffer what is with Allaah; that it is in need of ‘Ulamaa who will be vanguards of this religion, directing people to Allaah with their sayings and deeds and explaining to them the lawful and unlawful things. If not for the ‘Ulamaa, mankind would have been like beasts and people would have remained in perplexed state of ignorance. Yahyaa ibn Mu’aadh said:

“‘Ulamaa are more compassionate to the followers of Muhammad saws than their fathers and mothers... because, their fathers and mothers protect them from the hell of this world and the ‘Ulamaa protect them from the hell of the hereafter.’’
The Ummah is therefore in need of those ‘Ulamaa, whose deeds do actually have more impact on people than their words. Yes, the world is full of books which one can read and benefit from, but it can not make a God-fearing ‘Aalim dispensable, because, a ‘Aalim is a living example of knowledge and good deeds; an epitome of piety and righteousness.
Dear brothers! When you ponder over the histories of God-fearing ‘Ulamaa in the first stages of their learning, you will see that they had many contemporaries during this stage. But Allaah selected them and blessed them with extraordinary qualities that make them well-accepted and loved by the dwellers of the heaven and the earth. Allaah made them a direction of knowledge and meeting point of its seekers. Their love is very deep in people’s hearts and scenes of their funerals are enough an evidence for that. This mammoth crowd do not come out for their funerals because of their money, for, they usually do not leave any money behind, nor do these people trooped out because they were forced to. Such is the case of God-fearing ‘Ulamaa. Hundreds of years do pass after their death and yet their stories and remembrance remain fresh in people’s memories. Then let us ponder: How did these people attain what they have attained? It is by the power of knowledge, good deeds and sincerity. They were truthful with their Lord so He treated them with truth.
Brethren in Faith! The ‘Ulamaa do die and others also do die. But there is difference between two deaths. Far is the difference between a death after a life that was full of generousity and through which Allaah revived a set of people and brought light to them after they had been in darkness; and a death after a slugish life ridden with weak piety and preocuppied with mundane affairs. When the ‘Ulamaa die, their knowledge perpetuate for them in this earth a new life, their names are engraved in peoples’s hearts as a result of the useful knowledge they leave behind and their written works that seekers of knowledge devote themselves to. But as regards others, some of them die before the actual death comes to them. They may even not have any good mention while they are alive nor any prayer for Allaah’s Mercy on them when they die.The companions of the Prophet saws were overpowered by despair and confusion after his death because of their burning love for him. Aboo Bakr ra then came and said his famous saying:

“Whoever used to worship Muhammad r should be aware that Muhammad r is now dead and whoever used to worship Allaah should know that Allaah is Ever-Living, Immortal.”
The Islamic Faith shall remain and the Divine Message shall survive. The religion survived after the death of the Messengers -peace be on them-; it survived after the death of Muhammad saws and it shall survive after the death of some ‘Ulamaa. There should be no pessimism nor weakness no matter how great the calamity may be. The Religion is Allaah’s and He has guaranteed its safety and victory. Allaah says:

“It is He Who has His Messenger (Muhammad) with guidance and the rreligion of truth (Islam), to make it superior over all religions even though the Mushrikun (polytheists, pagans, idolaters, disbelievers in the Oneness of Allaah) hate (it).” (At-Tawbah 9:33).

Therefore, we should not lose hope at all in the Mercy of Allaah for, the Prophet saws has assured us thus:

“A group of my nation will ever be consistently prevalent with the truth they shall abide by; those who forsake them will not be able to harm them. They shall remain so until the command of Allaah comes.” (Muslim).
In view of all this, this Ummah is so fortunate that Allaah has made it the True Community and promised that He shall never forsake it. He endowed it with ‘Ulamaa who are the inheritors of the Prophets and He has not left this Ummah throughout her history in a period without ‘Ulamaa so much so that each time a ‘Aalim dies Allaah substitute him with many of his contemporaries and his like to continue keeping the religion upright. All praise be to Allaah.

Tuesday, March 17, 2009

Fiqh Siyasi

Hasan Al-Banna menjelaskan da’wah dalam berbagai sisinya: politik, da’wah, gerakan, penyusunan strategi, dan ekonomi.


Kajian terhadap pusaka mengenai tulisan-tulisan Hasan Al Banna perlu mendapatkan perhatian, terutama trkait fiqih politik (Fiqih Siyaasi) Beliau. Beliau merupakan seorang pembaru (mujaddid) abad keduapuluh tanpa perlu dipertentangkan. Beliau semasa hidupnya berpikir keras terhadap berbagai permasalahan dunia Islam dan terhadap keadaan ummat Islam, terutama masalah konspirasi terhadap negara Islam.
Beliau telah hidup di zaman kaum salibis yang memerangi dunia Islam, menghapus negara Islam Utsmaniyah, mengeluarkan statemen bahwa Ataturk melakukan skularisasi negara dan menghapus Khilafah, kemudian Perancis dan Inggris Raya membagi daerah itu setelah Perang Dunia Pertama (PD I) sesuai kesepakatan yang dilakukan oleh masing-masing utusan dari Ingris dan Perancis, Saix dan Bico, yang menamakan kesepakatan tersebut dengan kedua nama mreka (Kesepakatan Saix-Bico).
Imam Hasan Al Banna telah menyaksikan perpecahan dunia Islam menjadi negara-negara jajahan yang dijajah oleh negara-negara kafir salibis, yang dibantu oleh negara ex Uni Soviet yang haus darah ummat Islam seperti di negara Chesnya, Kaukas serta kawasan lainnya.
Ustadz Hasan Al Banna berusaha mengumpulkan para ulama dan pemimpin untuk sebuah proyek kerja besar, yakni meneruskan kembali kehidupan Islam dan membebaskan negara-negara umat Islam dari kaum penjajah. Beliau melihat mayoritas kaum Muslimin dalam keadaan kehilangan semangat dan ketakutan yang sangat kentara. Tetapi Beliau tidak pustus asa terhadap berbagai situasi dan kondisi yang menhancurkan tersebut. Bahkan Beliau berinisiatif dimulai dari dirinya sendiri untuk bekerja, mengumpulkan dan menyusun rencana. Dengan beberapa suara Muslimnya, Beliau mendirikan Jama’ah Ikhwanul Muslimin di daerah Isma’iliyah.
Pemikiran Beliaupun diserap oleh banyak orang, sehingga menyebabkan Beliau dicintai sangat luas yang mana hal itu belum pernah terjadi untuk satu orangpun dari para pemimpin di daerahnya, lalu mereka mengikuti jalan dan pemikiran Beliau serta menjadi tentara dan pengikutnya.
Di antara hal yang tidak diragukan lagi ialah da’wah Beliau itu berkomitmen dengan Islam, baik sebagai aqidah, syari’ah dan sistem kehidupan. Beliau menjelaskan da’wah tersebut dalam berbagai sisinya: politis, da’wah, gerakan, penyusunan strategi dan ekonomi. Orang yang mengamati apa yang Beliau tulis dalam risalah-risalah dan diktat-diktat Beliau akan menemukan bahwa Imam Hasan Al Banna adala seorang pemimpin politik yang diikuti masyarakat banyak. Beliau memiliki pemahaman politik Islam (Fiqih Siyasi Islami) yang diambil dari pemahaman kalangan intelektual dan ulama Islam.
Benar, Beliau adalah seorang faqih dengan sebenarnya, politikus ulung, memiliki pengalaman yang luas, kejeniusan dan kedudukan yang disaksikan oleh setiap orang yang mengenalnya baik dari musuh maupun teman dalam kadar yang sama. Robert Jackson telah bertemu dengan Ustadz Hasan Al-Banna pada tahun 1946 mengatakan: “Saya memperkirakan akan datang suatu hari yang mana laki-laki ini mengusai kepemimpinan masyarakat, tidak hanya di Mesir, bahkan di seluruh wilayah Timur. Dr. Kamjian, seorang dosen ilmu politik di Universitas New York mengatakan: “Kemunculan Al-Banna merupakan contoh yang melambangkan kepribadian keluarga yang muncul pada waktu-waktu krisis untuk melakukan tugas kebebasan sosial spiritual.
Thanthawi Jauhari berkata: “Dalam pandangan saya, Hasan Al-Banna lebih besar dari Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Beliau memiliki temperamen yang menakjubkan yang berupa takwa dan kecerdikan politis, Beliau berhati Ali dan berotak Mu’awiyah. Saya melihat padanya sifat-sifat seorang pemimpin yang mana dunia Islam sedang kehilangan tokoh seperti itu.
Robert Jackson mengatakan tentang kepemimpinan Hasan Al-Banna: “Beliau adalah seorang yang paling jenius di antara para politisi, paling kuat di antara para pemimpin, paling berargumen di antara para ulama, paling beriman di antara para sufi, paling semangat di antara para atlit, paling tajam di antara para filsuf, paling diplomatis di antara para orator, dan paling bermisi di antara para penulis. Masing-masing sisi dari sisi-sisi ini muncul dengan istimewa pada waktu yang pas pula.
Dahulu politik penjajahan mengarahkan para pemimpin bangsa dari jihad politik mereka untuk membebaskan negeri menjadikan mereka sebagai agen kolonial dengan jalan menyogok mereka dengan harta, mengiming-iming mereka dengan perempuan dan meletakan mereka dalam jeratan mereka, dan menjatuhkan mereka dengan cara menobatkan mereka sebagai penguasa dan pemimpin Negara agar mereka tidak mampu keluar dari politik kaum kolonialis itu.
Adapun Hasan Al-Banna –semoga Allah merahmatinya– maka Beliau telah selamat dari mala petaka perempuan, harta dan jabatan. Rober Jakcson mengatakan: “Iming-iming melalui tiga hal ini yang dipaksakan oleh penjajah terahadap para Mujahidinin menemui kegagalan dalam berbagai percobaan dan telah diupayakan untuk mengiming-iming Hasan Al-Banna.”
Robert Jackson berkomentar tentang Beliau: “Madzhab politik Hasan Al-Banna adalah mengembalikan materi moral (akhlak) ke dalam relung politik setelah materi tersebut dicabut dari politik dan setelah dikatakan bahwa politik dan akhlak tidak dapat bersatu.
Beberapa sahabat yang saya cintai di mana saya tidak munmgkin menolak permintaan mereka, telah menasehati saya dan mengusulkan pada saya agar menulis Fiqih Politik Hasan Al-Banna – semoga Allah merahmatinya – sebagai bentuk kepedulian terhadap Beliau dan pemikiran Beliau setelah kematian Beliau dan sebagai penyebaran manfaat bagi pengikut dan pecinta Beliau. Saya juga telah menemukan dalam diri saya suatu keinginan yang sama dengan keinginan sahabat-sahabat saya yang harus saya perkenankan dan perhatikan permintaan mereka.
Maka sayapun setia dalam membaca berbagai risalah, diktat Beliau, berbagai tulisan yang diberikan kepada saya dan apa yang ditulis tentang Beliau. Allah Tabaraka wa Ta’ala telah membantu saya untuk menulis buku yang tipis ini yang saya beri nama: “Fiqih Politik Menurut Imam Hasan Al-Banna” Rahimahullah.
Penulis: Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris

Thursday, March 12, 2009

Semai Cinta Rasul

Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)


Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan, “Demi Allah, sesiapaun di antara kamu tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [I/58] no: 15, dan Muslim dalam Shahih-nya [I/67 no: 69])


Termaktub dalam sejarah bualan yang terjadi antara Abu Sufyan bin Harb, sebelum dia masuk Islam dengan sahabat Zaid bin ad-Dathinah yang ketika itu tertawan oleh kaum musyrikin. Dia pun dibawa keluar oleh penduduk Mekkah dari tanah haram untuk dibunuh. Abu Sufyan bertanya, “Ya Zaid, engkau mahu tak kalau tempatmu sekarang digantikan oleh Muhammad dan kami penggal lehernya, kemudian engkau kami bebaskan kembali ke keluargamu?” Serta merta Zaid menjawab, “Demi Allah, aku sama sekali tidak rela jika Muhammad sekarang berada di rumahnya tertusuk duri pun sedangkan aku berada di rumahku bersenang-senang dengan keluargaku!!!” Maka Abu Sufyan pun berkata, “Tidak pernah aku jumpai sesiapa pun mencintai orang lain seperti cinta para sahabat Muhammad kepada Muhammad!” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir [V/505], dan kisah ini diriwayatkan pula oleh al-Baihaqy dalam Dalail an-Nubuwwah [III/326]).

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkisah, “Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan Uhud, tersebar desas-desus di antara penduduk Madinah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terbunuh, hingga terdengarlah esak tangis di penjuru kota Madinah. Maka keluarlah seorang wanita dari kalangan kaum Anshar dari rumahnya, di tengah-tengah jalan dia diberitahu bahwa bapanya, anaknya, suaminya dan saudara kandungnya telah tewas terbunuh di medan perang. Ketika dia memasuki sisa-sisa kancah peperangan, dia lalui di antara jasad-jasad yang bergelimpangan, “Siapakah ini?”, tanya perempuan itu. “Bapakmu, saudaramu, suamimu dan anakmu!”, jawab orang-orang yang ada di situ. Perempuan itu segera menyahut, “Apa yang terjadi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?!” Mereka menjawab, “Itu ada di depanmu.” Maka perempuan itu bergegas menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menarik bajunya seraya berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak akan mempedulikan (apapun yang menimpa diriku) selama engkau selamat!” (Disebutkan oleh al-Haithami dalam Majma’ az-Zawaid [VI/115], dan dia berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dari syaikhnya Muhammad bin Su’aib dan aku tidak mengenalnya, sedangkan perawi yang lain adalah terpercaya.” Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [II/72, 332]).


Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hari kiamat, “Bila kiamat datang?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Apa yang telah engkau bekalkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka Rasulullah pun shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385]).

Thursday, February 05, 2009

Last Khutbah of the Prophet pbuh

The Last Sermon of the Prophet

The last sermon of the Prophet-peace be upon him- is known as Khutbatul Wada'. It is mentioned in almost all books of Hadith. Following Ahadith in Sahih Al-Bukhari refer to the sermon and quote part of it. See Al-Bukhari, Hadith 1623, 1626, 6361) Sahih of Imam Muslim also refers to this sermon in Hadith number 98. Imam al-Tirmidhi has mentioned this sermon in Hadith nos. 1628, 2046, 2085. Imam Ahmed bin Hanbal has given us the longest and perhaps the most complete version of this sermon in his Masnud, Hadith no. 19774.
This Khutbah of the Prophet-peace be upon him- was long and it contained much guidance and instructions on many issues. The Prophet-peace be upon him- gave this sermon in front of a large gathering of people during Hajj.
Whosoever heard whatever part of the sermon reported it and later some scholars put it together. It is a great khutbah and we should all pay attention to its message and guidance. Following are the basic points mentioned in this khutbah:
O PeopleLend me an attentive ear, for I know not whether after this year, I shall ever be amongst you again. Therefor listen to what I am saying to you very carefully and take these words to those who could not be present here today.
O PeopleJust as you regard this month, this day, this city as sacred, so regard the life and property of every Muslim as a sacred trust. Return the goods entrusted to you to their rightful owners. Hurt no one so that no one may hurt you. Remember that you will indeed meet your Lord, and that He will indeed reckon your deeds. Allah has forbidden you to take usury (interest); therefore all interest obligation shall henceforth be waived. Your capital, however, is yours to keep. You will neither inflict nor suffer any inequity.
Allah has Judged that there shall be no interest and that all interest due to Abbas Ibn ‘Abd al Muttalib (the Prophet's uncle) shall henceforth be waived.
Beware of Satan for the safety of your religion. He has lost all hope that he will ever be able to lead you astray in big things, so beware of following him in small things.


O PeopleIt is true that you have certain rights in regard to your women, but they also have rights over you. Remember that you have taken them as your wives, only under Allah's trust and with His permission. If they abide by your right then to them belongs the right to be fed and clothed in kindness. Do treat you women well and be kind to them, for they are your partners and committed helpers. And it is your right that they do not make friends with anyone of whom you do not approve, as well as never to be unchaste.

O PeopleListen to me in earnest, worship Allah, say your five daily prayers (Salah), fast during the month of Ramadan, and give your wealth in Zakat.
Perform Hajj if you can afford to.
All mankind is from Adam and Eve, an Arab has no superiority over a non-Arab nor a non-Arab has any superiority over an Arab; also a white has no superiority over a black, nor a black has any superiority over a white- except by piety and good action. Learn that every Muslim is a brother to every Muslim and that the Muslims constitute one brotherhood. Nothing shall be legitimate to a Muslim, which belongs to a fellow Muslim unless it was given freely and willingly. Do not therefor, do injustice to yourselves.

Remember one day you will appear before Allah and answer for your deeds. So beware, do not stray from the path of righteousness after I am gone. People, no prophet or apostle will come after me and no new faith will be born. Reason well therefore, O people, and understand words which I convey to you. I leave behind me two things, the Quran and the Sunnah (Hadith), and if you follow these you will never go astray. All those who listen to me shall pass on my words to others and those to others again; and may the last ones understand my words better than those who listened to me directly. Be my witness, O Allah, that I have conveyed your message to your people."

Sunday, January 25, 2009

Still alive ! Alhamdulillah ......



Lama juga rupanya dah tak masuk apa-apa kat blog ni. Memanglah tak ada orang baca sangat. Kurang-kurangnya dengan menulis di tempat yang boleh menjadi tatapan umum, kecermatan bertutur kata akan bertambah, dan ketajaman berfikir boleh meningkat. Bukan tak ada sebab blog ni tidk terisi. Bukan tidak online. Tak dinafikan juga mungkin sedikit elemen 'malas' selepas banyak masa disita untuk elemen lain. Tapi kalau nak difikir-fikir, orang lain lagi sibuk, tapi tak ketinggalan menyumbangkan buah fikiran yang berharga untuk dimanfaatkan oleh orang lain lewat blog mereka. Salute sungguh kat mereka ni. Semoga Allah beri kekuatan untuk terus berada di atas jalan mencari keredhaan-Nya.

Sunday, June 29, 2008

Survey finds world’s top 10 intellectuals are Muslims



Fethullah Gülen


Survey finds world’s top 10 intellectuals are Muslims


US international affairs journal Foreign Policy says Turkey’s Fethullah Gülen voted top of its list of world intellectuals.


WASHINGTON - The bimonthly US international affairs journal Foreign Policy has just published a survey of the world’s top 20 public intellectuals and the first 10 are all Muslims.

Fethullah Gülen, who heads a network of schools and media that is probably the world’s largest moderate Muslim movement, came first.

Other Muslim religious personalities made the top 10 — weekly preacher on al-Jazeera satellite television Youssef al-Qaradawi (3rd), popular Egyptian television preacher Amr Khaled (6th), Iranian reformist theologian Abdolkarim Soroush (7th), and Swiss-born scholar Tariq Ramadan (8th).

Second was Muhammad Yunus, the Bangladeshi economist who won the 2006 Nobel Peace Prize for the microcredit project run by his Grameen Bank.

Several top-tenners besides Yunus made the list for their secular work.

Orhan Pamuk, the Turkish novelist who won the 2006 Nobel Prize for literature, came in fourth. Next was Aitzaz Ahsan, the Lahore lawyer whose lawyers’ protest movement is possibly the strongest voice of secular civil society in Pakistan. Ninth and tenth places went to Ugandan-born cultural anthropologist Mahmood Mamdani and Shirin Ebadi, the Iranian human rights lawyer who won the 2003 Nobel Peace Prize.

On the top 20 list were activist Noam Chomsky, former Vice President Al Gore, historian Bernard Lewis, Italian novelist Umberto Eco, welfare economist Amartya Sen, Newsweek International editor Fareed Zakaria, and chess grandmaster and a Russian democracy activist Gary Kasparov.

Half a million people visited the foreignpolicy.com site to pick their favorite candidate.

However, after the results, the journal’s editors said they are not convinced that all the intellectuals belong on top.

In their introduction in the July/August issue, the editors wrote: “Rankings are an inherently dangerous business,” as some candidates ran publicity campaigns on their web sites, in interviews or in reports in media friendly to them.

“No one spread the word as effectively as the man who tops the list,” the introduction said.

“In early May, the Top 100 list was mentioned on the front page of Zaman, a Turkish daily newspaper closely aligned with Islamic scholar Fethullah Gülen. Within hours, votes in his favor began to pour in,” the introduction added.

“His supporters—typically educated, upwardly mobile Muslims—were eager to cast ballots,” the journal noted.

Foreign Policy had chosen the 100 candidates, noting that they “were included on our initial list of 100 in large part because of the influence of their ideas."

Foreign Policy also conceded that "part of being a public intellectual is also having a talent for communicating with a wide and diverse public. This skill is certainly an asset for some who find themselves in the list's top ranks."

List of Muslim philosophers

Category: General
Posted by: Raja Petra
SPECIAL FEATURE: ISLAMIC SCIENCE AHEAD OF ITS TIME
Exhibition at the KLCC (Details here)


A Muslim philosopher is a person that professes Islam and engaged in the philosophical aspect of Islamic studies, for example theology or eschatology and other fields of Islamic philosophy.

Abu Bakr, first Sunni Caliph after the prophet
Omar Bin Khattab, second sunni Caliph after the prophet
Othman Bin Affan, third sunni Caliph after the prophet
Ali - 599, fourth Caliph, and first Shii Imam
Ali ibn Abu Talib- 7th century- cousin and son-in law of the Prophet Muhammed(may Allah bless him and give him peace), first shia imam -completely versed in the Quraan by the age of 9-10 and extensively knowledgable in the natural sciences, composer of shia narration- the peak of eloquence
al-Husayn ibn 'Ali third Shi'i Imam and famed martyr at Karbala
Muhammad al Baqir
Jafar Sadiq - 702, Arab, Shia Imam
Musa al Kazim- shia Imam-a religious scholar descendant of the Prophet Muhammed
Ali ar Rida- grandson of the Prophet Muhammed, religious scholar
ibn al-Haitham - (965-1040) a twelver shia-"father of optics"- established the study of the Human eye and refraction if light through lenses
Muhammad Ya'qub Kulainy - 950, Sufficing fundaments (Usul al-Kafi)
Ibn Abbas - 619, Arab
Abdullah ibn Masoud - d. 652
Zayd ibn Thabit - pre-610

Sunni Muslim

Hassan al-Basri - (642 - 728 or 737)
Abu Hanifa an-Nu'man - 699
Ahmad ibn Hanbal - 780, Musnad Ahmad ibn Hanbal
Al-Khwarezmi, Algorism 770 Khwarezm - 840
Malik ibn Anas - 715, Al-Muwatta
Abu 'Abd Allah ash-Shafi'i - 767
Abu Abdullah Muhammad ibn Isma'eel al-Bukhari - 810, Sunni, Persian, Hadith, Sahih Bukhari Most trusted hadith collector in Sunni Islam
Imam Muslim ibn al-Hajjaj - 810, Sahih Muslim, , Persian
Abu Dawud as-Sidjistani, 817 (Basra) - 888, Sunan Abu Dawud, Persian, Hadith compiler
Al-Tirmidhi - 824, Jami at-Tirmidhi
Al-Nasa'i - 829 Hadith collection , Persian
Ibn Majah - 824 Persia Sunan ibn Majah
at-Tabarani - al-Mu'jam al-Kabeer
Ibn Qutaybah - (828-889)
Ibn Hisham - (d. 834)
ibn Jarir at-Tabari - 838, Sunni, Persian, multiple fields, Tarikh al-Tabari/Tafsir al-Tabari
Al-Ghazali - (1058-1111) Persian theologian and philosopher
Fakhr al-Din al-Razi, (1149–1209) Persian
Al-Nawawi - (1233-1278) Sharh Sahih Muslim, Riyadh as-Saaliheen, 40 Hadith Nawawi
ash-Shawkani
Ibn Hajar al-Asqalani - (1372-1449) Muhaddith author of al-Fath al-Baari and Bulugh al-Maram
Al-Qurtubi - d. 1273 Tafsir al-Qurtubi Andalusian
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah - (1292-1350) Za'ad al-Ma'ad
al-Haafidh ibn Kathir - (1301-1373) Tafsir ibn Kathir
Al-Tahawi - (853-933) Egypt Aqeedah at-Tahawiyyah
Sibt ibn al-Jawzi - d. 1257
Ibn Hazm al-Andalusi, Ali ben Ahmed - 994 (Cordoba) – 1064, Andalusian philosopher
Al-Khatib al-Baghdadi - (1001 - 1072)
al-Hafidh ibn Rajab al-Hanbali - (1335-1392) Damascus
Al-Dhahabi - (1274-1348) Talkhis al-Mustadrak
Ibn Qudamah al-Maqdisi - (1147-1223) al-Mughni
Abd ar-Rahman ibn Naasir as-Saa'di - (1889-1956)
Shams-ul-haq Azeemabadi -1857 -1911, India, Author of Awn-ul-Mabood Sharh Sunan Abi Dawood
Hakim al-Nishaburi - 1014, Persian, Mustadrak al-Hakim
Al-Mawardi - 1058, Arab
Ali ibn Tahir al-Sulami - 1106
Ibn Ruschd, Mohammed ben Ahmed - Averroes 1126 - 1198, Sunni Maliki, Spain, multiple fields, The Incoherence of the Incoherence
Ali ibn al-Athir - 1160, The Complete History
Abul Fida Ismail Ibn Hamwi, 1273, Sunni Shafii (?), Syria, multiple fields, Tarikh Abul Fida
Ali ibn Abu Bakr al-Haythami - 13??, Majma al-Zawa'id
Ibn Khaldun - 1332, Historian
M. A. Muqtedar Khan - 1966 Political Philosopher and Western Muslim Intellectual
as-Suyuti - 1471, History of the Caliphs
Abdulhakim Arvasi - 1867
Badiuzzaman Said Nursi - 1877, Kurdish Turkish Islamic Scholar
Yaqub ibn Ishaq al-Kindi - 801, Arab, multiple fields
Ismail Al-Faruqi - 1921, Sunni, Palestina, philosopher
Ahmed Rida Khan- 1856
Muhammad Metwally Al Shaarawy - (1911-1998)
Yusuf al-Qaradawi - 1926
Imam Iskender Ali MIHR - 1933-Current
Al-Sheik Abdulmajeed Al-Zindini (Jammat Al-Iman In Yemen)
Fethullah Gulen - 1938, Turkish, Islamic Scholar
Abdullah Yusuf Azzam - 1941
Nasr Hamid Abu Zaid - 1943,
Khurshid Ahmad - 1932
Syed Abdullah Shah Naqshbandi - 1872-1964 Sunni Muhaddith of Deccan India
Ibn Hajar Al-Haythami - 909 AH Al-Sawa'iq al-Muhriqah
al-Muhadith Muhammad Nassir ad-Deen Al-Albani - (1914-1999)
Muhammad Yusuf Khandlawi - (1917 – 1965) India Sunni
Al-Juwayni - Fara'id al-Simtayn
Prof. Dr. Muhammad Tahir-ul-Qadri[1] (1951) Author of 300 books including Urdu translation of Quran [2]
Rashid Rida - (1865-1935) Syrian
Muhammad Rafi Usmani
Muhammad Taqi Usmani
Tawfique Chowdhury
Anwar Al Awlaki , Yemen
Huseyin Hilmi Isik (1911-2001) - Author of Seadet-i Ebediyye or the Endless Bliss
Omar Khayyám - 1048, Persia
Al-Khwarizmi - 800?, Persia
Amin Ahsan Islahi (1904–1997) - Author of Tadabbur-i-Qur’an
Nizam al-Mulk - (1018 – 1092) Persian Siyasatnama
Sheikh Muhammad Taqiuddin al-Nabhani
Shah waliullah

Shi'a Muslim

Abi Mekhnaf -died in 157 AH, 774 AD - Kufi
Mohammad ibn Ali (ibn-e Babuyeh) or (Shaikh Saduq) 927/928 - (306 -381 A.H.)
al-Sharif al-Radi - 970, compiler of the Peak of Eloquence (Nahj al-Balagha)
al-Sharif al-Murtada
al-Shaykh al-Mufid
Nasir al-Din Tusi - 1201, Shi'a, Persia, multiple fields, Zij-i ilkhani, one of the founders of Trigonometry.
Mulla Sadra - 1571, Shi'a, Persia, philosophy, Transcendent Theosophy, the greatest philosopher Persia has ever produced
Mir Damad - 16?? or 17??, Shia, Persia, philosophy, Taqwim al-Iman, founder of the Isfahan School
Allama Majlesi, 1689, Shia twelver, Iran, Oceans of Light (Bihar ul Anwar)
Avicenna or ibn Sina - 980, Persian, physicians, The Book of Healing, "the father of modern medicine"
Grand Ayatollah al-Shirazi - 1892, Shia twelver, Iran
Allameh Tabatabaei - 1892, Shia twelver, Iran, multiple fields, Tafsir al-Mizan
Allamah Rasheed Turabi 1908 - 1973
Ruhollah Khomeini - 1900, Shia twelver, Iran, the political and spiritual leader of the 1979 Islamic Revolution
Seyyed Hossein Nasr - 1933, Shia twelver, Iran, philosophy, [Shi'a Islam (Book)
Musa al-Sadr - Abducted in 1978
Morteza Motahhari - 1979 Iran
Husain Mohammad Jafri - Shia, Pakistan, The Origins and Early Development of Shi`a Islam
Ahmad ibn A'tham
Ali al-Sistani - Shia twelver, Iran-Iraq
Ahmad Reda
Shaykh Ahmad-i-Ahsa'i - Shia
Sayed Muhsin al-Hakim
Mohammed Baqir al-Hakim
Grand Ayatollah Borujerdi
Mohammad Salih al-Mazandarani - Shahr Usul al-Kafi
Mulla Sadra - Persia
Mughatil ibn Bakri
Muhammad al-Tijani
Hamid Dabashi - Expectation of the Millennium: Shi'ism in History
Ali Khamenei
Ali Shariati
Haji Karim Khan of Kirman [3]
Siyyid Kázim Rashtí
Sayed Muhsin al-Hakim
Mohammad Khatami
Mahmoud Khatami
Professor Abdul Hakeem
Prof.Waheed Akhtar: (1934-1996)

Sufi

Rabi'a al-Adawiya, aka Rabia Basri, 8th century, Basra, Persia [4]
Attar, Persia
Abusaeid Abolkheir, Persia
Junayd Baghdadi
Bayazid Bastami, Persia
Mansur Al-Hallaj, Persia
Abdul Qadir Jilani - Sunni Hanbali
Najmeddin Kubra, Persia
Dhu Nun al-Masri, 9th century, Nubia, Egypt
Jalal al-Din Muhammad Rumi - 1207, Persia, founder of the order of the derwishes
Al-Sakhawi, 831— 902
Nasreddin - 10?? -13??, Persia
Saadi - Persia
Al-Farabi - 870, Persian, multiple fields, Kitab al-Musiqa, one of the greatest scientists and philosophers of his time
Jami - 1414, Persian, multiple fields, Diwanha-i Sehganeh, the greatest Persian poet in the 15th century
Syed Muhammad Naquib al-Attas
Muhammad Ilyas - 1885
Justice Shaykh Muhammad Karam Shah al-Azhari - 1918-1998, Bhera, Pakistan
Shaykh Muhammad Imdad Hussain Pirzada
Shaykh Faiz-ul-Aqtab Siddiqi England
Hazrat Mujadid Abdul Wahab Siddiqi(1942-1994)England

Mutazilite

Wasil ibn Ata - 700, founder of the Mutazilite school of Islamic thought (Arab theology)
Abd al-Jabbar of Baghdad and Rayy ,325 AH/935 CE - 415 AH/1025 CE
Abu’l Husayn al-Basri died 478 AH/1085 CE, disciple then opponent of al-Jabbar, set out qualifications for a muslim scholar
Ibn Abu al-Hadid -Peak of Eloquence with comments
Zamakhshari - 1074, Persian
Masudi
Al-Jahiz - 776, Arab
Al-Jubba'i - 9??, Persian

Denomination Unknown

Mohammad Ibn Abd-al-Haq Ibn Sab’in, Spain
A. E. Souaiaia , University of Iowa , USA
Muhammad Iqbal, Pakistan
Javed Ahmed Ghamidi (1951—) - Author of Mizan

Men that converted to Islam

Roger Garaudy
Jeffrey Lang
Hamza Yusuf
Sherman Jackson
Yahya Michot
Marmaduke Pickthall -1875, England, The meaning of the Holy Qur'an
Michael Wolfe
Nuh Keller
Frithjof Schuon
Timothy Winter
Bilal Philips
Yusuf Estes
Ali Ibrahim Kalyanaraman
Zaid Shakir - American
Thomas McElwain
Gary Miller (Abdul-Ahad Omar) - Former Christian Missionary who embraced Islam
Abdul Ahad Davud
Muhammad Asad (Leopold Weiss born in July 1900 in the city of Lviv, now in Ukraine, died 1992) was a Jew who converted to Islam.
Martin Lings

Muslim philosophers of modern times

Seyyed Hossein Nasr
Morteza Motahhari
Ruhollah Khomeini
Musa al-Sadr

Controversial

This is a list of scholars of present and past that are not recognized as Muslims by the mainstream but profess to be Muslims as part of groups and small sects that deviate from the mainstream.

Ibn al-Rawandi
Abd-Allah ibn Ibadh
Asra Q. Nomani
Elijah Muhammad
Rashad Khalifa - proclaimed himself to be the Messenger of the Covenant of 3:81
Mirza Ghulam Ahmad 1835-1908 - proclaimed to be the Promised Reformer (Mahdi) and the Messiah

Orientalists/Non-Muslims

George Sale - 1697
Charles Mills - 1788, England
William Muir - 1819, England
Ignaz Goldziher - 1850, Hungarian
David Samuel Margoliouth - 1858, England, Mohammed and the Rise of Islam
Henri Lammens - 1862, French, Islam: Beliefs and Institutions
Philip Khuri Hitti - 1886, Lebanon
Maxime Rodinson - 1915, French
Leone Caetani - 1869, Italian, Annali dell' Islam
Wilferd Madelung - 1930, Germany, The Succession to Muhammad, Shia point of view
Okawa Shumei - 1886, Japanese
Karen Armstrong - 1944, England, Muhammad: a Biography of the Prophet
William Chittick - United States, Sufi point of view
Cornell Fleischer - United States, Kanuni Suleyman Professor of Ottoman and Modern Turkish Studies
Geraldine de Gaury - Rulers of Mecca
Betty Kelen - Muhammad, The Messenger of God
Francis E. Peters - Muhammad and the Origins of Islam
William Montgomery Watt
Báb - proclaimed prophethood, started a new religion and stated he abrogated Islam
Elijah Muhammad - Started the Nation of Islam movement and proclaimed prophethood
Fred M. Donner
Alfred Guillaume
Arthur John Arberry
Ehsan Yarshater (Bahá'í, with Iranian-Jewish family background)
Dr. Ian K. A. Howard
John L. Esposito - 1940, Editor-in-chief of The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World
Louis Massignon (1883–1962), French scholar of Islam
Margaret Smith, author of Rabi'a the Mystic and her Fellow-Saints in Islam, 1928
John Woods, - United States Professor of Iranian and Central Asian History, and of Near Eastern Languages and Civilizations
Malika Zeghal, author and professor of the anthropology and sociology of Islam
Category: General
Posted by: Raja Petra
SPECIAL FEATURE: ISLAMIC SCIENCE AHEAD OF ITS TIME
Exhibition at the KLCC (Details here)


The historians of the formative period

First class: 700-750

Urwah ibn Zubayr (died in 712 CE)
Al-Zuhri (died in 742 CE)

Second class: 750-800

Ibn Ishaq(d. 761) - Known for Sirat Rasul Allah or The Life of the Apostle of God
Abi Mikhnaf (d. 157 AH - 774 CE) - Known for Maqtal Al-Husayn
Sayf ibn Umar (d. 796)

Third class: 800-860

Al-Haysam ibn Adi (d. 882)
Al-Waqidi (d. 207 A.H./823CE) - Noted for Kitab Al Tarikh wa Al Maghazi (Book of History and Battles).
Al-Madaini (d. 830-850)
Ibn Hisham (d. 835)
Ibn Sa'd (d. 845)
Khalifa ibn Khayyat (d. 854)

Fourth class: 860-900

Umar ibn Shabba (d. 878)
Dinwari (d. 891) - - Known for Akbar Altewal
Baladhuri (d. 892)

Fifth class: 900-950

Ya'qubi (d. 900) - He wrote Tarikh al-Yaqubi
Muhammad ibn Jarir al-Tabari(838CE - 923CE) - He wrote a history work on Prophets and Kings.
Ibn A'tham (d. 314/926-27) - He wrote Alfutuh (Robinson hasn't mentioned his name.)

The historians of the classical period

Iraq and Iran

Mas'udi (d. 955)
Sabit ibn Sinan Al-Sabi (d. 976)
Ibn Miskawayh (d. 1030)
Al-Utbi (d. 1036)
Hilal ibn Al-Muhassin Al-Sabi (d. 1055)
Al-Khatib Al-Baqdadi (d. 1071)
Beyhaqi (995-1077) He wrote Tarikh-e Mas'oudi ("Masoudian History", also known as "Tarikh-e Beyhaghi").
Abu Ishaq Al-Shirazi (d. 1083)
Ibn Al-Imrani (d. 1184)
Abu-al-Faraj ibn Al-Jawzi (d. 1201)
Ibn Al-Sa'i (d. 1276)
Ibn Al-Fuwati (d. 1323)

Andalus, Maghreb, Egypt and Syria

Al-Musabbihi (d. 1030)
Ibn Hazm (d. 1063)
Ibn Abd Al-Barr (d. 1071)
Al-Qadi Iyad (d.1149)
Ibn Al-Qalanisi (d. 1160)
Ibn Asaqir (d. 1176)
Imad Al-Din Al-Isfahani (d. 1201)
Ali ibn al-Athir(1160 - 1231) - He wrote Al-Kamil fi al-Tarikh
Baha Al-Din ibn Shaddad (d. 1235)
Al-Kalabi (d.1237)
Sibt ibn al-Jawzi (d. 1256)
Ibn Al-Adim (d. 1262)
Abu Shama (d. 1267)
Ibn Khallikan (d. 1282)
Ibn Abd Al-Zahir (d. 1292)
Baybars Al-Mansuri (d. 1325)
Abu Al-Fida (d. 1331)
Al-Nuwayri (d. 1332)
Al-Mizzi (d. 1341)
Al-Dhahabi (d. 1348)
Ibn Al-dawadari
Al-Safadi (d. 1363)
Ibn Kathir (d. 1373)
Ibn Al-Furat (d. 1405)
Ibn Khaldun (May 27, 1332/A.H. 732 to March 19, 1406/A.H. 808) - He wrote Muqaddimah and Al-Ebar
Al-Maqrizi (d. 1442)
Ibn Hajr Al-Asqalani (d. 1449)
Al-Ayni (d. 1451)
Al-Saqhawi (d. 1497)
Al-Suyuti (d. 1505)

Wednesday, June 11, 2008

HOW TO LET OFF GUILT AND LEARN TO FORGIVE



"It is part of the Mercy of Allah that you deal gently with them. Were you severe or harsh-hearted, they would have gone away from you: so pass over (their faults), and ask for (Allah's) forgiveness for them; and consult them in the affairs (of the moment). Then, when you have taken a decision, place your trust in Allah. For Allah loves those who place their trust(in
Him).}AL QURAN:3:159

[Lessons from this verse] It is not the snake bite that kills, it's the venom that flows through the blood. The antidote is forgiving people. Don't let anger rent space in your mind and heart. Forgive and pass over people's faults.

"Strength of character means the ability to overcome resentment against others, to hide hurt feelings, and to forgive quickly."

"To love means loving the unlovable. To forgive means pardoning the unpardonable. Faith means believing the unbelievable. Hope means hoping when everything seems hopeless."

"To forgive is to set a prisoner free and discover that the prisoner was you."

"Do everything. Love as much as you can. it may hurt but it helps us grow. Give all you have...you may be poor but you will be content. Always forgive....your heart can not afford not to. Teach what you know and learn what you don't. Stay open to all"

"Before you speak, listen.

Before you write, think.

Before you spend, earn.

Before you invest, investigate.

Before you criticize, wait.

Before you pray, forgive.

Before you quit, try.

Before you retire, save.

Before you die, give."

"Do more than belong: participate. Do more than care: help. Do more than believe: practice. Do more than be fair: be kind. Do more than forgive: forget. Do more than dream: work."

A kindergarten teacher decided to let her class play a game. The teacher told each child in the class to bring along a plastic bag containing a few potatoes. Each potato will be given a name of a
person that the child hates, so the number of potatoes that a child will put in his/her plastic bag will depend on the number of people he/she hates.

So when the day came, every child brought some potatoes with the name of the people he/she hated. Some had 2 potatoes; some 3 while some up to 5 potatoes. The teacher then told the children to carry with them the potatoes in the plastic bag wherever they go for 1 week.

Days after days passed by, and the children started to complain due to the unpleasant smell let out by the rotten potatoes. Besides, those having 5 potatoes also had to carry heavier bags.

After 1 week, the children were relieved because the game had finally ended. The teacher asked: "How did you feel while carrying the potatoes with you for 1 week?" The children let out their
frustrations and started complaining of the trouble that they had to go through having to carry the heavy and smelly potatoes wherever they go.

Then the teacher told them the hidden meaning behind the game.

The teacher said: "This is exactly the situation when you carry your hatred for somebody inside your heart. The stench of hatred will contaminate your heart and you will carry it with you wherever you go. If you cannot tolerate the smell of rotten potatoes for just 1 week, can you imagine what is it like to have the stench of hatred in your heart for your lifetime???"

Moral:

Throw away any hatred for anyone from your heart so that you will not carry sins for a life time. Forgiving others is the best attitude to take! Forget & Forgive!!!

WE HAVE ALL DONE THINGS THAT WE ARE NOT PROUD OF. Perhaps we were not there for a friend when they needed us, or we may have been responsible for unhappiness in our family. These sorts of past actions can leave us feeling ashamed and guilty, and we can end up
carrying our guilt for years.

Guilt is probably one of the most debilitating and negative emotions there is – one that can, and often does, destroy a person's life. But if we want to live happy lives, we need to deal with the consequences of our past actions and move on, rather than allowing our lives to be wracked with guilt.

Feeling guilty should not be confused with taking responsibility for our past. Responsibility means "the ability to respond", and therefore taking responsibility means that we actively address the consequences of our actions in whatever way we can, in particular by changing our behavior patterns. Taking responsibility also includes moving on by making peace with the past.

Unlike taking responsibility, which is redeeming and positive, guilt has absolutely no value. Guilt does not encourage us to change in positive ways but debilitates us, leaving us unable to take the
action we need to bring about change.

Breaking out of the guilt cycle

As a behavior pattern, guilt often becomes a self-perpetuating cycle:
we do something, we feel guilty about it, we punish ourselves and, because we feel bad, we end up repeating our behavior at the next available opportunity.

This debilitating cycle continues largely because we do not take full responsibility for our actions or for changing our behavior. So how do we start the process of taking responsibility? By considering, with complete honesty, the part we play in any situation and by accepting our role in creating the events.

The purpose of this self-examination is to evaluate truthfully whatever occurred so that we can learn how we contributed. Through learning and honest self-assessment, we change our thinking and behavior. We can also forgive ourselves and move on with experience and wisdom.

Real forgiveness

In this process, forgiveness is vital. However, forgiveness is not what we generally believe it to be.

Real forgiveness has nothing to do with feeling of "sorry or apologizing" – neither of which actually changes anything. True forgiveness is contained in its literal meaning. The word "forgive" is very old, and the prefix "for" means literally "to reject." So the word as a whole means "to reject the giving".

We need "to reject the giving" because, if we think we have wronged someone, we use our sense of guilt to "give" to that person. By giving, we hope to make it better, and to exonerate ourselves from our actions. Conversely, if we feel that someone has wronged us, we will continue to demand payment for that offense, and thus want the other person to "give" to us.

But giving from a sense of guilt can never lead us to forgiveness. Neither can forgiveness be bestowed by another; it has to be brought about by ourselves. In the end, unless we can reject all this giving and truly forgive ourselves, we can never really move on and be free of the past.

How does forgiveness work in practice? Say that you have had a history of being abusive towards others, but have started to take responsibility for your past by changing your behavior. The reality is that you can still have unresolved feelings about what you have done. The process of forgiveness enables you to resolve these unresolved feelings so that you can move on.

It is important to remember that feeling bad about the past never really allows us to move on. What's more, if we indulge in feeling bad, this implies that we view our past as meaningless and of no value. What a waste! For, if we have caused harm, surely we should try to learn from our actions rather than living with a heap of regrets?

Forgiving ourselves involves finding value in our experiences. Instead of just writing off an experience as a painful episode, and trying to forget it, we should look for the value in that experience and try to take out of the experience whatever we can learn.

Toltecs look upon life as a journey of learning, and say that all true learning or knowledge is experiential. Because we are stubborn and tend to avoid change, much of our learning does come about through painful experiences. However, if we wish to grow and to use our experiences as a learning curve, it is vital that we focus on what we have learned, rather than the pain.

By searching for learning and value from our past, we ensure that there is no more need to give or demand payment - we can, indeed, "reject the giving" and so forgive.

To take meaning and value out of any situation, simply ask, "What has this taught me? What lessons can I learn: about myself, about others and about my life? How can I use this new knowledge to change my thinking and behavior and help others avoid the same trap?"

In this light our past, instead of being meaningless and shameful, has a positive and life-enhancing value. By learning to handle our past, and by taking the steps to forgive ourselves in the true sense of the word, we can let go of the debilitating consequences of guilt,
and finally move on.

"Say: 'O my servants who have transgressed against their souls! Despair not of the Mercy of Allah: for Allah forgives all sins for He is Oft-Forgiving, Most Merciful." Surah Al-Zumar, chapter 39 verse 53-55

Sunday, June 08, 2008

Kaitan Planet Nibiru dengan Kiamat

Web Tranungkite memuatkan artikel dari blog kerenahdunia.blogspot ( tercantum di bawah) yang memaparkan teori kewujudan Planet Nibiru dan peredarannya yang mungkin boleh menjadi salah satu 'cara' Kiamat itu akan berlaku. Mengikut perkiraan para astronomer yang mempercayai kewujudan planet ini selepas mengamati pattern pergerakannya, diramalkan ia akan menimbulkan kecelaruan peredaran dan putaran planet lain dalam dan berdekatan dengan haluannya. Paling awal diramalkan akan memberi impak kepada bumi pada 21 Disember 2012 dan ada juga ramalan ia bertembung dengan bumi pada tahun 2053.

Sudah tentu bagi mereka yang kekurang masa atau malas hendak memperdalami lebih jauh lagi tentang isu ini, mereka akan menerima sahaja semua teori ini dalam satu shot pembacaan sahaja. Lebih ironis lagi ia akan diterima sebagai satu kebenaran yang tak perlu dipertikaikan lagi.

Untunglah kalau ia mendorong mereka untuk memperbanyakkan ibadah sementara menunggu 'kiamat' yang mereka sangka bakal tiba dalam jangka hayat mereka. Mereka sudah tentu akan memperbanyakkan taubat , amal soleh dan berbuat apa sahaja yang boleh menebus kesalahan masa lalu. Dunia akan lebih selamat didiami dengan ramainya orang-orang yang hendak kembali di jalan Tuhan.

Namun tidak sedikit pula mereka yang sukar menerima kenyataan bahawa hidup mereka terlalu singkat untuk dinikmati. Tak kurang yang akan menyesali takdir Tuhan yang memberi mereka peluang terlalu sedikit untuk merasakan nikmat dunia. Maklumlah selama ini bila kita ingatkan mereka akan janji Tuhan di akhirat yang lebih kekal, mereka tak percaya. Jadi rasa sayang dunia pun bertambah-tambah. Apa lagi ? Sementara belum kiamat, lajaklah habis-habis. Jangan ada lagi keseronokan dunia yang tak dirasa. Lantaklah dosa ke ... yang penting lazat.

aya dapati penulisan kerenahdunia amagt mirip isi dan gambar-gambarnya dengan satu tulisan blogger Indonesia awan965.wordpress.com .

Dari carian ke beberapa laman lain seperti www.squidoo.com/nibiru, www.maya12-21-2012.com, www.apollonius.net dan lain-lainnya, saya dapati pendapat awal tentang kewujudan Planet Nibiru ini sangat kuat berakar dengan kepercayaan suku Maya di Amerika Selatan. Sumber lain yang menjadi rujukan adalah catatan sejarah bangsa Sumeria. Tidak sedikit juga mereka yang menganggap teori sebagai andaian yang kecil kemungkinan akan menjadi satu kenyataan. Buat sahaja carian dengan keyword 'hoax' & 'nibiru' pada mana-mana search engine, anda akan jumpa berlambak-lambak bidasan demi bidasan menidakkan kemungkin hari Kiamat berasaskan fenomena Nibiru. Memang sejak 2003 lagi sudah ditemukan kewujudan Planet X ini, tapi ramai juga yang menafikan Planet Nibiru adalah planet X yang dimaksudkan.

Apa-apa pun sebagai muslim, dalam hal berkaitan Kiamat ni, kita tak dapat lepas daripada merujuk kepada pemberitaan (naba') dari Allah melalui Kitab-Nya dan lisan Rasul-Nya s.a.w. Sabahagiannya telah dipetik oleh penulis blog kerenahdunia.blogspot.com. Pada dasarnya bila Kiamat akan berlaku, Rasulullah s.a.w. pun tidak mengetahuinya ( Surah an-Nazi'at). Namun jika kita tidak dibiarkan teraba-raba kosong melainkan diberi clue kepada kita untuk mengetahui tanda-tanda yang kita patus waspadai menjelang kedatang Kiamat itu. Tanda-tanda tu sudah lama ada. Tinggal nak menunggu tanda-tanda besar sahaja lagi.

Tapi kiamat terdekat yang pasti berlaku pada kita adalah kiamat kecil iaitu kematian yang pasti akan datang kepada kita. Jadi , lama atau dekatnya Kiamat besar ni berlaku, sepatutnya tidak mengurangkan persediaan kita untuk menghadapi kiamat kecil yang bila-bila masa sahaja akan tiba.

Maka berbuatlah untuk dunia seolah-oleh kita akan hidup selama-lamanya dan jangan lupa berbuat untuk akhirat seolah akan mati esok hari.

PETIKAN ARTIKEL TENTANG NIBIRU

07 June 2008

NIBIRU: ANCAMAN DARI ANGKASA LEPAS?

Allah SWT telah menciptakan banyak bintang di alam semesta dalam kuantiti yang tidak terbilang selagi dikehendakiNya. Dari pandangan sains astronomi, gugusan bintang ini diberi nama galaksi nama 'galaksi'. Terdapat banyak galaksi yang hanya ALLAH saja yang tahu jumlah sebenarnya. Salah satu daripadanya adalah galaksi di mana bumi kita berada di dalamnya yang diberi nama 'bima sakti'.Dengan kuasa ALLAH diciptakanNya pula objek langit dan planet berputar mengelilingi matahari mengikut orbit yang tersusun. Kumpulan planet yang bergerak mengelilingi matahari, diberi nama pula Sistem Suria (Solar System). Begitu pula dengan galaksi lain yang memiliki pusatnya sendiri. Putaran planet terhadap pusat galaksi secara tersusun ini kemudian diistilahkan sebagai 'orbit'.Pakar-pakar astronomi menyatakan kini sudah banyak planet yang berputar secara berbalik arah, jika di planet bumi kita ini matahari masih terbit dari arah timur, maka beberapa tahun ini terdapat fenomena baru yang di dalam pemantauan ahli astronomi ini planet lain sudah mulai berbalik arah dan matahari terbit dari arah barat. Dari sisi ilmiah, inilah pertanda akhir zaman mendekati kiamat, sebagaimana petunjuk dari Nabi junjungan kita, Muhammad SAW. Dalam kekalutan memantau berterusan pergerakan planet-planet yang telah berlawan arah ini, mereka menemui satu planet baru yang di beri nama Planet Nibiru (ada yang panggil Planet X.

















Gambar Atas: Orbit Nibiru (garisan merah) yang berbeza dengan planet lain

Nibiru ini ditarik oleh daya graviti matahari yang besar dalam sistem suria kita, sehingga kemudian ia masuk ke dalam orbit planet-planet dalam keadaan berlawanan arah, dan suatu masa nanti Nibiru akan bertembung dengan bumi. Para sainstis meramalkan 50 tahun lagi Nibiru ini akan memasuki orbit sistem suria kita, sejak ia ditemui pada tahun 2003. Dengan kata lain, kehancuran bumi bakal terjadi pada tahun 2053? Ada laman web yang menyatakan pertembungan ini berlaku pada 2012. Dari segi sains, pembolehubah-pembolehubah yang terlibat adalah dinamik dan boleh berubah ubah. Atau adakah ini adalah kiamat yang disebut dalam Al-Quran? ALLAH Maha Berkuasa atas segala-galanya.

Lintasan Planet Nibiru ke dalam sistem suria dikatakan bakal memberikan impak yang dahsyat di bumi. Gempa-gempa bumi terkuat dalam sejarah manusia moden akan terjadi ketika ini. Setelah bumi bergerak sejajar dengan medan magnet Nibiru, gempa bumi berskala lebih 9 skala Richter akan berlaku dan akan dirasai banyak tempat di dunia. Ketulan ais di kutub akan terbelah dan mencair, meningkatkan aras air laut sehingga menenggelamkan banyak tempat di dunia. Gelombang tsunami raksasa juga dijangkakan akan berlaku pada masa tersebut.

Gangguan elektromagnetik yang berlaku di planet-planet lain dalam sistem suria ketika ini juga dipercayai disebabkan oleh graviti Nibiru. Perubahan cuaca yang agak ekstrem ini juga dipercayai berpunca daripada ketidakstabilan gelombang elektromagnetik bumi akibat pengaruh Nibiru. Namun, kita sebagai rakyat Malaysia yang masih mentah dalam astronomi tidak mengetahui dan tidak didedahkan dengan pengetahuan tersebut. Walaupun, kita sudah ada angkasawan, namun, kita masih terlalu muda untuk melibatkan diri dalam sains angkasa lepas. Kita hanya disuapkan dengan fenomena pemanasan global dan perubahan cuaca dunia yang disebabkan oleh aktiviti manusia sendiri. Walhal, pengaruh luar bumi juga turut menyumbang kepada fenomena ini.

Kestabilan medan magnet bumi yang dipengaruhi oleh matahari akan terganggu oleh lintasan Nibiru. Pergerakannya memasuki sistem suria menyebabkan suhu teras bumi meningkat secara mendadak akibat adanya pertambahan gerakan berputar di dalamnya. Ketika teras bumi cuba mencapai keseimbangan bagi perubahan mendadak dalam sistem suria, keadaan ini akan menghasilkan kesan sampingan yang teruk antaranya perubahan cuaca yang tidak stabil dan meningkatnya aktiviti gunung berapi seperti yang berlaku sekarang.

Peningkatan suhu teras bumi mengakibatkan peningkatan berkala pada aktiviti seismik dan gunung berapi. Gempa bumi pun sering terjadi. Daerah pegunungan diancam bahaya lahar. Kepanasan dari teras bumi bumi diserap oleh mantel dan akhirnya kerak bumi mengakibatkan peningkatan suhu dasar laut. Air laut yang semakin panas akan merubah pola arusnya, taburan hujan berubah dan pola-pola meteorologi terganggu.

Adakah keadaan ini membawa kepada kejadian kiamat? Allah SWT telah berfirman banyak kali dalam Al Quran yang menjelaskan betapa dahsyatnya kiamat. Seperti di dala Surah Al-Waqiah ayat 1 hingga 6 yang bermaksud:

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang berterbangan

Jika benar pertembungan ini yang memulakan kiamat, maka itu ALLAH SWT jualah yang menghendakinya.

Dan jika makluman ahli sains angkasa itu salah, maka hendaklah kita jadikan renungan dan iktibar. Marilah kita muhasabah diri kita. Kita diminta oleh Rasullullah SAW untuk membaca, memelihara dan menyebarkan Al Quran. Perkara kiamat adalah ketentuan Allah yang mutlak dan pasti akan berlaku. Yang penting bagi kita adalah bersedia untuk menghadap ALLAH. Adakah kita telah bersedia?